Jangan Salahkan Kodok (Artikel Tentang Guru)
Posted on Rabu, 20 November 2013 and filed under guru , Kiriman Anda , Pendidikan . You can follow any responses to this entry through theRSS 2.0 . You can leave a response or trackback to this entry from your site
Kabarlamongan.com : Lamongan - Muhammad Fauzil Adhim, seorang penulis buku-buku parenting dan trainer pendidikan, menulis sebuah buku tipis yang bagus yang berjudul Salahnya Kodok. Dalam buku tersebut penulis memotret kehidupan anak-anak Indonesia yang sejak kecil secara tidak sadar dilatih untuk menyalahkan orang lain. Jika sang anak jatuh maka si ibu mengatakan bahwa yang membuat jatuh adalah kodok. Alih-alih si ibu menjelaskan mengapa sang anak jatuh tetapi kodok yang tidak berdosa menjadi sasaran penimpaan kesalahan. Seberapa sering anak jatuh ucapan si ibu terekam kuat dalam otaknya dan membentuk dalam ucapan dan tindakannya kelak bila ia menginjak remaja hingga dewasa bahkan sampai lanjut usia.
Jadilah sebuah potret kehidupan sehari-hari yang terpapar secara jelas dan nyata. Seorang pengusaha yang mengalami kerugian besar menyalahkan pegawainya yang dianggap tidak becus bekerja. Seorang pejabat menyalahkan para stafnya jika ia terbukti melakukan penyalahgunaan wewenang. Seorang ayah atau ibu menyalahkan anaknya jika tidak memenuhi harapannya atau memenuhi keinginannya. Pada skala yang lebih luas, dengan adanya reformasi informasi, sering terjadi rakyat menyalahkan pemerintah. Sebaliknya pemerintah juga menyalahkan rakyat karena dianggap kurang tanggap terhadap kebijakan pemerintah.
Begitulah, kita seolah memasuki labirin kehidupan yang tidak berujung dan berpangkal. Budaya menyalahkan orang atau pihak lain menjadi menu sehari-hari dalam perbincangan dan tingkah laku. Kebenaran menjadi barang yang langka dan buram karena hampir semua merasa benar sendiri. Pertanggungjawaban hanya menjadi catatan tertulis tanpa diimbangi dengan bukti yang nyata dan meyakinkan. Pengakuan bahwa secara pribadi memiliki kesalahan sering hanya sekadar basa-basi karena dalam realitasnya pengulangan kesalahan terjadi kembali.
Kebiasaan sebagian besar masyarakat kita yang demikian secara tajam dikritik oleh almarhum Mochtar Lubis dalam bukunya Manusia Indonesia. Dalam buku tersebut sang penulis menyebut manusia Indonesia sebagai hipokrit atau munafik, yaitu antara ucapan dan tindakan tidak ada kesesuaian. Bila hipokrit dapat dianggap sebagai virus, maka ia tidak kalah berbahayanya dengan virus flu burung atau flu babi. 1
Maka lampu merah harus dinyalakan agar penyebaran virus tersebut dapat dihentikan. Dalam tulisan ini saya akan mencoba mengintrospeksi diri berkaitan dengan budaya salah kaprah tersebut. Jika seorang guru sudah terjangkiti penyakit tersebut siapa lagi yang berjuang di garis depan untuk memberantas penyakit yang membahayakan tersebut. Seorang guru pun tidak luput dari kebiasaan menyalahkan orang atau pihak lain. Catatan kecil ini mudah-mudahan bermanfaat bagi saya secara pribadi dan teman-teman sejawat.
Guru Bisa Salah
Dalam seminar yang diadakan LP Maarif Cabang Lamongan pada tanggal 5 Agustus 2009 yang lalu, seorang pembicara yang menarik perhatian saya adalah DR. Agus Zainal Arifin, dosen ITS Surabaya. Ketika seorang penanya mempertanyakan fasilitas minim yang dimiliki sekolah sedangkan guru dituntut memberikan pembelajaran yang berkualitas, DR. Agus Zainal memberikan pernyataan agar seorang guru tidak mudah terjebak untuk sering menyalahkan orang atau pihak lain sebagai penyebab kegagalan dalam kesuksesan kegiatan belajar-mengajar.
Pernyataan itu serasa menyentil telinga saya dan seketika menyadarkan karena saya pun termasuk orang yang ceriwis menanggapi sesuatu yang bisa dikategorikan menyalahkan. Sasaran tembak saya, mudah-mudahan teman sejawat tidak ikut-ikutan, adalah pemerintah. Sudah hampir 20 tahun saya menjadi guru swasta namun secara finansial gaji saya tidak lebih besar daripada buruh pabrik, misalnya. Sebaliknya pemerintah setiap tahun menaikkan gaji guru-guru PNS. Padahal dalam setiap kesempatan para pejabat pendidikan selalu menyuarakan uapaya penyetaraan guru negeri dan swasta secara finansial. Manis yang engkau ucapkan, pahit yang aku rasakan, sepenggal syair lagu yang diciptakan Rhoma Irama, sering mendengung memekakkan telinga.
Sasaran yang kedua, mudah-mudahan teman tunggal guru tidak ikut berpartisipasi, adalah berubah-ubahnya kurikulum. Yang menjadi masalah bukanlah perubahan kurikulum itu karena tuntutan zaman memang menghendaki demikian. Yang menjadi soal adalah selalu dalam perubahan kurikulum itu disertai beban administrasi yang terkadang membingungkan. Pada akhirnya sang guru hanya disibukkan oleh urusan administrasi yang melelahkan, sedangkan upaya peningkatan kualitas pendidikan dan pembelajaran sering terabaikan. Untuk menyiasatinya timbullah budaya baru yang disebut copy-paste karena terbentur waktu yang tidak cukup untuk peningkatan diri.
2
Sasaran panah sebagai biang kesalahan berikutnya, mudah-mudahan rekan guru tidak ikut ambil bagian, adalah kepala sekolah. Sebagai pihak yang paling bertanggung jawab atas maju mundurnya sekolah, sering terjadi benturan pendapat yang berujung pada ketidakharmonisan hubungan antara guru dan kepala sekolah. Sejauh ini saya memang terkadang berbeda pendapat dengan kepala sekolah. Tetapi dalam hubungan kemanusiaan tetap terjalin erat. Namun saya sering mendengar cerita dari teman-teman guru yang lain bahwa ia sudah tidak bisa dan tidak mau bekerja sama dengan kepala sekolahnya. Ia menyalahkan kepala sekolahnya dan menganggap sudah lamban dan tidak mampu mengikuti perkembangan zaman.
Selanjutnya yang menjadi bahan penimpaan kesalahan, sekali lagi mudah-mudahan sahabat guru tidak ikut urun rembug, adalah sesama guru sendiri. Akibatnya adalah timbulnya kelompok-kelompok dalam korps dewan guru. Ada kelompok pembangkang, pembebek, dan cuekis. Padahal seharusnya dewan guru bertindak sebagai pasukan yang kompak dan tidak saling bersikutan untuk menyukseskan pendidikan dan pembelajaran yang bermutu. Penimpaan kesalahan terhadap sesama guru bisa jadi karena berbeda ormas, misalnya, atau dianggap sebagai penghambat karirnya. Kesenjangan sosial pun dapat juga menjadi penyebab retaknya hubungan dewan guru.
Berikutnya, yang menjadi tudingan pembuat kesalahan, sekali dan sekali lagi mudah-mudahan kawan guru tidak anut grubyuk, adalah orang tua dan siswa itu sendiri. Orang tua dianggap sebagai penghambat kemajuan karena sebagian besar tidak mau memperhatikan perkembangan putra/putrinya. Sering terjadi orang tua hanya pasrah bongkokan kepada para guru tanpa diimbangi dengan perhatian yang penuh. Malah yang lebih menyakitkan, bila siswa memiliki prestasi orang tua menganggap itu bukan keberhasilan para guru. Sebaliknya bila siswa melakukan pelanggaran dan non-prestasi orang tua menganggap para guru tidak sanggup memberikan pendidikan dan pembelajaran yang baik.
Setali tiga uang dengan orang tua, para siswa pun dianggap memiliki andil kesalahan karena tidak mampu mengikuti alur pemikiran sang guru. Seringkali hasil belajar yang diharapkan guru tidak sesuai dengan kenyataan. Sang guru sudah merasa bersusah payah mendidik dan mengajar tetapi hasilnya tidak sepadan. Yang terjadi kemudian adalah guru menganggap upayanya sia-sia dan merasa percuma. Hingga suatu ketika semangatnya meluruh seperti daun-daun kering jatuh di musim kemarau. Ia kembali ke habitat asal, ceramah dan terus ceramah, kreatifitas melayang sudah. 3
Begitulah, seperti secuil syair lagu yang didendangakan Seriously, rocker juga manusia, guru juga manusia, bisa salah dan alpa. Dalam bagian berikut saya perlu melakukan pembacaan kembali bagaimana seharusnya menjadi guru ideal. Hal ini saya perlukan agar tidak terjerumus untuk kedua kali. Saya yakin teman-teman guru sudah melakukannya, biar saya terlambat, asal berbuat!
Guru Ideal
Menjadi guru ideal bukanlah hal mudah karena dalam jiwa dan raganya melekat sifat-sifat insan kamil (manusia sempurna) sebagaimana dicontohkan Rasulullah SAW. Dalam konsep menjadi guru ideal yang saya ambil adalah dari ajaran agama Islam. Ada beberapa sifat yang seharusnya melekat dalam pribadi guru ideal sebagaimana diuraikan oleh Ir. H. Soehadi Djami'in dalam bukunya Perjuangan Membangun Citra Sekolah Islam.
Pertama, sebagai sosok yang menjadi contoh bagi para siswa seorang guru harus bertaqwa kepada Allah. Dari segi akhlaq dia harus memiliki tingkah laku yang baik. Integritas tinggi kepada profesi dan pendidikan menjadi pegangan keseharian. Amal ibadahnya dilakukan secara istiqomah disertai wawasan Islam yang baik dan luas. Pada dirinya juga tertanam kuat niat sebagai da'i (pendakwah) sehingga kemampuan baca-tulis Al-Qur'an pun dimilikinya.
Kedua, seorang guru ideal mempunyai kelayakan akademis (kredibelitas) yang terdiri atas: (1) menguasai materi, (2) terampil membuat rencana pembelajaran, (3) terampil menggunakan multi media dan metode, (4) terampil mengelola kelas, (5) memiliki improvisasi dan pengembangan materi, (6) terampil mengevaluasi, (7) mampu menyampaikan materi, (8) tampil percaya diri, (9) kreatif, dan (10) terampil membuat laporan.
Ketiga, mengutip pendapat Al-Mawardi, seorang ulama Islam, seorang guru ideal harus memiliki sikap tawadhu' (rendah hati) dan menjauhi sikap ujub (besar kepala, sombong). Guru yang rendah hati akan mendapat simpati sedangkan guru yang besar kepala akan menjadi kurang disenangi bahkan mungkin dibenci.
Keempat, seorang guru ideal adalah guru yang memiliki sikap ikhlas, artinya membersihkan hati dari segala dorongan yang dapat mengotori niat mulianya. Keikhlasan berkait erat dengan motivasi. Guru ideal yang ikhlas sudah pasti motivasinya karena Allah semata, bukan karena dorongan nafsu semata atau mengharap status dan penghormatan.
Kelima, seorang guru ideal yakni guru yang mencintai tugasnya. Panggilan jiwanya mengarahkan diri dan jiwanya selalu berbakti kepada Allah SWT. Di atas berbagai hal tersebut, pada akhirnya seorang guru ideal hanya mencari ridha Allah bukan sekadar mengharapkan balasan berupa materi atau kehormatan semu.
Demikianlah, seorang guru ideal adalah guru yang sibuk mengurus dirinya sendiri agar menjadi pribadi yang semakin baik dan berkualitas. Karena kesibukannya itulah dia tidak direpotkan untuk mencari kambing hitam yang dianggap sebagai biang keladi kesalahan. Introspeksi diri setiap saat menjadikan guru semakin diperhitungkan dalam upaya peningkatan kualitas pendidikan. Sehingga 'kodok pun ikut bernyanyi' (selarik syair lagu Ari Wibowo) karena gembira menyaksikan dunia pendidikan Indonesia dapat dibanggakan. Si kodok tidak lagi menangisi kehadirannya karena dianggap biang kerok kesalahan. Iya to, enak to, mantep to, tak gendong lho!, Mbah Surip tersenyum karena para guru ber-I love you full, tidak lagi mencari musuh dalam keruh
Oleh : Muslimin
0 Responses for “ Jangan Salahkan Kodok (Artikel Tentang Guru)”
Leave a Reply
Recently Commented
Recent Entries
Info Persela
Berita Lamongan Jawa Timur Terkini