Pemuda Muhammadiyah Luruk Kantor Dinas Pendidikan
Tuding Guru Lamongan Sebagai Pencuri
![]() |
| Massa Saat Berorasi didepan Kantor Dinas Pendidikan |
Kabarlamongan.com : Lamongan - Dinas Pendidikan Kabupaten Lamongan akhir-akhir ini kerap didatangi para demonstran, mereka terdiri dari berbagai elemen masyarakat. Hari ini, Kamis (22/05), Kantor Dinas Pendidikan Kabupaten Lamongan kembali digeruduk massa yang mengatas namakan Pemuda Muhammadiyah (PM) Kabupaten Lamongan.
Belasan pemuda PM bersama LSM Brandal dan LSM Penjara menginginkan agar skandal kebocoran soal yang terjadi di Kabupaten Lamongan ini bisa segera terbongkar. Mereka juga menyebutkan bahwa Kepala Dinas Pendidikan, Agus Suyanto, adalah aktor intelektual yang harus bertanggung jawab atas terjadinya praktek kejahatan massal tersebut.
Koordinator aksi, Yusuf saat orasi menuntut agar kepala Dinas Pendidikan ikut bertanggung jawab dalam kasus itu. “Agus Suyanto adalah aktor intelektual dari aksi kejahatan pendidikan yang ada di Lamongan, dan dia yang harus bertanggung jawab,” ungkapnya.
Selain itu, pihaknya juga meminta agar pihak kepolisian juga ikut bertanggung jawab dalam kasus tersebut oknum kepolisian yang selaku penjaga naskah soal UN. “Oknum anggota polisi juga harus bertanggung jawab karena bukan hanya kepala sekolah yang jadi aktor dalam kasus pencurian soal UN tapi pihak kepolisian yang lalai dalam menjaga dokumen rahasisa tersebut juga harus bertanggung jawab,” ungkapnya.
Tak hanya itu, Yusuf dalam orasinya juga menuding bahwa guru di Lamongan telah memberikan contoh buruk kepada anak didik dengan melakukan pencurian soal Ujian Nasional (UN).
“Guru di Lamongan sudah merusak citra sebagai pendidik. Mereka melakukan pencurian,” teriaknya.
Selain kasus bocornya soal UN, maraknya video mesum yang beredar di kalangan siswa-siswi di Kabupaten Lamongan juga harus menjadi tanggung jawab kepala dinas. Mereka menyebut Kepala Dinas Pendidikan tidak pecus dalam menangani problematika pendidikan di kota soto.
“Agus Suyanto harus mundur dari kepala dinas pendidikan kabupaten lamongan karena ketidak pecusannya dalam memimpin,” tambahnya.
Namun di sisi lain, aksi yang digerakan oleh Pemuda Muhammadiyah itu terkesan sangat brutal dan jalanan karena dalam penyampaian aspirasinya, salah satu peserta aksi ada yang selalu mengunakan kata-kata kotor sehingga tak layak didengar oleh khalayak umum.
Parahnya lagi, Sulistyo, salah satu orator sempat menyuruh penghentian kegiatan perlombaan Tilawatil Quran yang diselenggarakan oleh dinas tersebut. “Kalau lomba ini hanya untuk merebut hadiah, hentikan saja lomba tilawatil ini, karena tidak akan mendapat pahala,” teriaknya saat berorasi. (ding)
![]() |
| Massa saat menunjukkan tuntutan mereka |
DPL Nilai Penerapan UN Perlu Dikaji Kembali
Kepanikan yang demikian ini diyakini oleh wali murid dan siswa. Apalagi merujuk hasil ujian Try Out persiapan sebelum pelaksanaan UN mengecewakan, lebih dari separuh siswa SMA sederajat khususnya swasta dan sebagian negeri yang mengikuti ujian Try Out dinyatakan tidak lulus. Padahal Try out sendiri dilakukan, untuk memberikan gambaran sementara tentang kemampuan siswa dan sejauh mana tingkat kesiapan siswa sebelum akhirnya mengerjakan hasil tes UN, teryata 50 persen siswa belum siap.
Fakta yang demikian ini tidak dibantah oleh guru dan kepala sekolah di Lamongan. Lebih dari tiga guru dan kepala sekolah yang ditemui oleh Surabaya Pagi melakukan testimoni. Kalau upaya yang dilakukan oleh guru dan lembaga pendidikan itu semua tidak lebih untuk menyelamatkan masa depan siswa dan juga kelangsungan lembaga pendidikan tersebut.
"Adanya kecurangan UN kemarin itu adalah bentuk kepanikan kami sebagai dewan guru, tidak ada tujuan lain selain hanya menyelamatkan para siswa dari ketidaklulusan, kalau ada yang sampai memanfaatkan untuk bisnis, saya tidak tahu pikiran mereka,"kata salah satu Kepala Sekolah SMA yang namanya enggan untuk dipublikasikan.
Dikatakan, ia dan dewan guru tidak bisa membayangkan, kalau tidak ada bocoran soal UN, bagaimana nasib anak didiknya kedepan dan juga nasib lembaga pendidikan yang menaungi siswa tersebut."Secara moral dan sikologis kalau ada siswa yang sampai tidak lulus, jelas dampaknya tidak hanya pada siswa tapi guru dan lembaga pendidikan," katanya.
Karena lembaganya kepingin eksis, dan tidak ingin siswanya sampai tidak lulus, akhirnya jalan pintas dengan mencari bocornya soal tersebut, yang selanjutnya oleh guru dikejakan lalu diberikan kepada siswa.
Terpisah Ketua Dewan Pendidikan Lamongan (DPL) R. Khusnu Yuli Setyo saat dihubungi menyatakan, problem adanya kecurangan dalam pelaksanaan Ujian Nasional (UN) SMA sederajat beberapa waktu yang lalu, semakin menunjukkan kalau program UN adalah kurang bisa diterima oleh guru, siswa dan lembaga pendidikan.
Karena menurutnya, study selama 3 tahun ditentukan hanya dalam waktu 4 hari dianggap kurang bijak. Dan masih kata Khusnu, sistem yang demikian ini harus dikaji, karena bisa menimbulkan upaya guru dan lembaga pendidikan melakukan kecurangan. "UN semestinya tidak segalahnya dalam menentukan kelulusan, kelulusan tetap harus dikembalikan kepada lembaga pendidikan masing-masing, agar praktek kecuragan yang demikian ini tidak terjadi, karena ukuran lulus banyak dipengaruhi faktor, bukan hasil UN saja," ungkapnya. (sbo/ding/fbi)
Baca Juga : Pengakuan Guru MTs tentang Tersebarnya Kunci Jawaban UN
70 Guru dan 60 Kasek Diperiksa Terkait Kebocoran Soal UN SMA
"Dari pemeriksaan ini terkuak modus pencurian naskah soal," ujar salah satu petugas kepolisian yang tak mau disebutkan namanya.
Sementara, Kapolres Lamongan AKBP Solekan menjelaskan, dari penyelidikan terkuak adanya pencurian naskah soal dengan memanfaatkan kelengahan anggota.
"Banyak cara dilakukan untuk mengelabui petugas, di antaranya mengajak makan hingga mencuri naskah didalam mobil," paparnya.
"Dan mereka mengakui melakukan itu. Disinilah kami akan memperdalam penyelidikan termasuk keterlibatan kepala sekolah. Dan dari penyidikan yang dilakukan ada tujuh oknum pendidik yang terlibat pencurian naskah," lanjutnya.
Ia memastikan pemeriksaan tidak akan terhenti di tujuh orang karena bisa berkembang. Sayangnya, ia tak mau menyebut siapa-siapa guru yang dimaksud.
Seperti diberitakan,dunia pendidikan di Lamongan tercoreng dengan bocornya kunci jawaban UN SMA sederajat yang dilakukan oleh oknum pendidik. (ris)
Baca Juga : Pengakuan Guru MTs Tentang Adanya Bocoran Kunci Jawaban UN
Opini : Madrasah Diniyah Sebagai Pondasi Moral Bangsa
Sebagaimana yang tercantum dalam Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional Tahun 2003, Kita mengenal dua jenis pendidikan di Indonesia yaitu pendidikan formal dan non formal. Pendidikan formal di lingkungan dasar terdapat Sekolah Dasar (SD) yang berada dibawah naungan Kementerian Pendidikan Nasional dan Madrasah Ibtidaiyah (MI) yang berada di bawah naungan Kementerian Agama. Sedangkan non formal seperti lembaga kursus, Madrasah Diniyah dan penyelenggara pendidikan lainnya.
Dalam kasus ini kita akan membahas dampak positif dari pendidikan madrasah diniyah yang memberikan sumbangsi besar terhadap pendidikan di indonesia dan terutama untuk para generasi penerus bangsa.
Kita mengenal pendidikan dasar di Indonesia cukup lama yaitu enam tahun. Dalam fase ini siswa seharusnya diperkenalkan berbagai hal positif. Sehingga ketika mereka masuk ke jenjang selanjutnya sudah memiliki bekal yang cukup. Atas dasar itulah peranan guru sebagai pendidik dan pengajar harus benar-benar profesional dalam profesinya.
Menurut pribadi saya, Pendidikan dasar merupakan pondasi utama bagi para siswa dalam mengenyam pendidikan berikutnya. Pendidikan dasar merupakan pembibitan awal dalam pengembangan human resourses (SDM) bangsa Indonesia, pada pendidikan dasar ini para siswa akan mendapatkan pendidikan dan pelatihan sehingga menemukan minat dan bakatnya masing-masing.
Jadi, kalau kita berbicara tentang madrasah diniyah memanglah sangat berperan aktif dalam memberikan bekal mengenai pendidikan moral di negara ini. Namun sayangnya, yang sering menjadi permasalahan utama bangsa kita adalah peranan pemerintah dalam menghargai kerja keras putra putri bangsanya sangatlah rendah.
Mereka yang menjadi pengambil kebijakan hanya mempertahankan keegoisan dan kedudukan mereka secara turun-temurun saja. Tidak pernah mereka menghargai orang-orang yang berusaha keras belajar dan berprestasi dalam mewujudkan impiannya. Mungkin itu dikarenakan, pondasi moralnya sangat lemah dan rentan naik turun.
Seperti halnya korupsi yang seakan-akan menjadi makanan sehari-hari bangsa kita, bahkan sudah dianggap lumrah dan biasa saja. Padahal sudah sangatlah jelas bahwa korupsi dalam dunia pendidikan merupakan hasil pendidikan yang tidak beretika.
Disamping peranan madrasah diniyah, tak kalah penting juga peranan san pendidik/guru. Guru saat ini tak lebih hanya sebagai wayang kelas saja. Apalagi ditambah beberapa kasus sosial yang menghebohkan dunia pendidikan. Tak bisa dipungkiri banyak sekali kejadian lebih bejat yang tidak terdokumentasi dan terpublikasikan ketengah-tengah masyarakat yang sedang dilanda maksiat seperti sekarang ini. Guru adalah benteng terakhir untuk membangun generasi penerus yang membuat bangsa kita lebih baik dari segi ekonomi, sosial, budaya dan politik.
Sekarang ini, penanaman mental dan moral hanya dilakukan sesaat menjelang UN. Sebelum UN mengadakan muhasabah bersama, tausiyah oleh ustad dan zikir bersama. Menjelang UN mendekati Allah SWT, saat UN tak ingat Allah dengan main curang, dan pasca UN, semakin jauh dari Allah SWT. Dan untuk itulah madrasah diniyah hadir ditengah-tengah persoalan yang sangat menggerus moral bangsa.
Semoga Allah menunjukkan kita ke jalan yang paling lurus.
Oleh : Boding M. Tahjuddin *)
Wartawan Suara Madin Lamongan
Tak Mau Kecolongan, Petugas Keamanan Soal UN SD Dapat Nasi Bungkus
Kabarlamongan.com : Lamongan - Tak mau kecolongan lagi,Polres Lamongan kini menyiapkan makanan dalam bentuk nasi kotak dan kue bagi anggota polisi yang bertugas mengawal naskah ujian nasional (UN) tingkat Sekolah Dasar (SD) sederajat, Jumat ( 16/5).
Kasat Bimas Polres Lamongan AKP Sunarti membenarkan rencana Polres Lamongan yang menyiapkan makanan berupa nasi kotak dan kue bagi anggota polsek. “Ini salah satu cara agar anggota tidak lengah dalam mengawal soal ujian,” cetusnya, Kamis (15/5/2014).
Langkah ini diambil paska bocornya jawaban UN SMA sederajat dimana anggota polsek yang mengawal lengah. “Dan kelengahan anggota inilah yang dimanfaatkan oknum-oknum pendidik yang mengambil soal untuk mencuri naskah tersebut,” ungkap AKP Sunarti.
Mantan Kapolsek Pucuk ini lantas mencontohkan kelengahan anggota polisi. “Anggota diajak makan dan saat makan itulah salah satu guru mengambil soal dan ini kelengahan anggota,” tandasnya.Oleh karena itulah, dari pada anggota polisi diajak mampir makan dan lengah mengawal naskah yang merupakan dokumen negara maka Polres Lamongan menyiapkan jatah nasi kotak dan kue yang wajib dimakan saat mengambil naskah di gudang Polres yang akan dimulai Jum’at (16/5).
Sementara disinggung mengenai pengamanan soal, Sunarti menyatakan pengamanan untuk soal sama dengan pengamanan di SMA dan SMP. “Sesuai dengan SOP-nya, pengambilan naskah di Polres, guru wajib dikawal pihak Polsek, dan setiap akan mengambil naskah maka guru dilarang bawa Hp dan tas,” beber AKP Sunarti.
Dan untuk UN SD ini, Polres Lamongan telah menerima 265 Box ujian berisi tiga mata pelajaran yakni mata pelajaran IPA, Matematika dan Bahasa Indonesia. (ris)
Baca Juga : Pengakuan Guru MTs Adanya Bocoran Kunci Jawaban UN
Pengakuan Guru MTs Tentang Tersebarnya Kunci Jawaban UN
Ia menjelaskan secara rinci bahwa pengedaran kunci jawaban UN telah dikoordinir oleh Kelompok Kerja Kepala Madrasah (K3M) di kecamatannya. "Memang proses kecurangan ini sudah terkoordinir secara rapi oleh K3M di kecamatan ini," terangnya.
Pembagian kunci jawaban pun tidak secara langsung diseluruh soal, tambahnya. Akan tetapi di edarkan satu persatu setiap soal. "Sehingga kemungkinan terbongkarnya kan sulit," tambahnya.
Ia mengakui bahwa sekolahnya pun mengikuti cara haram tersebut dalam rangka untuk memperoleh hasil yang maksimal dalam Ujian Nasional (UN) tahun ini. "Mau tidak mau kita harus begini, kalo nggak gini ya kita kalah dengan sekolah lain," cetusnya.
Dilain sisi, anggota Komisi D DPRD Lamongan, Narto Widodo, S.Ag menjelaskan bahwa perlu adanya pembenahan dunia pendidikan di Lamongan.
"Dinas pendidikan perlu melakukan pembenahan manajemen pendidikan dimulai dari moral dan kejujuran, bukan hanya mengejar prestasi secara formalitas belaka," cetusnya. (ary)
Baca Juga : Siswa Keracunan Teh Rosela
Pelajar Terpergok Pesta Seks
Siswa SMAS Akui Dapat Kunci Jawaban UN
5 Siswa Keracunan Rosela Masih Dirawat Intensif
Kelima orang siswa ini masing-masing Valentino siswa kelas IIII, Vito Feriono kelas 1V, Ahmad Nur Fatoni kelas III, Luki kelasIV dan Rini kelas IIII. Mereka mendapatkan perawatan lebih karena kondisinya yang masih belum stabil.
Sunarni, Kepala Puskesmas Tikung yang dikonfirmasi menyatakan kelima siswa yang keracunan minuman rosela buatan SD Jatirejo ini masih membutuhkan perawatan intansif meski kelimanya sudah stabil.
Sementara itu, Kepala Sekolah Dasar Adiwiyata Jatirejo Sumarman mengaku akan menanggung biaya perawatan siswa SD Soko III yang mengalami keracunan akibat minuman unggulan yang dijual oleh sekolah.
Sementara itu polisi masih melakukan penyelidikan terkait kasus keracunan massal akibat minuman rosela yang dibagi pada para siswa SD Soko III.
"Pemeriksaan jalan terus dan saat ini penyidik tengah mengumpulkan keterangan dari para saksi termasuk kepala sekolah Soko III dan pihak-pihak terkait," ungkap Kapolsek Tikung AKP Mardjoko.
Langkah ini dilakukan guna mencari adanya unsur kesengajaan atau tidak. (ris)
Baca Juga : PMII dan GMNI Desak Timsel Dibubarkan
Pelajar Tertangkap Pesta Seks
Sekolah Gratis Bukan Tak Berbiaya
Ahmad, salah satu orang tua siswa asal Karangbinangun menjelaskan bahwa pihaknya sudah merasa Sekolah Dasar (SD) telah di bebaskan dalam segala biaya. Dalam pemahamannya, pihaknya merasa setiap kebutuhan siswa yang ada disekolah, termasuk perbaikan infrastruktur tidak akan membebani siswa lagi.
Kepada wartawan Tabloid Lensa Lamongan ia sempat menyampaikan keluhan karena Sekolah tempat anaknya belajar telah melakukan pungutan dengan dalih perbaikan infrastruktur.
“Seharusnya siswa kan sudah tak terbebani lagi, lha kok masih ada pungutan dengan alasan perbaikan infrastruktur sekolah,” ungkapnya.
Disisi lain, Nasir, Maduran menyinggung penggunaan dana BOS sebagai transport komite sekolah. Ia yang merupakan komite sekolah mencari kejelasan tentang hal tersebut.
Sementara itu, Sunah, M.Pd ketika dikonfirmasi menjelaskan bahwa lembaga sekolah, dalam hal ini SD diperkenankan untuk melakukan pungutan kepada siswa, dalam hal ini dinamakan sumbangan sukarela yang tidak mengikat kepada siswa.
“Nantinya sumbangan sukarela itu dipergunakan untuk kebutuhan lain, semacam perbaikan infrastruktur ataupun yang lain. Karena memang jika dana BOS masih dirasa belum cukup,” tukasnya.
Namun, pihaknya menekankan melarang semua sekolah untuk menarik sumbangan yang bersifat mengikat. Sehingga baik orang tua, ataupun masyarakat tidak merasa terbebani.
“Kalau itu mengikat kepada siswa, hukumnya dilarang,” tegasnya.
Mengenai penggunaan dana BOS perihal transport komite sekolah ia menjelaskan bahwa seharusnya komite sekolah memfasilitasi kebutuhan sekolah.
“Jangan sampai sekolah malah terbebani dengan adanya komite, dari itu mari perjelas fungsi komite sebenarnya, agar lembaga pendidikan mampu terus berkembang dengan adanya kebijakan saat ini,” pungkasnya. [ding]
Baca Juga : Masihkah Jadi Terbaik dengan Integritas dan Kepribadian Moral yang Membanggakan ?
Pelajar Tertangkap Setelah Pesta Seks
Pelajar Lamongan Tertangkap Setelah Pesta Seks
Ditangkapnya pelaku setelah polisi mendapatkan barang-bukti berupa rekaman video. Dari rekaman video ini polisi berhasil mengamankan Ag (15) dan Lt (15) keduanya bintang film mesum yang sama-sama duduk dibangku SMP bersama tiga orang temannya.
"Kelimanya kini ditangani penyidik dari Unit PPA," ungkap salah satu penyidik yang menolak namanya ditulis.
Dalam video ber durasi 7 menit itu terlihat Ag berselimutkan kain motif garis-garis biru putih tengah melakukan hubungan intim dengan Lt. Disampingnya ada TW (15), Jm (16) serta FK (13) yang menyaksikan perbuatan Ag dan Lt.
"Salah satu rekannya sengaja merekam hubungan badan ini di rumah JM yang saat itu sepi," imbuhnya. Bahkan dalam video tersebut mereka saling bercanda dan saat membuka selimut itulah nampak Ag tidak memakai celana dalam.
Kasat Reskrim Polres Lamongan AKP Effendi Lubis yang dikonfirmasi membenarkan ditanganinya kasus video mesum tersebut. "Yang pasti dari adanya laporan masyarakat kita bergerak dan mendapat barang-bukti video," ungkapnya.
Dari sini penyidik menggali informasi dan kemudian mengembangkannya ditingkat penyidikan dan penangkapan terhadap para pelaku. "Karena mereka rata-rata dibawah umur maka kasusnya kita limpahkan ke Unit PPA," jelasnya.
Yang pasti dari pengakuan salah satu pelaku, hubungan mesum ini dilakukan di rumah JM yang saat itu kosong. "Dan jika terbukti mereka bisa dikenakan persetubuhan anak dibawah umur dan penyebaran video mesum," tandasnya. (ris)
Motif Buah Siwalan Jadi Desain Batik Terbaik
Dalam acara yang dihadiri oleh 160 undangan yang terdiri dari SKPD, Camat, Pengrajin dan Pengamat batik serta guru kesenian ini dihadirkan narasumber dari Balai Besar Kerajinan Batik Yogyakarta Agus Haerudin.
Sekretaris Daerah Yuhronur Efendi yang membuka seminar tersebut sangat mengapresiasi pengrajin batik yang ada di Lamongan.
“Pemkab Lamongan memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada para pengrajin batik dan sangat mendukung untuk mengembangkannya. Oleh karena itu acara semacam ini merupakan sarana tepat untuk meningkatkan promosi sehingga kerajinan batik akan terus tumbuh berkembang yang nantinya menjadi sarana ekonomi produktif sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat”, jelasnya.
Yuhronur Efendi juga menyampaikan bahwa meskipun sudah memikat pasar lokal, Namun batik Lamongan masih perlu sentuhan teknologi. Sehingga dapat bersaing di pasar nasional mupun internasional.
Dalam seminar tersebut, Ketua Dekranasda Lamongan Mahdumah Fadeli menyerahkan piala kepada para juara lomba desain batik. Lomba yang diikuti oleh 39 pelajar SLTP, 40 pelajar SLTA dan 63 peserta umum telah dinilai di hari sebelumnya.
Untuk juara 1 tingkat SLTP diraih oleh M. Nouval Rizqi Al Fawi dari SMPN 1 Lamongan dengan judul karya Siwalan, Juara 2 Dhika Erlanda dari SMPN 3 Lamongan dengan judul Bandeng Lele Semerbak Melati, dan Juara 3 Rizka Sandra Amelia dari SMPN 1 Lamongan dengan judul Pesona Pantura.
Selanjutanya Juara 1 Tingkat SLTA yakni Helvy Indah Cahyani dari SMAN 1 Paciran dengan judul Happy Lamongan Batik, Juara 2 oleh Desy Susanti dari SMAN 1 Paciran dengan judul Raja Bahari, dan Juara 3 Fackhrudin Isnaeni dari SMKN 1 Kalitengah dengan judul Indahnya Hasil Laut.
Untuk kategori umum Terbaik 1 oleh Tety Indahing Warna dari Sendang Agung Kecamatan Paciran dengan judul Ikan Panca Warna, Terbaik 2 Hj. Rohayatin dari Sendang Duwur Kecamatan Paciran dengan judul Sing Mengkok Lontar Ucul, dan Terbaik 3 oleh Murti dari Sendang Duwur Kecamatan Paciran dengan judul Melati Putih.
Nouval Rizqi Al Fawi, Juara 1 tingkat SLTP, mengaku mengambil ide dari buah siwalan karena desain batik Lamongan selama ini paling banyak menggunakan ikon bandeng lele.
“Saya ingin sesuatu yang berbeda untuk motif batik yang saya desain, namun masih bercirikhaskan Lamongan, “ ujarnya. Buah Siwalan yang juga dikenal dengan Buah Ental ini banyak tumbuh di pantura Lamongan. Teksturnya yang kenyal biasanya digunakan sebagai isian es.
Sedangkan Helvy Indah Cahyani, Juara 1 Tingkat SLTA, mengaku terinspirasi dari Tari Boran khas Lamongan. “Tari Boran telah menjadi cirri khas Lamongan yang dikenal hingga tingkat nasional. Sehingga menurut saya layak dijadikan motif desain batik tulis, “ katan Helvy member penjelasan. (hrs)
Baca Juga : Batik Koko Belok, Karya Siswa Yang Menjadi Seragam Keseharian Siswa Snesa
Masihkah Lamongan Menjadi Terbaik dengan Integritas dan Kepribadian Moral yang Membanggakan ?
Catatan Prestasi Ujian Nasional dari Kota Soto
Oleh : Bnoe Nuharto *)
Pada tahun kemarin (2013) Kabupaten Lamongan bisa berbangga diri. Pasalnya beberapa orang siswa MA/SMA/SMK maupun SMP/MTs di wilayah Lamongan bisa meraih hasil Ujian Nasional (UN) tertinggi se-Jawa Timur, bahkan sampai masuk 5 besar nilai tertinggi se-Indonesia.
Catatan yang saya peroleh menunjukkan, Kabupaten Lamongan menjadi satu-satunya daerah di Jatim yang muridnya masuk lima besar terbanyak. Sedang daerah lain rata-rata hanya satu atau dua murid.
Akankah UN tahun ini (2014), Kota Soto masih bisa mempertahankan prestasinya baik di tingkat SD, SMP maupun SMA?. Mudah-mudahan saja prestasi itu bisa terulang kembali.
Namun sedikit disayangkan, kalau seandainya saja prestasi-prestasi tersebut diperoleh dengan segala cara bahkan dengan cara yang tidak wajar, hingga lupa bahwa yang lebih utama dari sekedar angka-angka adalah prestasi integritas dan moral.
Tidak bisa dipungkiri dan sudah menjadi rahasia umum, pelaksanaan UN merupakan pertaruhan integritas para siswa, guru, kepala sekolah dan bahkan pengambil kebijakan di Dinas Pendidikan. Pasti, setiap sekolah memiliki target kelulusan 100 persen. Target itu turun-temurun dari pundak Kepala Daerah, Dinas Pendidikan, Kepala Sekolah, guru hingga siswa.
Selain target lulus, yang jelas target untuk mendapatkan nilai terbaik juga akan diturun-temurunkan hingga peserta didik/siswa.
Target lulus dan mendapat nilai terbaik ini, menyangkut jabatan, nama baik daerah dan sekolah bersangkutan. Prestasi kelulusan menjadi salah satu parameter sekolah dalam penerimaan siswa tahun ajaran baru. Label sebagai sekolah yang sukses meluluskan anak didiknya akan menaikkan taraf gengsi. Itu artinya berkah berupa kelimpahan jumlah siswa akan didapat pada tahun ajaran baru nanti.
Selanjutnya, peluang bagi sekolah tersebut untuk menjaring siswa-siswa potensial dengan nilai terbaik. Ini penting guna mendongkrak kembali prestasi sekolah, baik melalui UN maupun yang lainnya di tahun berikutnya.
Sayangnya, tanggungjawab mengharumkan nama baik sekolah ini kerap dilakukan dengan cara-cara tidak terpuji. Diakui atau tidak pertanyaan inilah yang akan membayang-bayangi hidup kita, dimana letak integritas para pendidik sebagai orang-orang yang tercelup di lembaga pendidikan? Bukankah pendidikan terlanjur ditahbiskan sebagai “dunia suci” yang jauh dari intrik-intrik, kecurangan, keculasan, kolusi dan korupsi?
Profesi pendidik adalah teladan. Guru, digugu dan ditiru (didengar dan diikuti, red). Anak didik selalu merujuk pada guru. Guru adalah “malaikat” kecil di tengah pelajar. Guru selalu benar, tidak boleh salah. Guru di mata anak didik adalah “sosok suci”.
Bukankah berjuta kali guru memberi wejangan tentang kejujuran, kedisiplinan dan nilai-nilai kebaikan pada anak didiknya? Akankah bangunan kepercayaan yang disemai selama bertahun-tahun itu dibiarkan runtuh seketika demi sebuah predikat lulus UN?
Jika para pendidik, baik sebagai guru atau elemen pengambil kebijakan mampu menjaga dan mempertahankan integritasnya, anak didikpun akan menaruh hormat dan respek padanya. Bahkan, ini akan mendorong anak didik untuk mengedepankan integritasnya pula dalam menghadapi UN. Artinya, sekalipun banyak peluang di depan mata untuk berbuat curang atau culas, jika pelajar memegang teguh prinsip kejujuran, peluang itu akan dianggap angin lalu.
Dengan begitu, tidak usah terlalu mengkhawatirkan beredarnya kunci jawaban, isu kebocoran soal dan sejenisnya. Pelajar yang menjunjung tinggi integritasnya akan percaya diri dengan kemampuannya. Ia optimis dengan hasil usahanya sendiri dan tak tergoda berbuat curang.
Sayang, pelajar seperti ini sudah semakin jarang ditemukan. Kejujuran sangat mahal. Jujur sama artinya bunuh diri. Masih ingat dengan kasus nyontek massal yang dibongkar Alif dan ibunya, Siami di Surabaya, Mei 2011 lalu, yang justru berakhir pada pengucilan mereka oleh sekolah dan para tetangga? Sungguh miris!
Generasi Stress dan Pendidikan Moral
UN dianggap satu-satunya parameter keberhasilan anak didik. Untuk mencapai keberhasilan UN, trial and error tak henti di-uji-cobakan di lembaga pendidikan. Tujuannya, demi melahirkan lulusan ideal. Sayang, alih-alih melahirkan lulusan yang mumpuni di bidang sainstek dan takwa, sebagaimana maklumat tujuan pendidikan nasional, output UN kian tahun kian mengecewakan. Salah satunya, tergadaikannya integritas para pelakon di dunia pendidikan.
Ini akibat UN terlalu disakralkan. Lulus UN seolah selamat dari kiamat. Ini karena kecerdasan siswa hanya diukur dari angka-angka, itupun hanya beberapa pelajaran. Masa depan mereka tergantung UN. Adapun perilaku dan moral pelajar sama sekali diabaikan.
Akibatnya, pemahaman soal nilai-nilai kebaikan dan nilai-nilai agama sangat minim selama proses belajar mengajar. Dengan tingkat keimanan dan ketakwaan yang masih labil akibat minimnya pendidikan agama, ditambah lagi beban berat kurikulum pembelajaran, membuat pelajar cenderung stres. UN adalah klimaksnya, apapun dilakukan demi melewatinya dengan mulus, termasuk menghalalkan segala cara.
Kita pada saat ini perlu perubahan revolusioner untuk menghapus tradisi kecurangan dalam UN. Pertama, harus ada penanaman rasa tanggung jawab intelektual kepada para pelajar. Bahwa, menuntut ilmu itu sebuah kewajiban mulia, jangan dianggap beban berat. Menuntut ilmu harus sungguh-sungguh dengan enjoy, sehingga terbiasa menghadapi ujian. Mentalnya siap menerima apapun hasil ujian.
Kedua, sistem pendidikan sejak awal harus dikondisikan untuk melahirkan siswa yang berkepribadian Islam dan menjunjung nilai-nilai moral. Mereka memiliki tanggungjawab untuk menolak kecurangan, bahkan antihura-hura pasca UN dengan corat-coret seragam atau konvoi kendaraan. Mereka paham bahwa itu tindakan sia-sia yang tak bernilai pahala.
Sekarang ini, penanaman mental dan moral hanya dilakukan sesaat menjelang UN. Sebelum UN mengadakan muhasabah bersama, tausiyah oleh ustad dan zikir bersama. Menjelang UN mendekati Allah SWT, saat UN tak ingat Allah dengan main curang, dan pasca UN, semakin jauh dari Allah SWT.
Ketiga, sistem pendidikan, termasuk kurikulumnya, disesuaikan dengan perkembangan usia anak didik dan minatnya. Jangan disamaratakan kemampuan siswa dengan UN yang tolak ukur pelajarannya sama. Tidak semua anak jago matematika, mungkin dia lebih jago bidang lain. Karena itu, perlu evaluasi, masihkah UN menjadi model ideal sebagai parameter keberhasilan siswa?
*) Redaktur
Siswa SMAS Akui Dapat Kunci Jawaban UN
Seperti halnya dikatakan oleh salah seorang siswa Sekolah Menengah Atas Swasta di Lamongan jurusan IPS, is merasa lega dan optimis akan memperoleh hasil maksimal di UN tahun ini. Betapa tidak, pihaknya mengaku telah memperoleh kunci jawaban dari pihak sekolah.
"Ngapain beli kunci jawaban mahal-mahal toh pihak sekolah sudah memikirkan dan menyediakan itu, mana ada sekolah yang menginginkan peserta didiknya tidak lulus?," Ungkapnya santai.
Ia juga membocorkan teknis ketika membuka kunci jawaban yang telah diperoleh dari pihak sekolah agar tidak dicurigai atau ketangkap basah pengawas ruang maupun pengawas independen.
"Kita disuruh berangkat pagi-pagi sekali oleh kepala sekolah sekitar pukul 05.30 WIB, setelah semua kumpul koordinator kelas dipanggil dan diberi kunci jawaban 20 paket dalam bentuk print out. Khusus untuk koordinator kelas disuruh membawa hp yang disembunyikan di backer yaitu pelindung lutut dalam olahraga sepak bola beserta print out kunci jawabannya, sehingga ketika pengawas memeriksa tidak akan ketahuan," akunya.
Selain koordinator kelas juga terdapat koordinator lapangan yang bertugas sebagai penerima laporan dari koordinator kelas ketika kelasnya dijaga ketat.
"Ketika kelas saya dijaga ketat sama pengawas independen, saya lapor ke koordinator lapangan (kelas IPS B ketat), lalu koordinator lapangan yang merupakan salah satu pihak sekolah menemuhi kelas tersebut dan mengajaknya ngobrol keluar kelas. Hal tersebut bertujuan agar siswa bisa leluasa membuka kunci jawaban," lanjutnya.
Teknis membuka kunci jawaban sebagaimana yang ungkapkan si A yaitu hari pertama koordinator kelas membuka semua print out yang berjumlah 20 kunci lalu mencocokkannya hanya pada 4 soal dan jawaban, jika cocok maka itu merupakan kunci jawabannya, begitu pula seterusnya hingga siswa terakhir dan tiap siswa diberi waktu maksimal 5 menit untuk mencocokkanya. Hal tersebut juga berlaku pada hari kedua.
Beda dengan hari ketiga, setelah dirasa antara hari pertama dan kedua usai dicocokkan dan masing-masing siswa memperoleh kode kunci jawaban sama, untuk hari terakhir mereka sudah membawa dan menyembunyikan kunci jawaban sesuai dengan kode yg kemarin mereka peroleh dan disembunyikan sesuai kreatifitas masing-masing peserta didik.
"Sebenarnya saya tidak setuju dengan adanya UN, Karena kelulusan anak yang menempuh studi dalam 3 tahun hanya ditentukan selama 3 hari, sedangkan kemampuan siswa itu berbeda-beda, ada yang pandai dalam pelajaran A juga ada yang lemah dalam pelajaran B. Yang saya tanyakan itu kenapa harus UN? toh evalusi bisa dilakukan dalam bentuk yang lainya. Permasalahan UNAS dari tahun ke tahun pun sama yakni beredarnya kunci jawaban. Seharusnya itu yang menjadi PR pemerintahan," ujar kepala sekolah setempat. (brtjtm/gus)
Update Informasi Anda Mengenai Kota Lamongan hanya di Kabarlamongan.com, Portla Berita Lamongan Terkini.
Penyandang Tuna Netra Tak Terima Soal UN Berhuruf Braille
Pelaksanaan UN di SMALB Maarif Lamongan diikuti 5 siswa. Dua diantaranya siswa penyandang tuna rungu, 2 lainnya penyandang tuna daksa serta seorang penyandang tuna netra yang bernama Sriana.
Sriana terpaksa harus mendengarkan soal yang dia kerjakan dari pengawas. Pengawas ujian membacakan soal di depan siswa SMALB dan siswa pun menjawab pertanyaan yang dia dengar tersebut.
Kepala sekolah SMALB Maarif Lamongan, Sugeng Priyono mengakui pihaknya tidak menerima lembar soal dan jawaban berhuruf braille. Agar siswa bisa mengerjakan soal, lanjut Sugeng, pengawas ujian pun membacakan soal tersebut di depan Sriana dengan lantang.
Otomatis peserta lain terganggu konsentrasinya karena pengawas yang membacakan soal terdengar oleh seluruh peserta dalam satu ruang.
"Seharusnya memang disediakan soal dan jawaban berhuruf braille agar ada kesamaan hak untuk penyandang cacat," kata Sugeng Priyono kepada wartawan, Senin (14/4/2014).
Selain membacakan soal UN, pengawas ujian juga menuliskan jawaban yang telah dijawab peserta ujian di lembar jawaban komputer. Pasalnya, untuk lembar jawab komputer penyandang tuna netra juga tidak disediakan lembar jawaban huruf braille.
Sementara UN ini tidak diikuti 2 siswa lantaran sakit dan dirawat di rumah sakit. Mereka yakni Ulil, siswa salah satu SLTA Paciran dan Afifah, siswi SMKN 1 Lamongan.
Di Lamongan sendiri secara keseluruhan UN tingkat SMA dan sederajat ini diikuti oleh 17.060 peserta yang tersebar di 182 lembaga pendidikan di 27 kecamatan di Lamongan. (dtk/gus)
Update terus informasi seputar Kota Lamongan hanya di Kabarlamongan.com, Portal Berita Lamongan Terkini
Ada CCTV di Lokasi UN SMA 2 Lamongan
Bupati Lamongan, Fadeli menegaskan bahwa seluruh lembag sudah mempersiapkan agenda tahunan ini dengan matang. "Lembaga semuanya sudah siap," ungkap Bupati Fadeli usai melakukan inspeksi mendadak ( sidak) di SMA 2 Lamongan.
Selain lembaga pendidikan, sebanyak 17.060 siswa tersebut juga siap melaksanakan kegatan tersebut. "Yang pasti pelajar diLamongan sudah siap baik secara teknis maupun non teknis," ujarnya.
Sementara itu, Khuznan Kepala Sekolah SMA 2 Lamongan menyatakan jumlah siswa yang mengikuti UN tahun ini berjumlah 341 orang. "Dengan rincian IPA 247 orang;IPS 82 dan Bahasa 12 Orang," jelasnya.
Selain itu, ada yang spesial terlihat pada UN tahun ini di SMA 2 Lamongan. Dimana untuk membantu kelancaraan pelaksanaan UN, pihaknya juga memasang kamera CCTV yang dipasang disejumlah ruang yang dipakai untuk ruang ujian.
"Pemasangan CCTV hanyalah untuk memperlancar pengawasan pelaksanaan UN," akunya. Dalam pelaksanaan UN hari ini, diikuti semua pelajar yang ada, tandasnya. (ris/gus)
Update informasi seputar Kota Lamongan hanya di Kabarlamongan.com, Berita Lamongan Terkini
2.070 Pengawas Unair Terlibat UN di Lamongan
Pihaknya menambahkan bahwa pengawas tersebut akan mengawasi sebanyak 17.060 siswa peserta UN yang berasal dari 182 lembaga pendidikan dan tersebar di 25 rayon.
"Untuk ketenangan dan kenyamanan selama berlangsungnya UN, kami melarang semua pihak, kecuali pengawas untuk memasuki ruang ujian. Dan total ruangan ujian yang digunakan tahun ini sebanyak 1.035 ruang," katanya.
Agus mengaku secara umum persiapan UN di Kabupaten Lamongan berjalan baik, salah satunya mengenai keberadaan naskah yang kini sudah diamankan di Polres Lamongan.
"Nanti pada 12 April 2014 naskah itu akan diambil oleh masing-masing subrayon, kemudian disimpan di Polsek setempat dan pada Senin pagi panitia akan mengambil naskah untuk kemudian diteruskan ke masing-masing lembaga," katanya.
Terkait keberadaan siswa hamil di Lamongan, Agus mengaku belum menerima laporan, meski demikian pihaknya mengambil kebijakan untuk membolehkan siswa itu tetap mengikuti ujian.
"Selama siswa itu terdaftar dalam peserta UN, tetap boleh mengikuti ujian, karena ini terkait masa depan siswa. Namun, hanya saja kami belum menerima laporan peserta UN Lamongan yang hamil," katanya.
Sementara itu, sesuai dengan jadwal Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), UN tahun pelajaran 2013/2014 untuk tingkat SMA/MA, SMK/MAK, dan SMALB akan dilaksanakan pada 14-16 April 2014.(ant/gus)
Update informasi anda mengenai Kabupaten Lamongan hanya di Kabarlamongan.com, Portal Berita Lamongan Terkini.
Gelar Doa Bersama Yatim Suksesi UN
Kegiatan doa bersama ini selain melafalkan ayat-ayat suci Al-Qur'an juga diselingi dengan sirahman rohani, hingga memberikan santunan kepada 140 anak yatim piatu yang tersebar di empat yayasan PA YK Suwi putra putri, PA Khotijah, dan PA Muhammadiyah.
Selain kepala dinas pendidikan Agus Suyanto, hadir pula dalam kesempatan itu Kabid Dikmenumjur Adi Suwito, Kasi Mapenda Kementrian Agama Banjir Sidomulyo, kepala sekolah SMP/SMA dan seluruh pengawas beserta jajaran Kabid dan Kasi di lingkungan Dinas Pendidikan.
Kepala Dinas Pendidikan Agus Suyanto dalam kesempatan itu mengatakan, acara doa bersama yang dilaksanakannya tersebut adalah bagian dari acara rutin yang selalu digelar jelang pelaksanaan Ujian Nasional (UN) setiap tahunya.
"Kalau di beberapa sekolah sudah menggelar doa bersama, kita juga di lingkungan dinas pendidikan ikut berdoa, agar dalam pelaksanaan UN mendatang, diberikan kelancaran dan kesuksesan dengan hasil yang memuaskan,"kata pria yang juga mantan Kadis PU Cipta Karya ini.
Untuk mencapai seperti yang diinginkannya, keluarga besar Diknas hingga guru sudah mempersiapkannya dengan matang, mulai dari membimbing peserta UN hingga memberikan motivasi dan siraman rohani.
"Semua itu dilakukan sebagai ikhtiar kita agar berhasil,lebih-lebih mengundang anak yatim piatu ini semoga barokah, dan apa yang menjadi keinginan kita bersama bisa dalam pelaksanaan UN tingkat SMA/MA/SMA/SMALB/Paket C tahun ini terkabulkan," harapnya sambil menegaskan pelaksanaan UN harus seteril,pejabat baik dirinya maupun bupati tidak boleh masuk ke ruangan, dan hanya ada peserta dengan pengawas
Agus juga menambahkan pelaksanaan ujian nasional di Lamongan diikuti sejumlah 17.060 siswa, yang berasal dari 182 lembaga pendidikan, dan tersebar di 25 rayon, dan ruang ujian yang digunakan tahun ini ada sebanyak 1.035 ruang, serta melibatkan pengawas dari Unair Surabaya. Sedangkan jumlah total pengawas di Lamongan sendiri sejumlah 2.070 orang.
Saat ini lanjutnya, naskah untuk UN sudah diamankan di Mapolres Lamongan. Dan besok Sabtu (12/4), naskah tersebut akan diambil masing-masing sub rayon untuk kemudian disimpan di Mapolsek setempat. Dan pada Hari Senin pagi, panitia akan mengambil naskah untuk kemudian diteruskan ke masing-masing lembaga. (sbp/gus)
Update terus informasi anda mengani Kota Lamongan hanya di Kabarlamongan.com, Portal Berita Lamongan Terkini
Tak Hanya Siswa Hamil, Siswa Berurusan Dengan Hukum Pun Boleh Ikut UN
Kepala Dinas Pendidikan Lamongan, Agus Suyanto, MM Menjelaskan bahwa meskipun siswa berada dalam sel tahanan pun tetap akan mengikuti Ujian Nasional (UN) sesuai kebijakan Kemendikbud.
"Sepanjang namanya tercatat sebagai peserta Ujian Nasional, mereka tetap diperbolehkan untuk mengikuti ujian, meski harus berada di dalam sel tahanan," terangnya.
Keputusan untuk memperbolehkan siswa yang sedang terkena persoalan hukum mengikuti ujian nasional tersebut, adalah sesuai dengan instruksi Kementrian Pendidikan dalam upaya memberikan hak yang sama kepada semua siswa, apalagi namanya tercatat sebagai peserta.
Terkait berapa jumlah siswa yang terlibat persoalan hukum, Agus belum mengetahuinya. Ia berharap siswa di Lamongan tidak ada yang terlibat persoalan hukum sehingga pelaksanaan ujian nasional hanya dilaksanakan di ruang kelas bukan di ruang lembaga pemasyarakatan.
Selain siswa yang terlibat tindak pidana, siswa yang diketahui tengah berbadan dua juga diperbolehkan untuk ikut unas. "Semua siswa boleh ikut termasuk siswa yang tengah hamil, kita tidak boleh diskriminasi, sepanjang mereka tercatat sebagai peserta Unas kita persilahkan untuk mengikuti ujian," terangnya.
Agus Suyanto menyebutkan, pelaksanaan ujian nasional di Lamongan diikuti sejumlah 17.060 siswa, yang berasal dari 182 lembaga pendidikan, dan tersebar di 25 rayon, dan ruang ujian yang digunakan tahun ini ada sebanyak 1.035 ruang, serta melibatkan pengawas dari Unair Surabaya. Sedangkan jumlah total pengawas di Lamongan sendiri sejumlah 2.070 orang.
Saat ini lanjutnya, naskah untuk UN sudah diamankan di Mapolres Lamongan. Pada tanggal 12 April mendatang, naskah tersebut akan di ambil masing-masing sub rayon untuk kemudian disimpan di Mapolsek setempat. Dan pada Hari Senin pagi, panitia akan mengambil naskah untuk kemudian diteruskan ke masing-masing lembaga.
"Semoga pelaksanaan UN tingkat SMA/MA/SMA/SMALB/Paket C tahun ini berjalan lancar, dan harapan kami semua peserta lulus semua dengan capaian nilai yang tinggi, seperti pada tahun-tahun sebelumnya,"ujar Agus sambil menegaskan kalau pelaksanaan UN harus seteril, pejabat baik dirinya maupun bupati tidak boleh masuk ke ruangan, dan hanya ada peserta dengan pengawas. (sbp/gus)
Update informasi seputar Kabupaten Lamongan hanya di Kabarlamongan.com, Portal Berita Lamongan Terkini.
Dinas Pendidikan Lamongan Tegaskan Keikutsertaan Siswa Hamil Pada UN
“Selama siswa tersebut terdaftar dalam peserta UN, meskipun dia hamil tetap boleh mengikuti UN. Karena ini terkait masa depan siswa. Hanya, sampai saat ini kami belum mnerima laporan adanya peserta UN yang hamil," kata Kepala Dinas Pendidikan Lamongan, Agus Suyanto, Kamis (10/4/2014).
Dia menjelaskan, dalam tekanis pelaksanaan UN nanti, pihaknya hanya memperbolehkan pengawas untuk memasuki ruang ujian. “Ini demi kenyamanan dan menjaga ketenangan peserta didik saat mengikuti ujian nasional,” tegas Agus Suyanto.
“Semua pejabat tidak boleh masuk ke ruang ujian. Itu termasuk saya, juga termasuk Bapak Bupati sekalipun,” lanjut dia.
Agus menyebutkan, untuk pengawas dari perguruan tinggi (PT) tahun ini yang terlibat di Lamongan adalah dari Unair Surabaya. Totalnya ada 2.070 pengawas yang akan bertugas di 182 lembaga SMA/MA/SMA/SMALB/Paket C. Mereka akan mengawasi sebanyak 17.060 siswa yang tersebar di 25 rayon dengan jumlah ruangan ujian sebanyak 1.035 ruang.
“Saat ini naskah untuk UN sudah diamankan di Mapolres Lamongan. Pada tannggal 12 April, naskah tersebut akan di ambil masing-masing sub rayon untuk kemudian disimpan di Mapolsek setempat. Kemudian pada Hari Senin pagi, panitia akan mengambil naskah untuk kemudian diteruskan ke masing-masing lembaga,” pungkas Agus. (sbu/ding)
Kabarlamongan.com, Portal Berita Lamongan Terkini. Update Informasi anda seputar Kabupaten Lamongan hanya disini.
Siapapun Haram Masuk Ruang UN
“Selain pengawas, semua pihak dilarang masuk ruang ujian. Ini semua demi kenyamanan dan menjaga ketenangan peserta didik saat mengikuti ujian nasional, “ ujar Agus Suyanto.
“Semua pejabat tidak boleh masuk ke ruang ujian. Itu termasuk saya, juga termasuk Bapak Bupati sekalipun, “ imbuh dia.
Disebutkannya, untuk pengawas dari perguruan tinggi (PT), tahun ini yang terlibat di Lamongan adalah dari Unair Surabaya. Total ada 2.070 pengawas yang akan bertugas di UN tingkat SMA/MA/SMA/SMALB/Paket C tahun ini.
Mereka akan mengawasi sebanyak 17.060 siswa peserta UN yang berasal dari 182 lembaga pendidikan, tersebar di 25 rayon. Sementara ruangan ujian yang digunakan tahun ini ada sebanyak 1.035 ruang.
“Saat ini naskah untuk UN sudah diamankan di Mapolres Lamongan. Pada tannggal 12 April, naskah tersebut akan di ambil masing-masing sub rayon untuk kemudian disimpan di Mapolsek setempat. Kemudian pada Hari Senin pagi, panitia akan mengambil naskah untuk kemudian diteruskan ke masing-masing lembaga, “ urai Agus.
Ditambahkannya, jika ada siswa yang hamil saat ujian, pihaknya mengambil kebijakan untuk memperbolehkan siswa tersebut tetap mengikuti ujian. “Selama siswa tersebut terdaftar dalam peserta UN, dia (siswa hamil) tetap boleh mengikuti UN. Karena ini terkait masa depan siswa. Hanya, sampai saat ini kami belum mnerima laporan adanya peserta UN yang hamil, “ pungkas dia. (hrs)
Update terus informasi Kabupaten Lamongan hanya di Kabarlamongan.com, Berita Lamongan Terkini
Akhirnya Gedung Olahraga Dinas Pendidikan Diresmikan
Gedung olahraga yang diberi nama Sasana Krida Wiyata ini berada di lingkup Dinas Pendidikan Kabupaten Lamongan. Dalam acara persmian dihadiri oleh jajaran Muspida Kabupaten Lamongan. Acara peresmian gedung diawali dengan sambutan Kepala Dinas Kabupaten Lamongan Agus Suyanto, dilanjutkan Bupati Lamongan serta pemotongan tumpeng dan pemotongan pita yang menandai gedung tersebut diresmikan.
Bupati Lamongan Fadeli,SH,MM dalam sambutannya menyatakan pembangunan gedung olahraga ini sangat resperentatif. Gedung ini tidak hanya di gunakan oleh guru maupun orang dinas.tetapi gedung olahraga ini digunakan untuk umum,” katanya.
Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan Lamongan, Agus Suyanto, MM. menuturkan bahwa akan memaksimalkan bangunan tersebut dengan berbagai aktifitas setiap hari libur. Dengan adanya gedung ini, Dinas Pendidikan kabupaten Lamongan setiap hari Sabtu dan Minggu megangendakan latihan tenis dan olahraga lainnya untuk anak PAUD.
“Latihan untuk anak-anak PAUD kita Panggilkan pelatih dari Surabaya,” kata Agus Suyanto Kepala Dinas Pendidikan. (bhr/ding)
Recently Commented
Recent Entries
Info Persela
Berita Lamongan Jawa Timur Terkini



