Memasuki Tribulan Kedua, Pendapatan Daerah Capai 36%
Kabarlamongan.com : Lamongan - Tercatat hingga April lalu, Dinas Pendapatan Daerah (Dispenda) Lamongan menyampaikan realisasi pendapatan daerah sudah mencapai 36,78 persen. Sementara pada Tribulan II tahun ini setidaknya bisa merealisasikan pendapatan daerah hingga 45 persen.
Terkait realsisasi hingga bulan pertama di Tribulan II tersebut, Dispenda masih cukup optimis bisa memenuhi target yang ditetapkan. Menurut Kadispenda Mursyid melalui Kabag Humas dan Infokom Mohammad Zamroni, dengan kerja keras semua pihak, masih ada sejumlah komponen pendapatan daerah yang bisa digenjot lagi.
Selain itu, Dispenda juga sudah melakukan sejumlah inovasi pelayanan, terutama untuk pembayaran Pajak Bumi dan Bangunan-Pedesaan dan Perkotaan (PBB-P2) yang mulai tahun ini sudah dikelola daerah. Yakni dengan pembayaran PBB-P2 sistem elektronik yang bekerjasama dengan PT Telkom, Bank Jatim, BRI dan PD BPR Bank Daerah Lamongan.
“Dengan e PBB, warga Lamongan yang banyak merantau tidak perlu pulang kampung untuk membayar pajaknya. Kemudian untuk meningkatkan motivasi, juga akan diberikan reward and punishment bagi penyetor pajak tercepat, “ ujar dia.
Di Dispenda
Tahun ini, target pendapatan daerah ditetapkan sebesar Rp 1.775.329.593.050. sementara hingga akhir Bulan April lalu sudah terealisasi sebesar Rp 652.904.646.361,57 atau sebesar 36,78 persen dari target yang ditetapkan. Komponen pendapatan daerah ini terdiri dari pendapatan asli daerah (PAD), dana perimbangan, dan lain-lain pendapatan yang sah. (ding)
Terkait realsisasi hingga bulan pertama di Tribulan II tersebut, Dispenda masih cukup optimis bisa memenuhi target yang ditetapkan. Menurut Kadispenda Mursyid melalui Kabag Humas dan Infokom Mohammad Zamroni, dengan kerja keras semua pihak, masih ada sejumlah komponen pendapatan daerah yang bisa digenjot lagi.
Selain itu, Dispenda juga sudah melakukan sejumlah inovasi pelayanan, terutama untuk pembayaran Pajak Bumi dan Bangunan-Pedesaan dan Perkotaan (PBB-P2) yang mulai tahun ini sudah dikelola daerah. Yakni dengan pembayaran PBB-P2 sistem elektronik yang bekerjasama dengan PT Telkom, Bank Jatim, BRI dan PD BPR Bank Daerah Lamongan.
“Dengan e PBB, warga Lamongan yang banyak merantau tidak perlu pulang kampung untuk membayar pajaknya. Kemudian untuk meningkatkan motivasi, juga akan diberikan reward and punishment bagi penyetor pajak tercepat, “ ujar dia.
Di Dispenda
Tahun ini, target pendapatan daerah ditetapkan sebesar Rp 1.775.329.593.050. sementara hingga akhir Bulan April lalu sudah terealisasi sebesar Rp 652.904.646.361,57 atau sebesar 36,78 persen dari target yang ditetapkan. Komponen pendapatan daerah ini terdiri dari pendapatan asli daerah (PAD), dana perimbangan, dan lain-lain pendapatan yang sah. (ding)
Rabu, 21 Mei 2014
Read more...
Rangsang Ekonomi Pedesaan, Berikan Bantuan Kambing dan Ayam Petelur
Kabarlamongan.com : Deket - Mayoritas masyarakat kabupaten Lamongan yang masih hidup di daerah pedesaan membuat pemerintah Kabupaten Lamongan membuat rangsangan ekonomi pedesaan. Salah satu upaya pemerintah setempat adalah dengan memberikan stimulus bantuan pemberdayaan.
Salah satunya adalah stimulus bantuan ternak di Desa Weduni Kecamatan Deket yang dikembangkan dengan unik. Yakni membuat kandang-kandang kambing bertingkat yang diletakkan di tegalan areal tambak.
Desa ini memang berada di kawasan bonorowo Lamongan. Tanah lapang adalah sesuatu yang langka di kawasan ini. Selain sungai dan rawa, pertanian yang berkembang di kawasan ini adalah perikanan.
Di Kawaan Ternak Kambing Terpadu Ramah Lingkungan Kelompok Kapal Mandiri di Dusun Kudu Desa Weduni, anggotanya membuat kandang-kandang kambing di atas tegalan sawah tambak. Ketika Bupati Fadeli mengunjungi kawasan ini, satu-satunya alat transportasi untuk bisa menuju kesana adalah dengan menggunakan perahu.
Disampaikan secara terpisah oleh Kepala Bappeda Aris Wibawa melalui Kabag Humas dan Infokom Mohammad Zamroni, di tahun 2011 dilaksanakan pengadaan kambing sebanyak 2.200 ekor di 11 desa di 3 kecamatan. Yakni di Kecamatan Ngimbang, Mantup dan Sambeng.
Kemudian di tahun 2013 program pengembangan agribisnis peternakan kambing menambah bantuan 110 ekor di Desa Weduni/Deket dan Desa Dumpiagung/Kembangbahu. Sementara di tahun 2014 ini, akan diberikan bantuan sebanyak 512 ekor, di 14 desa yang berada di 13 kecamatan.
Sedangkan untuk budidaya itik dikembangkan melalui pola intensif dan konvensional. Bantuan sebanyak 20.000 ekor di tahun 2011 di 8 desa yang berada di Turi dan Kalitengah telah diberikan. Selanjutnya di tahun 2012 diberikan hibah kepada kelompok ternak pembudidaya itik sebanyak 10.000 ekor di Kecamatan Turi.
Pada pengembangan agribisnis peternak ayam ras petelur dilaksanakan di Desa Kedungkumpul/Sukorame dan Desa Puter/Kembangbahu sebanyak masing-masing 10.000 ekor di tahun 2013. Pada tahun 2014 ini bakal diberikan bantuan sebanyak 10.000 ekor ayam ras petelur di 6 desa di kecamatan Kedungpring, Modo, Sukorame, Kembangbahu, dan Mantup.
Berbagai program stimulus ini merupakan bagian dari Program Gerakan Membangun Ekonomi Rakyat Lamongan Berbasis Pedesaan (Gemerlap) di Kabupaten Lamongan yang telah berjalan sejak tahun 2011.
Gemerlap merupakan program daerah Kabupaten Lamongan dalam rangka pemberdayaan ekonomi masyarakat pedesaan untuk meningkatkan kemandirian dan kesejahteraan masyarakat desa. Sekaligus penanggulangan kemiskinan dengan ditandai berkembangannya sentra-sentra industri ekonomi pedesaan sebagai wujud inovasi masyarakat pedesaan yang berkelanjutan.
Gemerlap juga merupakan salah satu program unggulan di Kabupaten Lamongan sehingga di tahun 2013 menerima Innovative Government Award dari Kementrian Dalam Negeri.
Dalam bidang peternakan, Gemerlap memberikan bantuan maupun pembinaan teknis budidaya itik, ayam ras petelur dan juga kambing. (hrs)
Salah satunya adalah stimulus bantuan ternak di Desa Weduni Kecamatan Deket yang dikembangkan dengan unik. Yakni membuat kandang-kandang kambing bertingkat yang diletakkan di tegalan areal tambak.
Desa ini memang berada di kawasan bonorowo Lamongan. Tanah lapang adalah sesuatu yang langka di kawasan ini. Selain sungai dan rawa, pertanian yang berkembang di kawasan ini adalah perikanan.
Di Kawaan Ternak Kambing Terpadu Ramah Lingkungan Kelompok Kapal Mandiri di Dusun Kudu Desa Weduni, anggotanya membuat kandang-kandang kambing di atas tegalan sawah tambak. Ketika Bupati Fadeli mengunjungi kawasan ini, satu-satunya alat transportasi untuk bisa menuju kesana adalah dengan menggunakan perahu.
Disampaikan secara terpisah oleh Kepala Bappeda Aris Wibawa melalui Kabag Humas dan Infokom Mohammad Zamroni, di tahun 2011 dilaksanakan pengadaan kambing sebanyak 2.200 ekor di 11 desa di 3 kecamatan. Yakni di Kecamatan Ngimbang, Mantup dan Sambeng.
Kemudian di tahun 2013 program pengembangan agribisnis peternakan kambing menambah bantuan 110 ekor di Desa Weduni/Deket dan Desa Dumpiagung/Kembangbahu. Sementara di tahun 2014 ini, akan diberikan bantuan sebanyak 512 ekor, di 14 desa yang berada di 13 kecamatan.
Sedangkan untuk budidaya itik dikembangkan melalui pola intensif dan konvensional. Bantuan sebanyak 20.000 ekor di tahun 2011 di 8 desa yang berada di Turi dan Kalitengah telah diberikan. Selanjutnya di tahun 2012 diberikan hibah kepada kelompok ternak pembudidaya itik sebanyak 10.000 ekor di Kecamatan Turi.
Pada pengembangan agribisnis peternak ayam ras petelur dilaksanakan di Desa Kedungkumpul/Sukorame dan Desa Puter/Kembangbahu sebanyak masing-masing 10.000 ekor di tahun 2013. Pada tahun 2014 ini bakal diberikan bantuan sebanyak 10.000 ekor ayam ras petelur di 6 desa di kecamatan Kedungpring, Modo, Sukorame, Kembangbahu, dan Mantup.
Berbagai program stimulus ini merupakan bagian dari Program Gerakan Membangun Ekonomi Rakyat Lamongan Berbasis Pedesaan (Gemerlap) di Kabupaten Lamongan yang telah berjalan sejak tahun 2011.
Gemerlap merupakan program daerah Kabupaten Lamongan dalam rangka pemberdayaan ekonomi masyarakat pedesaan untuk meningkatkan kemandirian dan kesejahteraan masyarakat desa. Sekaligus penanggulangan kemiskinan dengan ditandai berkembangannya sentra-sentra industri ekonomi pedesaan sebagai wujud inovasi masyarakat pedesaan yang berkelanjutan.
Gemerlap juga merupakan salah satu program unggulan di Kabupaten Lamongan sehingga di tahun 2013 menerima Innovative Government Award dari Kementrian Dalam Negeri.
Dalam bidang peternakan, Gemerlap memberikan bantuan maupun pembinaan teknis budidaya itik, ayam ras petelur dan juga kambing. (hrs)
Baca Juga : Pengakuan Guru MTs Tentang Kunci Jawaban UN
PMII dan GMNI Desak Timsel Dibubarkan
Rabu, 14 Mei 2014
Read more...
Kerap Kali Rugi, Petambak Kini Beralih Jadi Petani
Kabarlamongan.com : Lamongan - Kerap kali mengalami kerugian yang cukup besar, para petambak di wilayah karanggeneng pun kapok untuk kembali menanam ikan ditambaknya. Beberapa orang mengaku, selama dua kali tanam ikan bandeng hasil panenan tidak sesuai yang diharapkan, bahkan harus menanggung kerugian senialai puluhan juta rupiah.
Seperti dikatakan petambak asal Desa Kaligerman, Subandi. Sebelumnya dia menanami lahan tambaknya seluas 1,2 hekar dengan sekira 3.300 bibit ikan bandeng.
“Ikannya semula terlihat sehat dan besar-besar. Tapi saat dipanen ikannya banyak yang hilang. Dihitung cuma tinggal 250 an ikan,” ujarnya.
Subandi tidak tahu pada kemana ikan yang ditabur. Sebab jika mati tidak ada bangkainya yang kelihatan di tambak. “Padahal tambak saya tidak kena banjir tapi ikannya pada hilang semua,” keluhnya lagi.
Untuk biaya memelihara ikan dari pembelian bibit, pakan ikan dan biaya perawatan lainnya, Subandi mengaku menghabiskan dana sekira Rp6 juta. Karena banyak ikannya yang hilang dirinya mengaku rugi besar. “Sekarang tambaknya saya tanami padi,” pungkas Bandi.
Petambak lainnya asal Desa Banteng Putih, Wawan juga mengaku, selama dua musim tanam selalu merugi. Ikan-ikan yang ditanam tanpa sebab yang jelas pada hilang.
“Kapok mas tanam ikan. Sekarang tambaknya saya tanami padi,” cetus Wawan. (sbu/gus)
Update terus informasi seputar Kota Lamongan, hanya di Kabarlamongan.com, Portal Berita Lamongan Terkini.
Seperti dikatakan petambak asal Desa Kaligerman, Subandi. Sebelumnya dia menanami lahan tambaknya seluas 1,2 hekar dengan sekira 3.300 bibit ikan bandeng.
“Ikannya semula terlihat sehat dan besar-besar. Tapi saat dipanen ikannya banyak yang hilang. Dihitung cuma tinggal 250 an ikan,” ujarnya.
Subandi tidak tahu pada kemana ikan yang ditabur. Sebab jika mati tidak ada bangkainya yang kelihatan di tambak. “Padahal tambak saya tidak kena banjir tapi ikannya pada hilang semua,” keluhnya lagi.
Untuk biaya memelihara ikan dari pembelian bibit, pakan ikan dan biaya perawatan lainnya, Subandi mengaku menghabiskan dana sekira Rp6 juta. Karena banyak ikannya yang hilang dirinya mengaku rugi besar. “Sekarang tambaknya saya tanami padi,” pungkas Bandi.
Petambak lainnya asal Desa Banteng Putih, Wawan juga mengaku, selama dua musim tanam selalu merugi. Ikan-ikan yang ditanam tanpa sebab yang jelas pada hilang.
“Kapok mas tanam ikan. Sekarang tambaknya saya tanami padi,” cetus Wawan. (sbu/gus)
Update terus informasi seputar Kota Lamongan, hanya di Kabarlamongan.com, Portal Berita Lamongan Terkini.
Sabtu, 12 April 2014
Read more...
KA Ekonomi Patas Surabaya - Lamongan Diluncurkan
Kabarlamongan.com : Surabaya - Tercapai sudah harapan warga Jawa Timur untuk menikmata layanan kereta api cepat jalur pendek. Pasalnya PT Kereta Api Indonesia (KAI) daerah operasional 8 Surabaya resmi meluncurkan KA Ekonomi Patas KA Maharani untuk rute Pasar Turi Surabaya ke Lamongan pulang-pergi. Penambahan rute tersebut sangat beralasan, mengingat permintaan angkutan umum kereta api cepat rute pendek cukup tinggi.
Operasional perdana KA Maharani digelar Rabu (9/4/2014) pukul 04.30 WIB dari Stasiun Pasar Turi, Surabaya.
Manager Humas PT KAI Daops 8 Surabaya, Sri Winarto, menjelaskan, fasilitas KA Maharani ini meliputi, gerbong penumpang sebanyak 5 gerbong.
"Masing-masing gerbong berkapasitas 100 tempat duduk, sehingga sekali angkut bisa 500 orang," jelasnya.
Dilengkapi AC dan ada colokan listrik untuk memberikan fasilitas aktifitas elektronik di dalam kereta. Waktu tempuh mencapai 38 menit atau kurang dari 1 jam dan dari Stasiun Pasar Turi Surabaya maupun stasiun Lamongan hanya berhenti di stasiun Tandes saja. Harga tiket Rp 10.000 untuk satu kali jalan.
Sri Winarto menambahkan, bila operasional KA Maharani ini juga untuk menjawab kebutuhan masyarakat Lamongan yang banyak melakukan pulang pergi ke Surabaya untuk bekerja. Umumnya selama ini mereka menggunakan moda angkutan lain yang banyak dikeluhkan karena macet.
"Terutama jalur yang ada di wilayah perbatasan antara Gresik akan masuk Kota Surabaya. Dengan adanya KA Maharani ini diharapkan bisa menjadi pilihan," lanjut pria asli Singosari, Kabupaten Malang ini.
Beberapa orang yang sering melakukan perjalanan untuk kerja Lamongan Surabaya mengatakan bila kehadiran KA ini diharapkan bisa mendukung waktu berangkat dan pulang kerja mereka di Surabaya - Lamongan.
"Kalau naik umum, seperti bus, saat ini sering kerepotan. Kadang bus banyak yang tidak jalan atau terjebak macet di jalur pantura sebelum Tuban," jelas Saiku, warga Deket, Lamongan, yang bekerja di sebuah pabrik kawasan Margomulyo.
Sementara bila naik motor sendiri, dia seringkali merasa kelelahan di jalan dan resiko lebih tinggi pada kecelakaan. "Bagus lah semoga bisa kami manfaatkan secara maksimal," lanjut Saikul.
Dari informasi jadwal yang ada, KA Maharani ini berangkat dari Stasiun Pasar Turi pada pukul 04.35 WIB, dan tiba di Lamongan pada pukul 05.15 WIB. Kemudian berangkat dari Stasiun Lamongan pukul 06.35 WIB, dan tiba di Stasiun Pasar Turi pada pukul 07.15 WIB. (trbun/gus)
Update terus informasi Kabupaten Lamongan hanya di Kabarlamongan.com, Berita Lamongan Terkini
Operasional perdana KA Maharani digelar Rabu (9/4/2014) pukul 04.30 WIB dari Stasiun Pasar Turi, Surabaya.
Manager Humas PT KAI Daops 8 Surabaya, Sri Winarto, menjelaskan, fasilitas KA Maharani ini meliputi, gerbong penumpang sebanyak 5 gerbong.
"Masing-masing gerbong berkapasitas 100 tempat duduk, sehingga sekali angkut bisa 500 orang," jelasnya.
Dilengkapi AC dan ada colokan listrik untuk memberikan fasilitas aktifitas elektronik di dalam kereta. Waktu tempuh mencapai 38 menit atau kurang dari 1 jam dan dari Stasiun Pasar Turi Surabaya maupun stasiun Lamongan hanya berhenti di stasiun Tandes saja. Harga tiket Rp 10.000 untuk satu kali jalan.
Sri Winarto menambahkan, bila operasional KA Maharani ini juga untuk menjawab kebutuhan masyarakat Lamongan yang banyak melakukan pulang pergi ke Surabaya untuk bekerja. Umumnya selama ini mereka menggunakan moda angkutan lain yang banyak dikeluhkan karena macet.
"Terutama jalur yang ada di wilayah perbatasan antara Gresik akan masuk Kota Surabaya. Dengan adanya KA Maharani ini diharapkan bisa menjadi pilihan," lanjut pria asli Singosari, Kabupaten Malang ini.
Beberapa orang yang sering melakukan perjalanan untuk kerja Lamongan Surabaya mengatakan bila kehadiran KA ini diharapkan bisa mendukung waktu berangkat dan pulang kerja mereka di Surabaya - Lamongan.
"Kalau naik umum, seperti bus, saat ini sering kerepotan. Kadang bus banyak yang tidak jalan atau terjebak macet di jalur pantura sebelum Tuban," jelas Saiku, warga Deket, Lamongan, yang bekerja di sebuah pabrik kawasan Margomulyo.
Sementara bila naik motor sendiri, dia seringkali merasa kelelahan di jalan dan resiko lebih tinggi pada kecelakaan. "Bagus lah semoga bisa kami manfaatkan secara maksimal," lanjut Saikul.
Dari informasi jadwal yang ada, KA Maharani ini berangkat dari Stasiun Pasar Turi pada pukul 04.35 WIB, dan tiba di Lamongan pada pukul 05.15 WIB. Kemudian berangkat dari Stasiun Lamongan pukul 06.35 WIB, dan tiba di Stasiun Pasar Turi pada pukul 07.15 WIB. (trbun/gus)
Update terus informasi Kabupaten Lamongan hanya di Kabarlamongan.com, Berita Lamongan Terkini
Kamis, 10 April 2014
Read more...
Bulog Apresiasi Rencana 1 Desa 1 Lumbung Pangan
Kabarlamongan.com : Lamongan - Kemampuan Bulog untuk membeli hasil panen petani di Kabupaten Lamongan sementara ini hanya sebatas 7 persen saja. Hal tersebut diungkapkan oleh Asisten Kepala Perum Bulog Subdivre Jatim, Sukandar SN. Oleh karena itu, pihaknya menyebut program satu desa satu lumbung pangan yang dicanangkan Bupati Fadeli merupakan program yang positif dalam rangka menjaga ketahanan pangan dan stabilitas harga komoditas.
Hal itu disampaikannya saat Sosialisasi Program Satu Desa Satu Lumbung Pangan dan Pengadaan Gabah di Dalam Negeri, di Pendopo Lokatantra, Selasa (01/04).
Dari data yang disampaikan oleh Sukandar, target pengadaan beras dalam negeri (Ada DN) untuk wilayah Sub Divre Bojonegoro tahun ini sebesar 200 ribu ton. Rinciannya, untuk Bojonegoro dijatah penyerapan 100 ribu ton, Tuban dijatah 66 ribu ton dan jatah paling rendah untuk Lamongan sebesar 34 ribu ton.
Sedangkan realisasi penyerapan beras hingga 28 Maret 2013, masih menurut Sukandar, tercapai 17.119 ton atau sebesar 8,6 persen untuk wilayah Sub Divre Bojonegoro. Dengan rincian penyerapan Bojonegoro sebesar 3.566 ton atau 3,6 persen, Tuban sebesar 5.186 ton atau 7,9 persen dan penyerapan terbesar adalah di Lamongan sebesar 8.367 ton atau sebanyak 24,6 persen dari target.
Di kesempatan yang sama Fadeli menyebut ketahanan pangan merupakan salah satu prioritas pembangunan nasional. Dikatakannya, petani memiliki kedudukan yang strategis namun sering kali petani dirugikan karena jatuhnya harga komoditas pangan di saat panen raya, keterbatasan modal usaha baik untuk pengolahan, penyimpanan maupun distribusi sedangkan saat musim tanam harga komoditas menjadi tinggi.
Oleh karena itulah, sambung dia, untuk membangun ketahanan pangan, tahun ini dia mencanangkan Program Satu Desa Satu Lumbung Pangan untuk menjaga stabilitas harga komoditas, terutama padi Kabupaten Lamongan.
“Dari 474 desa dan kelurahan di Kabupaten Lamongan, masih terdapat 229 desa yang belum mempunyai lumbung pangan. Oleh karena itu di tahun 2014, Pemerintah Daerah menganggarkan dana sebesar Rp. 1.000.000 bagi setiap desa untuk memfasilitasi pembangunannya”, Ungkap Fadeli.
Bupati Fadeli juga berharap agar dari 19.611 ha lahan yang saat ini siap panen, hasil panen tersebut tidak langsung dijual namun dapat disimpan di lumbung pangan desa setempat. Sehingga ada nilai tambah bagi gabah yang dipanen dan bisa lebih memberi kesejahteraan.
Dalam acara yang diikuti oleh kurang lebih 400 peserta dari SKPD terkait, 27 camat, UPT Dinas Pertanian, Gapoktan dan Kepala Desa yang belum mempunyai lumbung pangan ini mendatangkan narasumber dari Pokja Ketahanan Pangan Propinsi Jawa Timur Zainal Abidin MS dan Asisten Kepala Perum Bulog Subdivre Jatim Sukandar SN. (hrs)
Hal itu disampaikannya saat Sosialisasi Program Satu Desa Satu Lumbung Pangan dan Pengadaan Gabah di Dalam Negeri, di Pendopo Lokatantra, Selasa (01/04).
Dari data yang disampaikan oleh Sukandar, target pengadaan beras dalam negeri (Ada DN) untuk wilayah Sub Divre Bojonegoro tahun ini sebesar 200 ribu ton. Rinciannya, untuk Bojonegoro dijatah penyerapan 100 ribu ton, Tuban dijatah 66 ribu ton dan jatah paling rendah untuk Lamongan sebesar 34 ribu ton.
Sedangkan realisasi penyerapan beras hingga 28 Maret 2013, masih menurut Sukandar, tercapai 17.119 ton atau sebesar 8,6 persen untuk wilayah Sub Divre Bojonegoro. Dengan rincian penyerapan Bojonegoro sebesar 3.566 ton atau 3,6 persen, Tuban sebesar 5.186 ton atau 7,9 persen dan penyerapan terbesar adalah di Lamongan sebesar 8.367 ton atau sebanyak 24,6 persen dari target.
Di kesempatan yang sama Fadeli menyebut ketahanan pangan merupakan salah satu prioritas pembangunan nasional. Dikatakannya, petani memiliki kedudukan yang strategis namun sering kali petani dirugikan karena jatuhnya harga komoditas pangan di saat panen raya, keterbatasan modal usaha baik untuk pengolahan, penyimpanan maupun distribusi sedangkan saat musim tanam harga komoditas menjadi tinggi.
Oleh karena itulah, sambung dia, untuk membangun ketahanan pangan, tahun ini dia mencanangkan Program Satu Desa Satu Lumbung Pangan untuk menjaga stabilitas harga komoditas, terutama padi Kabupaten Lamongan.
“Dari 474 desa dan kelurahan di Kabupaten Lamongan, masih terdapat 229 desa yang belum mempunyai lumbung pangan. Oleh karena itu di tahun 2014, Pemerintah Daerah menganggarkan dana sebesar Rp. 1.000.000 bagi setiap desa untuk memfasilitasi pembangunannya”, Ungkap Fadeli.
Bupati Fadeli juga berharap agar dari 19.611 ha lahan yang saat ini siap panen, hasil panen tersebut tidak langsung dijual namun dapat disimpan di lumbung pangan desa setempat. Sehingga ada nilai tambah bagi gabah yang dipanen dan bisa lebih memberi kesejahteraan.
Dalam acara yang diikuti oleh kurang lebih 400 peserta dari SKPD terkait, 27 camat, UPT Dinas Pertanian, Gapoktan dan Kepala Desa yang belum mempunyai lumbung pangan ini mendatangkan narasumber dari Pokja Ketahanan Pangan Propinsi Jawa Timur Zainal Abidin MS dan Asisten Kepala Perum Bulog Subdivre Jatim Sukandar SN. (hrs)
Selasa, 01 April 2014
Read more...
Pegadaian Ramai Diserbu Caleg
Kabarlamongan.com : Lamongan - Tempat pegadaian di Lamongan pada pekan kedua masa kampanye terbuka pemilihan legislatif tampaknya terlihat ramai, itu terjadi lantaran sejumlah caleg ingin menggadaikan barang berharga mereka. Barang tersebut antara lain yaitu berupa perhiasan, emas batangan, hingga mobil mewah seharga ratusan juta.
Pimpinan Cabang kantor Pegadaian Lamongan Syafii kepada wartawan mengakui kalau selama masa kampanye terbuka banyak sekali calon anggota legislatif yang menggadaikan barangnya di Pegadaian untuk memperoleh dana segar. Dana segar tersebut, akan mereka gunakan untuk membiayai pencalonan mereka sebagai anggota legislatif 2014.
Syafii mengaku, sejak awal tahun ini atau sejak bulan januari hingga sekarang pihaknya sudah cukup banyak menerima barang berharga milik caleg.
"Kami menerima banyak sekali barang gadaian dari orang-orang yang saat ini menjadi caleg," katanya.
Syafii menjelaskan, barang berharga milik para caleg yang digadaikan tersebut rata-rata perhiasan emas, emas batangan bahkan juga mobil seharga ratusan juta rupiah. Mengenai nilai pinjaman, Syafii mengaku kalau pinjaman tersebut bervariasi mulai Rp. 50 juta hingga ratusan juta rupiah.
Hanya saja, Syafii enggan untuk mengungkap lebih jauh identitas para caleg yang terpaksa menggadaikan barang berharga tersebut dengan alasan privasi. "Kami tidak bisa mengungkapkan identitas orang-orang yang menggadaikan barang berharga karena itu adalah privasi," akunya.
Banyaknya caleg yang menggadaikan barang berharga ini, lanjut Syafii, juga membuat omzet pegadaian meningkat tajam. Dari bulan januari hingga saat ini, aku Syafii, omzet pegadaian sudah mencapai Rp 70 juta hingga Rp. 1 M.
"Kenaikan tajam ini mengherankan karena terjadi justru pada masa kampanye," ungkapnya.
Syafii juga meyakini, omzet pegadaian yang mencapai ratusan juta hingga 1 milyar ini akan terus bertambah seiring dengan pelaksanaan kampanye hingga masa kampanye terbuka usai 4 april mendatang.
"Kami yakin omzet akan terus bertambah seiring masa kampanye," pungkasnya. (ju/gus)
Pimpinan Cabang kantor Pegadaian Lamongan Syafii kepada wartawan mengakui kalau selama masa kampanye terbuka banyak sekali calon anggota legislatif yang menggadaikan barangnya di Pegadaian untuk memperoleh dana segar. Dana segar tersebut, akan mereka gunakan untuk membiayai pencalonan mereka sebagai anggota legislatif 2014.
Syafii mengaku, sejak awal tahun ini atau sejak bulan januari hingga sekarang pihaknya sudah cukup banyak menerima barang berharga milik caleg.
"Kami menerima banyak sekali barang gadaian dari orang-orang yang saat ini menjadi caleg," katanya.
Syafii menjelaskan, barang berharga milik para caleg yang digadaikan tersebut rata-rata perhiasan emas, emas batangan bahkan juga mobil seharga ratusan juta rupiah. Mengenai nilai pinjaman, Syafii mengaku kalau pinjaman tersebut bervariasi mulai Rp. 50 juta hingga ratusan juta rupiah.
Hanya saja, Syafii enggan untuk mengungkap lebih jauh identitas para caleg yang terpaksa menggadaikan barang berharga tersebut dengan alasan privasi. "Kami tidak bisa mengungkapkan identitas orang-orang yang menggadaikan barang berharga karena itu adalah privasi," akunya.
Banyaknya caleg yang menggadaikan barang berharga ini, lanjut Syafii, juga membuat omzet pegadaian meningkat tajam. Dari bulan januari hingga saat ini, aku Syafii, omzet pegadaian sudah mencapai Rp 70 juta hingga Rp. 1 M.
"Kenaikan tajam ini mengherankan karena terjadi justru pada masa kampanye," ungkapnya.
Syafii juga meyakini, omzet pegadaian yang mencapai ratusan juta hingga 1 milyar ini akan terus bertambah seiring dengan pelaksanaan kampanye hingga masa kampanye terbuka usai 4 april mendatang.
"Kami yakin omzet akan terus bertambah seiring masa kampanye," pungkasnya. (ju/gus)
Rabu, 26 Maret 2014
Read more...
Usulan Belanja Langsung Tahun 2015 Naik 74,3 Persen
Kabarlamongan.com : Lamongan - Bupati Lamongan Fadeli mengajak semua pihak, khususnya Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) untuk bekerja lebih giat memberikan pelayanan kepada masyarakat. Hal tersebut ditandaskannya saat membuka Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) Rencana Kerja Pembangunan Daerah (RKPD) Tahun 2015, Senin (24/3) di Pendopo Lokatantra setempat.
“Saya mengajak semua pihak khususnya SKPD agar bekerja lebih giat, cepat dan kalau bisa berlari karena tantangan ke depan akan semakin bera. Acara ini merupakan wahana untuk menyatukan tekad dalam rangka pembangunan Kabupaten Lamongan dan untuk kesejahteraan masyarakat”, ungkap Fadeli.
Acara yang merupakan rangkaian kegiatan rutin tahunan perencanaan pembangunan tersebut dihadiri oleh Kepala Bappeprop Jatim yang diwakili oleh Kabid Pemerintahan dan Kemasyarakatan Iswan Hadi. Dia menyampaikan Rancangan RKPD Propinsi Jawa Timur Tahun 2015.
Di kesempatan itu, Kepala Bappeda Aris Wibawa menyampaikan 10 program prioritas pembangunan di tahun 2015. Yakni Peningkatan mutu pendidikan, peningkatan pelayanan kesehatan masyarakat dan kualitas lingkungan hidup, pembangunan dan peningkatan infrastruktur, peningkatan produktivitas pertanian dan perikanan serta pengamanan ketahanan pangan.
Kemudian peningkatan pelayanan kepemerintahan, peningkatan kesadaran dan kerukunan umat beragama, peningkatan peran serta perempuan dalam pembangunan, peningkatan peran pemuda dan prestasi olahraga, dan peningkatan kualitas hidup masyarakat.
Dia juga menyampaikan usulan anggaran kegiatan tahun 2015 (belanja langsung) yakni sebesar Rp. 1.025.402.281.956 dari APBD Kabupaten dengan 1.737 kegiatan. Sedangkan Rp. 79.639.555.000 dari APBD Propinsi dengan 173 kegiatan, dan Rp. 310.844.576.600 dari APBN dengan 211 kegiatan.
Di kesempatan yang sama, Kepala Badan Keuangan dan Aset Daerah Hery Pranoto merinci estimasi APBD Kabupaten Lamongan Tahun 2015.
Disebutkannya, pada tahun 2015 Pendapatan Daerah diproyeksikan sementara sebesar Rp. 1.811.898.423.730, atau naik 2,06%. Dengan rincian dari pos PAD sebesar Rp. 207.599.980.550, atau naik 16,05%. Selanjutnya Dana Perimbangan Rp. 1.281.824.667.780 yang naik 6,39%, Lain-lain Pendapatan Daerah Yang Sah Rp. 322.473.775.400 atau naik 17,65%.
Sedangkan dari sisi Belanja Tidak Langsung diproyeksikan naik 3,32% menjadi Rp. 1.219.232.018.580. Pos Belanja Langsung dari usulan SKPD diakomodir semua senilai Rp. 1.025.402.281.956 sehingga naik 74,3%.
Dengan proyeksi Penerimaan Pembiayaan tahun 2015 sebesar Rp. 27.400.000.000 yang turun 17,96% dan Pengeluaran Pembiayaan sebesar Rp. 25.400.000.000 turun 37,05%, maka didapat estimasi Silpa Tahun berkenaan minus sebesar Rp. 430.735.876.806. (hrs)
“Saya mengajak semua pihak khususnya SKPD agar bekerja lebih giat, cepat dan kalau bisa berlari karena tantangan ke depan akan semakin bera. Acara ini merupakan wahana untuk menyatukan tekad dalam rangka pembangunan Kabupaten Lamongan dan untuk kesejahteraan masyarakat”, ungkap Fadeli.
Acara yang merupakan rangkaian kegiatan rutin tahunan perencanaan pembangunan tersebut dihadiri oleh Kepala Bappeprop Jatim yang diwakili oleh Kabid Pemerintahan dan Kemasyarakatan Iswan Hadi. Dia menyampaikan Rancangan RKPD Propinsi Jawa Timur Tahun 2015.
Di kesempatan itu, Kepala Bappeda Aris Wibawa menyampaikan 10 program prioritas pembangunan di tahun 2015. Yakni Peningkatan mutu pendidikan, peningkatan pelayanan kesehatan masyarakat dan kualitas lingkungan hidup, pembangunan dan peningkatan infrastruktur, peningkatan produktivitas pertanian dan perikanan serta pengamanan ketahanan pangan.
Kemudian peningkatan pelayanan kepemerintahan, peningkatan kesadaran dan kerukunan umat beragama, peningkatan peran serta perempuan dalam pembangunan, peningkatan peran pemuda dan prestasi olahraga, dan peningkatan kualitas hidup masyarakat.
Dia juga menyampaikan usulan anggaran kegiatan tahun 2015 (belanja langsung) yakni sebesar Rp. 1.025.402.281.956 dari APBD Kabupaten dengan 1.737 kegiatan. Sedangkan Rp. 79.639.555.000 dari APBD Propinsi dengan 173 kegiatan, dan Rp. 310.844.576.600 dari APBN dengan 211 kegiatan.
Di kesempatan yang sama, Kepala Badan Keuangan dan Aset Daerah Hery Pranoto merinci estimasi APBD Kabupaten Lamongan Tahun 2015.
Disebutkannya, pada tahun 2015 Pendapatan Daerah diproyeksikan sementara sebesar Rp. 1.811.898.423.730, atau naik 2,06%. Dengan rincian dari pos PAD sebesar Rp. 207.599.980.550, atau naik 16,05%. Selanjutnya Dana Perimbangan Rp. 1.281.824.667.780 yang naik 6,39%, Lain-lain Pendapatan Daerah Yang Sah Rp. 322.473.775.400 atau naik 17,65%.
Sedangkan dari sisi Belanja Tidak Langsung diproyeksikan naik 3,32% menjadi Rp. 1.219.232.018.580. Pos Belanja Langsung dari usulan SKPD diakomodir semua senilai Rp. 1.025.402.281.956 sehingga naik 74,3%.
Dengan proyeksi Penerimaan Pembiayaan tahun 2015 sebesar Rp. 27.400.000.000 yang turun 17,96% dan Pengeluaran Pembiayaan sebesar Rp. 25.400.000.000 turun 37,05%, maka didapat estimasi Silpa Tahun berkenaan minus sebesar Rp. 430.735.876.806. (hrs)
Senin, 24 Maret 2014
Read more...
Pasar Ikan Dinoyo Sepi Peminat
Kabarlamongan.com : Deket - Pasar Ikan Dinoyo di jalan Raya Deket – Karangbinangun yang selesai dibangun sejak dua tahun lalu sampai hari ini tidak diminati para petambak dan pedagang ikan. Lokasi dalam pasar bahkan tidak pernah ditempati oleh satupun pedagang.
Mereka hanya memanfaatkan pelataran depan pasar karena kecilnya animo masyarakat untuk bertransaksi di dalam pasar. Lokasi dalam Pasar Ikan yang dibangun pada 2012 senilai Rp 1,20 miliar ini bersih dan kering karena sama sekali tidak dipakai aktifitas oleh para pedagang. Dan setiap hari keadaan berjalan seperti itu tanpa ada peningkatan apapun.
Media Kamis (20/03/2013) pagi datang ke pasar ikan yang baru diresmikan. melihat kenyataan begitu sepinya. Seluruh luas bangunan lantai dalam pasar kering dan tidak ada sedikitpun air yang membasahi lantai meski berupa limbah ikan.
Bersihnya lantai dalam pasar itu hanya dimanfaatkan sejumlah pedagang untuk duduk – duduk dan beristirahat sembari sesekali mereka menunggu ada petambak yang ‘kesasar’ menjajakan hasil ikan tambaknya ke Pasar Ikan Dinoyo. Kalaupun ada transaksi, mereka menggelar di depan pelataran pasar berpaving.
Selama bertahun – tahun, dari sebelum pasar dibangun semegah sekarang , hanya ada lima juragan yang bertahan di pasar itu untuk melakukan transaksi jual beli. Mereka itu diantaranya, H Hudlori Ali, Kasri, Danisi, Sunariyah dan Fatimah. Para juragan ini ada sejak 1983 hingga sekarang menekuni pekerjaannya di pasar tersebut.
“Kalau juragan yang ada di pasar ini hanya ada lima orang, termasuk saya satu – satunya juragan laki – laki yang menekuni bisnis di Pasar Ikan Dinoyo ini,”ungkap Hudlori Ali.
Menurut Hudlori Ali, Pasar Ikan Dinoyo dalam sejarah tidak pernah ramai, karena petambak cenderung memilih membawa ikan hasil panennya ke Pasar Ikan di Lamongan kota. Sebelum pasar dibangun apik sampai semegah ini memang tidak pernah ramai.
Banyaknya juragan yang ada di Pasar Ikan Lamongan tetap menjadi pilihan pedagang serta petambak dengan harapan akan mendapatkan harga yang lebih tinggi.
”Yang memilih membawa ke Pasar Ikan Dinoyo sangat kecil jumlahnya. Saya saja, dari Pasar Ikan Dinoyo paling banyak dapat ikan sekitar 1, 5 ton,”ungkap Hudlori seraya menambahkan juragan di Pasar Ikan Dinoyo hanya juragan kelas kecil.
Data lain menunjukkan, jumlah kuli angkut juga hanya ada segelintir orang, dan tidak pernah lebih dari tiga orang yakni Heri Sumaji, Dul Padi serta Sholihin.”Ikan yang masuk sini (Pasar Dinoyo, red) tidak banyak, kadang 1 keranjang sampai 2 keranjang untuk setiap petambak dan jumlah penjualnya juga keci,”ungkap Sumaji.
Djoko Purwanto, Direktis PD Pasar Lamongan dikonfirmasi Surya, Kamis (20/03/2014) menyatakan, Pasar Ikan Dinoyo sampai sekarang memang belum ada perkembangan. Bahkan diakui belum bisa memberika masukan PAD sekecil apapun.
”Para pedagang maupun petambak sendiri senang menjual ikannya di Pasar Ikan Lamongan. Jaraknya juga tidak terlalu jauh,”ungkap Djoko Purwanto.
Meski begitu pihaknya tetap mengupayakan untuk meramaikan Pasar Ikan Dinoyo dan diminati para juragan. PD Pasar intens membujuk para pedagang untuk memanfaatkan Pasar Ikan Dinoyo .
”Terus terang kita belum bisa menugaskan petugas PD Pasar di Pasar Dinoyo. Ya hanya sesekali saja, karena tidak ada aktifitas yang ideal,”kata Djoko Purwanto. (surya/ding)
Mereka hanya memanfaatkan pelataran depan pasar karena kecilnya animo masyarakat untuk bertransaksi di dalam pasar. Lokasi dalam Pasar Ikan yang dibangun pada 2012 senilai Rp 1,20 miliar ini bersih dan kering karena sama sekali tidak dipakai aktifitas oleh para pedagang. Dan setiap hari keadaan berjalan seperti itu tanpa ada peningkatan apapun.
Media Kamis (20/03/2013) pagi datang ke pasar ikan yang baru diresmikan. melihat kenyataan begitu sepinya. Seluruh luas bangunan lantai dalam pasar kering dan tidak ada sedikitpun air yang membasahi lantai meski berupa limbah ikan.
Bersihnya lantai dalam pasar itu hanya dimanfaatkan sejumlah pedagang untuk duduk – duduk dan beristirahat sembari sesekali mereka menunggu ada petambak yang ‘kesasar’ menjajakan hasil ikan tambaknya ke Pasar Ikan Dinoyo. Kalaupun ada transaksi, mereka menggelar di depan pelataran pasar berpaving.
Selama bertahun – tahun, dari sebelum pasar dibangun semegah sekarang , hanya ada lima juragan yang bertahan di pasar itu untuk melakukan transaksi jual beli. Mereka itu diantaranya, H Hudlori Ali, Kasri, Danisi, Sunariyah dan Fatimah. Para juragan ini ada sejak 1983 hingga sekarang menekuni pekerjaannya di pasar tersebut.
“Kalau juragan yang ada di pasar ini hanya ada lima orang, termasuk saya satu – satunya juragan laki – laki yang menekuni bisnis di Pasar Ikan Dinoyo ini,”ungkap Hudlori Ali.
Menurut Hudlori Ali, Pasar Ikan Dinoyo dalam sejarah tidak pernah ramai, karena petambak cenderung memilih membawa ikan hasil panennya ke Pasar Ikan di Lamongan kota. Sebelum pasar dibangun apik sampai semegah ini memang tidak pernah ramai.
Banyaknya juragan yang ada di Pasar Ikan Lamongan tetap menjadi pilihan pedagang serta petambak dengan harapan akan mendapatkan harga yang lebih tinggi.
”Yang memilih membawa ke Pasar Ikan Dinoyo sangat kecil jumlahnya. Saya saja, dari Pasar Ikan Dinoyo paling banyak dapat ikan sekitar 1, 5 ton,”ungkap Hudlori seraya menambahkan juragan di Pasar Ikan Dinoyo hanya juragan kelas kecil.
Data lain menunjukkan, jumlah kuli angkut juga hanya ada segelintir orang, dan tidak pernah lebih dari tiga orang yakni Heri Sumaji, Dul Padi serta Sholihin.”Ikan yang masuk sini (Pasar Dinoyo, red) tidak banyak, kadang 1 keranjang sampai 2 keranjang untuk setiap petambak dan jumlah penjualnya juga keci,”ungkap Sumaji.
Djoko Purwanto, Direktis PD Pasar Lamongan dikonfirmasi Surya, Kamis (20/03/2014) menyatakan, Pasar Ikan Dinoyo sampai sekarang memang belum ada perkembangan. Bahkan diakui belum bisa memberika masukan PAD sekecil apapun.
”Para pedagang maupun petambak sendiri senang menjual ikannya di Pasar Ikan Lamongan. Jaraknya juga tidak terlalu jauh,”ungkap Djoko Purwanto.
Meski begitu pihaknya tetap mengupayakan untuk meramaikan Pasar Ikan Dinoyo dan diminati para juragan. PD Pasar intens membujuk para pedagang untuk memanfaatkan Pasar Ikan Dinoyo .
”Terus terang kita belum bisa menugaskan petugas PD Pasar di Pasar Dinoyo. Ya hanya sesekali saja, karena tidak ada aktifitas yang ideal,”kata Djoko Purwanto. (surya/ding)
Jumat, 21 Maret 2014
Read more...
Ekonomi Lamongan Berkembang Pesat
Lampaui Ekonomi Nasional
Kabarlamongan.com : Lamongan - Perekonomian Lamongan selama tahun 2013 kemarin tumbuh sebesar 6,85 persen. Pertumbuhan ekonomi Kabupaten Lamongan itu masih diatas pertumbuhan ekonomi nasional yang hanya 5,78 persen maupun Propinsi Jawa Timur yang tumbuh sebesar 6,55 persen.
“Pendapatan Domestik Regional Bruto (PDRB) merupakan salah satu indikator yang dapat dijadikan ukuran untuk menilai keberhasilan pembangunan suatu daerah. Karena secara nyata mampu memberikan gambaran mengenai nilai tambah bruto yang dihasilkan unit-unit produksi pada suatu daerah dalam periode tertentu, “ ucap Kabag Humas dan Infokom Mohammad Zamroni kemarin.
Disebutkan olehnya, dari hasil perhitungan PDRB tahun 2013 yang masih berupa angka estimasi, diketahui bahwa total nilai PDRB atas dasar harga konstan Kabupaten Lamongan sebesar Rp 7.584.230.310.000,00. Sedangkan pada tahun 2012 sebesar Rp 7.098.168.750.000,00.
Lebih lanjut dikatakannya, apabila dilihat dari angka estimasi PDRB tersebut, maka pada tahun 2013 perekonomian Lamongan tumbuh sebesar 6,85 persen.
“Ini berarti pertumbuhan ekonomi Kabupaten Lamongan tumbuh lebih tinggi diatas pertumbuhan ekonomi nasional yang hanya 5,78 persen maupun Propinsi Jawa Timur yang sebesar 6,55 persen, “ ujar dia.
Dijelaskan olehnya, dari sembilan sektor yang mendukung nilai PDRB, sektor pertanian masih memiliki kontribusi paling besar, yakni 39,89 persen yang tumbuh 3,67 persen disbanding tahun 2012.
Sedangkan Sektor Perdagangan, Hotel dan Restoran memberikan kontribusi terbesar kedua terhadap total PDRB Kabupaten Lamongan. Yakni 36,41 persen yang tumbuh 10,68 persen dari tahun 2012.
Sementara dari sektor jasa-jasa memberi kontribusi sebesar 9,14 persen terhadap total PDRB. Kontribusi sektor ini dipengaruhi oleh berkembangnya Sub Sektor Pemerintahan Umum dan Sub Sektor Swasta yang terdiri dari sosial kemasyarakatan, hiburan dan rekreasi serta perorangan dan rumah tangga yang tumbuh 8,73 persen.
Untuk sektor industri pengolahan, memberikan kontribusi sebesar 5,23 persen dan tumbuh 9,38 persen dari tahun sebelumnya. Selanjutnya kontribusi sektor keuangan, persewaan dan jasa perusahaan menduduki posisi kelima sebanyak 3,46 persen.
Berturut-turut selanjutnya sektor bangunan memberii kontribusi sebesar 2,91 persen, sektor pengangkutan dan komunikasi 2,04 persen, listrik,gas dan air bersih 0,69 persen dan pertambangan dan penggalian 0,22 persen. Patut diketahui, sektor pertambangan dan penggalian tumbuh 11,36 persen dari tahun sebelumnya. (fbi)
Kamis, 20 Maret 2014
Read more...
Dana Bagi Hasil Pajak Penghasilan Ditarget Rp 14 Miliar
Kabarlamongan.com : Lamongan - Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Pratama Lamongan tahun ini menargetkan bisa memenuhi target kepatuhan Surat Pemberitahuan (SPT) Tahunan Pajak Penghasilan (PPh) bisa mencapai 40.639 SPT Tahunan. Jumlah target tersebut mencapai 72,5 persen dari jumlah wajib pajak efektif.
Terkait itu, KPP Pratama Lamongan menggandeng berbagai pihak untuk mensukseskannya. Termasuk Bupati Fadeli yang kemarin (18/3) bersama Sekkab Yuhronur Efendi dan Asisten Administrasi Sulastri menyampaikan laporan SPT PPh tahun 2013 di KPP Pratama.
“Diharapkan kegiatan oleh Bapak Bupati dan Bapak Sekda hari ini bisa menjadi panutan. Sehingga bisa meningkatkan kepatuhan para wajib pajak di Lamongan dalam melaporkan SPT tahunannya tepat waktu, “ ujar Kepala KPP Pratama Lamongan Deddy Perwira.
“Batas waktu penyampaian untuk SPt Tahunan Orang Pribadi adalah 31 Maret. Dan untuk SPT Tahunan Badan adalah sampai dengan 30 April, “ imbuh Deddy.
Menurut Deddy, wajib pajak bisa menyampaikan laporannya lewat berbagai media yang sudah disediakan. Seperti melalui drop box yang tersedia dan melalui Kantor Pos.
Juga melalui media terbaru, yakni penyampaian SPT Tahunan melelui internet atau e-Filling. “Melalui e-Filling, akan memberikan banyak kemudahan kepada wajib pajak karena efektif pada waktu dan biaya, “ kata Deddy.
Bupati Fadeli di kesempatan itu juga berharap agar ada peningkata kepatuhan wajib pajak dalam melaporkan SPT Tahunan yang diikuti dengan tingkat kebenaran data. Jika hal itu dilakukan, lanjut Fadeli, akan berdampak pada pencapaian target penerimaan pajak yang pada akhirnya akan digunakan untuk pembangunan di Lamongan.
Dalam keterangan yang disampaikan KPP Pratama, tahun ini mereka menargetkan penerimaan pajaknya bisa terealisasi sebesar Rp 214 miliar. Selain itu, juga aka berdampak pada pendapatan Pemkab Lamongan dari alokasi dana bagi hasil untuk PPh 25/29 OP dan PPh 21 yang tahun ini ditargetkan bisa mencapai Rp 14 miliar. (hrs)
Terkait itu, KPP Pratama Lamongan menggandeng berbagai pihak untuk mensukseskannya. Termasuk Bupati Fadeli yang kemarin (18/3) bersama Sekkab Yuhronur Efendi dan Asisten Administrasi Sulastri menyampaikan laporan SPT PPh tahun 2013 di KPP Pratama.
“Diharapkan kegiatan oleh Bapak Bupati dan Bapak Sekda hari ini bisa menjadi panutan. Sehingga bisa meningkatkan kepatuhan para wajib pajak di Lamongan dalam melaporkan SPT tahunannya tepat waktu, “ ujar Kepala KPP Pratama Lamongan Deddy Perwira.
“Batas waktu penyampaian untuk SPt Tahunan Orang Pribadi adalah 31 Maret. Dan untuk SPT Tahunan Badan adalah sampai dengan 30 April, “ imbuh Deddy.
Menurut Deddy, wajib pajak bisa menyampaikan laporannya lewat berbagai media yang sudah disediakan. Seperti melalui drop box yang tersedia dan melalui Kantor Pos.
Juga melalui media terbaru, yakni penyampaian SPT Tahunan melelui internet atau e-Filling. “Melalui e-Filling, akan memberikan banyak kemudahan kepada wajib pajak karena efektif pada waktu dan biaya, “ kata Deddy.
Bupati Fadeli di kesempatan itu juga berharap agar ada peningkata kepatuhan wajib pajak dalam melaporkan SPT Tahunan yang diikuti dengan tingkat kebenaran data. Jika hal itu dilakukan, lanjut Fadeli, akan berdampak pada pencapaian target penerimaan pajak yang pada akhirnya akan digunakan untuk pembangunan di Lamongan.
Dalam keterangan yang disampaikan KPP Pratama, tahun ini mereka menargetkan penerimaan pajaknya bisa terealisasi sebesar Rp 214 miliar. Selain itu, juga aka berdampak pada pendapatan Pemkab Lamongan dari alokasi dana bagi hasil untuk PPh 25/29 OP dan PPh 21 yang tahun ini ditargetkan bisa mencapai Rp 14 miliar. (hrs)
Selasa, 18 Maret 2014
Read more...
Pemuda Banyubang Kembangkan Budidaya Jamur Tiram
Kabarlamongan.com : Solokuro - Tidak perlu takut lagi untuk mencoba budidaya jamur tiram. Sebab ada banyak cara yang bisa dilakukan untuk menyiasati kondisi lingkungan di Kabupaten Lamongan.
Desa Banyubang Kecamatan Solokuro menjadi unik karena beberapa pemuda disana telah melakukan budidaya jamur tiram putih, padahal faktor cuaca di Kabupaten Lamongan terbilang sangat tidak cocok untuk usaha ini. Namun Ainur Rofiq, seorang pemuda desa ini bisa membuktikan bahwa apapun jika ditekuni pasti bisa, tidak perlu ke Kota Malang ataupun Jawa Barat untuk mengkonsumsi jamur, di kota Lamongan sudah ada.
Usaha budidaya jamur tiram memang sangat menggiurkan, dilihat dari segi finansial dapat dikatakan usaha ini layak untuk dijalankan. Apalagi bagi para penikmat ataupun wirausahawan, usaha ini terbilang sangat menyenangkan dan menarik.
Jika kita amati, peminat usaha budidaya ini terus meningkat dari tahun ke tahun di Desa Banyubang ini. Tentu saja banyak faktor yang menjadi alasan meningkatnya peminat usaha ini mulai dari sekedar hobi, faktor jamur sebagai pangan yang sehat ataupun jamur sebagai pangan masa depan. Itu artinya usaha ini akan terus berkembang untuk waktu yang lama.
Pemuda yang juga tercatat sebagai pegawai Badan Narkotika Kabupaten Lamongan ini mengisi hari-hari kosong dengan budidaya jamur tiram putih ini mengatakan, merasa sangat senang, pasalnya hampir setiap hari bisa panen jamur dan hasilnya pun sangat memuaskan bisa setiap hari mendapat pemasukan rata-rata Rp.200.000,- dari penjualan jamur.
“Dalam hal pemasaran kami tidak merasa kebingungan, karena bisa langsung dibawah keagen atau pasar-pasar kecamatan, terkadang pula tetangga sekitar langsung membeli ke rumah,” tandasnya.
Tapi tentu bukan berarti usaha ini tanpa kendala. Bagaimanapun usaha budidaya ini melibatkan makhluk hidup. Berbeda dengan benda mati, bekerja dengan makhluk hidup terkadang sulit untuk ditebak karena kondisinya yang bisa berubah ubah.
Oleh karena itu ada sifat sifat makhluk hidup yang sebisa mungkin harus kita kenali tidak terkecuali jamur tiram. Salah satu yang harus diperhatikan ialah faktor lingkungan dimana jamur tiram dapat tumbuh dengan sehat yaitu berupa ketinggian lokasi, suhu, kelembapan, dan kebersihan lingkungan menjadi faktor penting.
Saat didatangi oleh wartawan Tabloid Lensa Lamongan, yang menjadi pertanyaan penting adalah bisakah jamur tiram ini dibudidayakan di luar kondisi optimum jamur tiram. Kita ketahui pada umumnya jamur tiram tumbuh baik di lingkungan yang bersuhu dingin bisakah ditanam didaerah Lamongan?. Biasanya pertumbuhan jamur tiram akan optimal sepanjang tahun bila lokasi budidayanya sesuai dengan habitat aslinya, yakni di kawasan pegunungan atau di daerah dataran dengan ketinggian antara 400-800 meter di atas permukaan air laut, serta memiliki suhu udara sekitar 20-28°C dengan tingkat kelembapan sekitar 70% sampai 80%. Lalu bisakah jamur tiram dibudidayakan di daerah panas?.
Dengan santai dan percaya diri bapak dengan satu anak ini menjelaskan, walaupun berada di daerah dataran rendah khususnya di lingkungan yang cukup panas, kini tidak perlu takut lagi untuk mencoba budidaya jamur tiram. Sebab ada banyak cara yang bisa Anda lakukan untuk menyiasati kondisi lingkungan di sekitar Anda.
“Salah satu contoh dengan membuat bangunan yang tidak menyerap panas, memasang alat pengukur suhu, dan yang paling penting adalah selalu menyemprotkan air ke dinding dan lantai agar suhu tetap setabil,” Terangnya. [Hrs]
Desa Banyubang Kecamatan Solokuro menjadi unik karena beberapa pemuda disana telah melakukan budidaya jamur tiram putih, padahal faktor cuaca di Kabupaten Lamongan terbilang sangat tidak cocok untuk usaha ini. Namun Ainur Rofiq, seorang pemuda desa ini bisa membuktikan bahwa apapun jika ditekuni pasti bisa, tidak perlu ke Kota Malang ataupun Jawa Barat untuk mengkonsumsi jamur, di kota Lamongan sudah ada.
Usaha budidaya jamur tiram memang sangat menggiurkan, dilihat dari segi finansial dapat dikatakan usaha ini layak untuk dijalankan. Apalagi bagi para penikmat ataupun wirausahawan, usaha ini terbilang sangat menyenangkan dan menarik.
Jika kita amati, peminat usaha budidaya ini terus meningkat dari tahun ke tahun di Desa Banyubang ini. Tentu saja banyak faktor yang menjadi alasan meningkatnya peminat usaha ini mulai dari sekedar hobi, faktor jamur sebagai pangan yang sehat ataupun jamur sebagai pangan masa depan. Itu artinya usaha ini akan terus berkembang untuk waktu yang lama.
Pemuda yang juga tercatat sebagai pegawai Badan Narkotika Kabupaten Lamongan ini mengisi hari-hari kosong dengan budidaya jamur tiram putih ini mengatakan, merasa sangat senang, pasalnya hampir setiap hari bisa panen jamur dan hasilnya pun sangat memuaskan bisa setiap hari mendapat pemasukan rata-rata Rp.200.000,- dari penjualan jamur.
“Dalam hal pemasaran kami tidak merasa kebingungan, karena bisa langsung dibawah keagen atau pasar-pasar kecamatan, terkadang pula tetangga sekitar langsung membeli ke rumah,” tandasnya.
Tapi tentu bukan berarti usaha ini tanpa kendala. Bagaimanapun usaha budidaya ini melibatkan makhluk hidup. Berbeda dengan benda mati, bekerja dengan makhluk hidup terkadang sulit untuk ditebak karena kondisinya yang bisa berubah ubah.
Oleh karena itu ada sifat sifat makhluk hidup yang sebisa mungkin harus kita kenali tidak terkecuali jamur tiram. Salah satu yang harus diperhatikan ialah faktor lingkungan dimana jamur tiram dapat tumbuh dengan sehat yaitu berupa ketinggian lokasi, suhu, kelembapan, dan kebersihan lingkungan menjadi faktor penting.
Saat didatangi oleh wartawan Tabloid Lensa Lamongan, yang menjadi pertanyaan penting adalah bisakah jamur tiram ini dibudidayakan di luar kondisi optimum jamur tiram. Kita ketahui pada umumnya jamur tiram tumbuh baik di lingkungan yang bersuhu dingin bisakah ditanam didaerah Lamongan?. Biasanya pertumbuhan jamur tiram akan optimal sepanjang tahun bila lokasi budidayanya sesuai dengan habitat aslinya, yakni di kawasan pegunungan atau di daerah dataran dengan ketinggian antara 400-800 meter di atas permukaan air laut, serta memiliki suhu udara sekitar 20-28°C dengan tingkat kelembapan sekitar 70% sampai 80%. Lalu bisakah jamur tiram dibudidayakan di daerah panas?.
Dengan santai dan percaya diri bapak dengan satu anak ini menjelaskan, walaupun berada di daerah dataran rendah khususnya di lingkungan yang cukup panas, kini tidak perlu takut lagi untuk mencoba budidaya jamur tiram. Sebab ada banyak cara yang bisa Anda lakukan untuk menyiasati kondisi lingkungan di sekitar Anda.
“Salah satu contoh dengan membuat bangunan yang tidak menyerap panas, memasang alat pengukur suhu, dan yang paling penting adalah selalu menyemprotkan air ke dinding dan lantai agar suhu tetap setabil,” Terangnya. [Hrs]
Sabtu, 15 Maret 2014
Read more...
Produksi Ikan Tembus 110 Ribu Ton
Kabarlamongan.com : Paciran - Pada tahun 2013 ini, produksi perikanan Lamongan tercatat mencapai sebesar 112.384,38 ton. Produksi ikan ini meningkat sebesar 2,67 persen dibandingkan pada tahun 2012 yang total produksinya mencapai 109.457,97 ton.
Peningkatan produksi perikanan ini, seperti diungkapkan Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan Suyatmoko melalui Kabag Humas dan Infokom Mohammad Zamroni ditopang dari peningkatan produksi dua jenis usaha perikanan. Yakni perikanan budidaya sebesar 39.201,38 ton dan produksi usaha perikanan tangkap baik perairan umum mapun laut sebesar 73.183,00 ton.
Disebutkan olehnya, peningkatan produksi perikanan tangkap tahun 2013 sebesar 73.183,00 ton dari yang tahun sebelumnya 72.212,80 ton karena dipengaruhi adanya optimalisasi pemanfaatan perairan umum serta adanya kegiatan restocking waduk-waduk yang ada di Lamongan.
“Restocking dengan penebaran benih yang dilakukan secara rutin dari tahun ke tahun ini diharapkan mampu meningkatkan populasi ikan ekonomis yang ada di waduk. Dengan bertambahnya jumlah ikan di waduk, diharapkan mampu meningkatkan perekonomian masyarakat sekitar, “ kata dia.
Selain itu, adanya introduksi dan inovasi pemberian bantuan alat tangkap perikanan modern dan upaya revitalisasi kawasan lingkungan perairan laut yaitu berupa kegiatan rumpon dasar juga turut meningkatkan produksi perikanan tangkap.
Sementara untuk perikanan budidaya ada kenaikan dari produksi tahun 2012 yang sebesar 37.245,17 ton menjadi 39.201,38 ton. Dia mengklaim peningkatan tersebut sebagai akibat introduksi teknologi, kemudahan akses permodalan dan pelatihan serta bimbingan mengenai cara budidaya ikan yang baik dan benar.
“Di sisi lain, peningkatan jumlah produksi perikanan juga didukung oleh penurunan jumlah alat tangkap yang tidak berizin. Pada tahun 2013, jumlah alat tangkap ikan yang tidak berijin menjadi 6.662 unit dari sebelumnya 7.595 unit atau turun sebanyak 12,28 persen, “ pungkas dia. (hrs)
Peningkatan produksi perikanan ini, seperti diungkapkan Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan Suyatmoko melalui Kabag Humas dan Infokom Mohammad Zamroni ditopang dari peningkatan produksi dua jenis usaha perikanan. Yakni perikanan budidaya sebesar 39.201,38 ton dan produksi usaha perikanan tangkap baik perairan umum mapun laut sebesar 73.183,00 ton.
Disebutkan olehnya, peningkatan produksi perikanan tangkap tahun 2013 sebesar 73.183,00 ton dari yang tahun sebelumnya 72.212,80 ton karena dipengaruhi adanya optimalisasi pemanfaatan perairan umum serta adanya kegiatan restocking waduk-waduk yang ada di Lamongan.
“Restocking dengan penebaran benih yang dilakukan secara rutin dari tahun ke tahun ini diharapkan mampu meningkatkan populasi ikan ekonomis yang ada di waduk. Dengan bertambahnya jumlah ikan di waduk, diharapkan mampu meningkatkan perekonomian masyarakat sekitar, “ kata dia.
Selain itu, adanya introduksi dan inovasi pemberian bantuan alat tangkap perikanan modern dan upaya revitalisasi kawasan lingkungan perairan laut yaitu berupa kegiatan rumpon dasar juga turut meningkatkan produksi perikanan tangkap.
Sementara untuk perikanan budidaya ada kenaikan dari produksi tahun 2012 yang sebesar 37.245,17 ton menjadi 39.201,38 ton. Dia mengklaim peningkatan tersebut sebagai akibat introduksi teknologi, kemudahan akses permodalan dan pelatihan serta bimbingan mengenai cara budidaya ikan yang baik dan benar.
“Di sisi lain, peningkatan jumlah produksi perikanan juga didukung oleh penurunan jumlah alat tangkap yang tidak berizin. Pada tahun 2013, jumlah alat tangkap ikan yang tidak berijin menjadi 6.662 unit dari sebelumnya 7.595 unit atau turun sebanyak 12,28 persen, “ pungkas dia. (hrs)
Jayapura Belajar Pengelolaan Parkir di Lamongan
Kabarlamongan.com : Lamongan - Besarnya retribusi dari sektor parkir berlangganan memantik daerah lain untuk mengadopsi sistem serupa. Di tahun ini pemasukan dari sektor parkir berlangganan ini saja ditargetkan mampu meraup Rp 5,886 miliar.
“Kami memilih Lamongan (untuk kunjungan kerja, red) karena berdasar informasi dari Dispenda Kabupaten Merauke. Bahwa kalau mau belajar pengelolaan parkir yang baik, maka datanglah ke Lamongan, “ ujar Kepala Dinas Pendapatan Daerah (Dispenda) Kota Jayapura, Fachrudin Pasolo saat melakukan kungker di Ruang Sasana Nayaka Lamongan, Kamis (13/3).
Menurut Fachrudin Pasolo yang membawa 11 orang staf Dispenda Kota Jayapura tersebut, dia berharap bisa belajar pengelolaan parkir berlanggaan seperti di Lamongan. “Menurut hemat kami Pemkab Lamongan sudah banyak yang baik dalam pengelolaan administrasi pemerintahan. Sehingga hari ini kami melakukan kunjungan kerja di Lamongan, “ kata Fachrudin Pasolo.
Sedikit berkelakar, Fachrudin Pasolo juga menyebut kunjungan ke Lamongan itu untuk mencoba rasa Soto Lamongan di tempat aslinya. Karena menurut dia, di Kota Jayapura ada begitu banyak penjual Soto Lamongan sehingga jika ada warga asal Lamongan yang mencalonkan diri jadi caleg pasti terpilih.
Sulastri, Asisten Administrasi Setdakab Lamongan saat menerima rombongan kungker menyebut kebijakan parkir berlangganan sudah dimulai sejak tahun 2004 berdasar Perda nomor 6 tahun 2004. Di tahun itu, pemasukan dari sektor ini masih hanya sebesar Rp 300 juta.
Kemudian melonjak menjadi Rp 1,975 miliar di tahun 2005 dan terus naik di tahun-tahun berikutnya. Di tahun 2013 pemasukannya mencapai Rp 5,771 miliar dan di tahun 2014 ditargetkan bisa menjadi Rp 5,886 miliar.
Untuk tarif parkir berlangganan bagi kendaraan bermotor roda dua ditetapkan sebesar Rp 20 ribu dan untuk kendaraan roda empat sebesar Rp 40 ribu. Penarikan retribusi ini dilakukan bersamaan dengan setiap kali pembayaran pajak kendaraan bermotor di Kantor Bersama Samsat Lamongan.
Setiap hari, ungkap Sulastri pemasukan dari parkir berlangganan ini ditransfer ke daerah sesuai dengan prosentase yang sudah ditetapkan. Yakni sebesar 82 persen untuk Pemkab Lamongan, 13 persen untuk Pemprov Jatim dan 5 persen untuk Polres Lamongan. Prosentase ini naik dibanding sebelumnya yang sebesar 75 persen untuk Pemkab Lamongan, 20 persen untuk Pemprov Jatim dan 5 persen untuk Polres Lamongan. (hrs)
“Kami memilih Lamongan (untuk kunjungan kerja, red) karena berdasar informasi dari Dispenda Kabupaten Merauke. Bahwa kalau mau belajar pengelolaan parkir yang baik, maka datanglah ke Lamongan, “ ujar Kepala Dinas Pendapatan Daerah (Dispenda) Kota Jayapura, Fachrudin Pasolo saat melakukan kungker di Ruang Sasana Nayaka Lamongan, Kamis (13/3).
Menurut Fachrudin Pasolo yang membawa 11 orang staf Dispenda Kota Jayapura tersebut, dia berharap bisa belajar pengelolaan parkir berlanggaan seperti di Lamongan. “Menurut hemat kami Pemkab Lamongan sudah banyak yang baik dalam pengelolaan administrasi pemerintahan. Sehingga hari ini kami melakukan kunjungan kerja di Lamongan, “ kata Fachrudin Pasolo.
Sedikit berkelakar, Fachrudin Pasolo juga menyebut kunjungan ke Lamongan itu untuk mencoba rasa Soto Lamongan di tempat aslinya. Karena menurut dia, di Kota Jayapura ada begitu banyak penjual Soto Lamongan sehingga jika ada warga asal Lamongan yang mencalonkan diri jadi caleg pasti terpilih.
Sulastri, Asisten Administrasi Setdakab Lamongan saat menerima rombongan kungker menyebut kebijakan parkir berlangganan sudah dimulai sejak tahun 2004 berdasar Perda nomor 6 tahun 2004. Di tahun itu, pemasukan dari sektor ini masih hanya sebesar Rp 300 juta.
Kemudian melonjak menjadi Rp 1,975 miliar di tahun 2005 dan terus naik di tahun-tahun berikutnya. Di tahun 2013 pemasukannya mencapai Rp 5,771 miliar dan di tahun 2014 ditargetkan bisa menjadi Rp 5,886 miliar.
Untuk tarif parkir berlangganan bagi kendaraan bermotor roda dua ditetapkan sebesar Rp 20 ribu dan untuk kendaraan roda empat sebesar Rp 40 ribu. Penarikan retribusi ini dilakukan bersamaan dengan setiap kali pembayaran pajak kendaraan bermotor di Kantor Bersama Samsat Lamongan.
Setiap hari, ungkap Sulastri pemasukan dari parkir berlangganan ini ditransfer ke daerah sesuai dengan prosentase yang sudah ditetapkan. Yakni sebesar 82 persen untuk Pemkab Lamongan, 13 persen untuk Pemprov Jatim dan 5 persen untuk Polres Lamongan. Prosentase ini naik dibanding sebelumnya yang sebesar 75 persen untuk Pemkab Lamongan, 20 persen untuk Pemprov Jatim dan 5 persen untuk Polres Lamongan. (hrs)
Kamis, 13 Maret 2014
Read more...
Lampaui Target, Pendapatan Daerah Silpa 125 M
Kabarlamongan.com : Lamongan - Pendapatan Kabupaten Lamongan pada tahun 2013 yang ditargetkan sebesar Rp. 1.653.569.457.550,00 ternyata mampu terealisasi sebesar Rp. 1.674.655.717.104,90 atau 101,28 persen. Data tersebut adalah sebagian yang disampaika Bupati Fadeli saat membacakan Laporan Keterangan Pertanggung Jawaban (LKPJ) Kepala Daerah Tahun Anggaran 2013 di Gedung DPRD, Kamis (13/03).
Rapat paripurna tersebut berdasar laporan yang disampaikan Sekretariat DPRD, dihadiri oleh keseluruhan 50 anggota DPRD. Yakni sebanyak 42 orang yakni 10 dari Fraksi PKB, 8 Fraksi PDIP, 7 Fraksi PAN, 4 Fraksi Golkar, 5 Fraksi Demokrat, 4 Fraksi PKNU, dan 4 Fraksi PPN.
Ditambahkan Fadeli, untuk Belanja Daerah tahun 2013 yang direncanakan sebesar Rp. 1.710.483.335.056,02 terealisasi sebesar 93,94 persen atau sebesar Rp. 1.606.782.530.255,67. Sementara dari sisi pembiayaan, penerimaan pembiayaan terealisasi sebesar Rp. 108.355.241.506,02.
“Sedangkan pada pos pengeluaran pembiayaan sebesar Rp. 51.28.944.266,24 sehingga pembiayaan netto menjadi sebesar Rp. 57.326.297.239,78”, jelas Fadeli.
Sehingga secara keseluruhan kebijakan umum pengelolaan keuangan daerah dalam APBD Tahun Anggaran 2013 terdapat Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran (SILPA) Tahun Berkenaan sebesar Rp. 125.199.484.089,01.
Fadeli dalam keterangannya menyebut pada tahun 2013 banyak prestasi yang ditorehkan oleh Kabupaten Lamongan. Yakni diantaranya di bidang pendidikan salah satunya menjadi peringkat 1 Olimpiade Sains Nasional Bidang Fisika dan Matematika.
Selanjutnya di bidang kesehatan diwujudkan dengan diterimanya penghargaan Kabupaten Sehat Swasti Saba kategori Padapa. Dan pada bidang Lingkungan Hidup Kabupaten Lamongan menerima Adipura Kencana.
Sedangkan di bidang penanaman modal, Lamongan tahun lalu menerima penghargaan Investment Award kategori PTSP, Bidang Komunikasi dan Informatika menerima penghargaan ICT Pura dari Kemenkominfo dan Pada bidang Otonomi daerah menerima penghargaan IGA.
Tak hanya itu, dalam bidang infrastruktur pada tahun 2013 panjang jalan Kabupaten dalam kondisi baik mencapai 90,59 persen, jalan poros desa strategis dalam kondisi baik mencapai 78,69 persen dan panjang jalan poros desa kondisi baik mencapai 89,92 persen. (hrs)
Rapat paripurna tersebut berdasar laporan yang disampaikan Sekretariat DPRD, dihadiri oleh keseluruhan 50 anggota DPRD. Yakni sebanyak 42 orang yakni 10 dari Fraksi PKB, 8 Fraksi PDIP, 7 Fraksi PAN, 4 Fraksi Golkar, 5 Fraksi Demokrat, 4 Fraksi PKNU, dan 4 Fraksi PPN.
Ditambahkan Fadeli, untuk Belanja Daerah tahun 2013 yang direncanakan sebesar Rp. 1.710.483.335.056,02 terealisasi sebesar 93,94 persen atau sebesar Rp. 1.606.782.530.255,67. Sementara dari sisi pembiayaan, penerimaan pembiayaan terealisasi sebesar Rp. 108.355.241.506,02.
“Sedangkan pada pos pengeluaran pembiayaan sebesar Rp. 51.28.944.266,24 sehingga pembiayaan netto menjadi sebesar Rp. 57.326.297.239,78”, jelas Fadeli.
Sehingga secara keseluruhan kebijakan umum pengelolaan keuangan daerah dalam APBD Tahun Anggaran 2013 terdapat Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran (SILPA) Tahun Berkenaan sebesar Rp. 125.199.484.089,01.
Fadeli dalam keterangannya menyebut pada tahun 2013 banyak prestasi yang ditorehkan oleh Kabupaten Lamongan. Yakni diantaranya di bidang pendidikan salah satunya menjadi peringkat 1 Olimpiade Sains Nasional Bidang Fisika dan Matematika.
Selanjutnya di bidang kesehatan diwujudkan dengan diterimanya penghargaan Kabupaten Sehat Swasti Saba kategori Padapa. Dan pada bidang Lingkungan Hidup Kabupaten Lamongan menerima Adipura Kencana.
Sedangkan di bidang penanaman modal, Lamongan tahun lalu menerima penghargaan Investment Award kategori PTSP, Bidang Komunikasi dan Informatika menerima penghargaan ICT Pura dari Kemenkominfo dan Pada bidang Otonomi daerah menerima penghargaan IGA.
Tak hanya itu, dalam bidang infrastruktur pada tahun 2013 panjang jalan Kabupaten dalam kondisi baik mencapai 90,59 persen, jalan poros desa strategis dalam kondisi baik mencapai 78,69 persen dan panjang jalan poros desa kondisi baik mencapai 89,92 persen. (hrs)
Krisis Ekonomi Dunia Tak Berdampak Di Lamongan
Kabarlamongan.com : Lamongan - Chairil Anwar, Kepala Badan Penanaman Modal dan Perijinan (BPMP) Kabupaten Lamongan menyampaikan meskipun kondisi ekonomi dunia masih mengalami krisis keuangan dan reses ekonomi tidak berdampak langsung terhadap pertumbuhan ekonomi di Lamongan.
“Meskipun ekonomi dunia mengalami krisis keuangan dan reses ekonomi, namun dalam pertumbuhan ekonomi, Kabupaten Lamongan dapat melebihi pertumbuhan ekonomi nasional maupun propinsi, “ ungkap Chairil Anwar.
Disebutkan Anwar dengan mengutip data BPS, bahwa PDRB Kabupaten Lamongan tahun 2013 yakni Rp. 7.584.230.310.000 atau naik 6,65 persen dari tahun 2012. Kenaikan tersebut menurut dia melebihi pertumbuhan ekonomi nasional yang hanya 5,78 persen dan pertumbuhan Propinsi Jatim yang sebesar 6,55 persen.
Dilanjutkan oleh Chairil Anwar, untuk menarik investor datang ke Lamongan, pemerintah daerah berkomitmen untuk melakukan penguatan kelembagaan pelayanan terpadu satu pintu (PTSP) untuk melakukan layanan terpadu satu pintu. Kemudian memfasilitasi para investor dengan perbaikan infrastruktur, kemudahan pembebasan lahan dan penyediaan SDM yang berkualitas.
Data tersebut diungkapkan Anwar saat Sosialisasi Kebijakan Penanaman Modal Dalam Negeri di Grand Mahkota, Selasa (11/03). Kegiatan untuk penyebaran informasi berbagai kebijakan penanaman modal dan persamaan persepsi diantara pemangku kepentingan baik pemerintah pusat, daerah dan pelaku investasi, tersebut bekerjasama dengan Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM).
Mohammad Iqbal, panitia penyelenggara dari BKPM menyampaikan kegiatan sosialisasi itu tidak hanya dilaksanakan di Kabupaten Lamongan. “Tak hanya di Lamongan, BKPM juga mengadakan kegiatan yang sama di 66 Kabupaten/Kota selama 1 (satu) bulan ini”, ungkapnya.
Acara yang dihadiri oleh para investor baik PMDN maupun PMA di Kabupaten Lamongan ini mendatangkan narasumber dari BKPM yakni Kasubdit Promosi Luar Negeri Dina Setyawati Budiman dan Kasubdit Sektor Primer Sri Endang Novitasri. (hrs)
“Meskipun ekonomi dunia mengalami krisis keuangan dan reses ekonomi, namun dalam pertumbuhan ekonomi, Kabupaten Lamongan dapat melebihi pertumbuhan ekonomi nasional maupun propinsi, “ ungkap Chairil Anwar.
Disebutkan Anwar dengan mengutip data BPS, bahwa PDRB Kabupaten Lamongan tahun 2013 yakni Rp. 7.584.230.310.000 atau naik 6,65 persen dari tahun 2012. Kenaikan tersebut menurut dia melebihi pertumbuhan ekonomi nasional yang hanya 5,78 persen dan pertumbuhan Propinsi Jatim yang sebesar 6,55 persen.
Dilanjutkan oleh Chairil Anwar, untuk menarik investor datang ke Lamongan, pemerintah daerah berkomitmen untuk melakukan penguatan kelembagaan pelayanan terpadu satu pintu (PTSP) untuk melakukan layanan terpadu satu pintu. Kemudian memfasilitasi para investor dengan perbaikan infrastruktur, kemudahan pembebasan lahan dan penyediaan SDM yang berkualitas.
Data tersebut diungkapkan Anwar saat Sosialisasi Kebijakan Penanaman Modal Dalam Negeri di Grand Mahkota, Selasa (11/03). Kegiatan untuk penyebaran informasi berbagai kebijakan penanaman modal dan persamaan persepsi diantara pemangku kepentingan baik pemerintah pusat, daerah dan pelaku investasi, tersebut bekerjasama dengan Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM).
Mohammad Iqbal, panitia penyelenggara dari BKPM menyampaikan kegiatan sosialisasi itu tidak hanya dilaksanakan di Kabupaten Lamongan. “Tak hanya di Lamongan, BKPM juga mengadakan kegiatan yang sama di 66 Kabupaten/Kota selama 1 (satu) bulan ini”, ungkapnya.
Acara yang dihadiri oleh para investor baik PMDN maupun PMA di Kabupaten Lamongan ini mendatangkan narasumber dari BKPM yakni Kasubdit Promosi Luar Negeri Dina Setyawati Budiman dan Kasubdit Sektor Primer Sri Endang Novitasri. (hrs)
Selasa, 11 Maret 2014
Read more...
Ekspor Lamongan Meningkat 124 Persen
Kabarlamongan.com : Lamongan - Dari data yang dihimpun oleh Dinas Koperasi, Industri dan Perdagangan (Diskopindag) Kabupaten Lamongan disebutkan, bahwa nilai ekspor di tahun 2013 naik mencapai 124,27 persen di banding tahun 2012. Pada tahun 2012, nilai ekspor tercatat sebesar Rp. 42.375.000.000 dan di tahun 2013 naik menjadi Rp. 76.473.933.160.
Kenaikan nilai ekspor tersebut menurut Plt Kepala Diskopindag Setyo Basuki yang disampaikan melalui Kabag Humas dan Infokom Mohammad Zamroni karena selama tahun 2013 terdapat penambahan tiga institusi pelaksana ekspor.
“Peningkatan nilai ekspor di Kabupaten Lamongan ini didukung oleh adanya kenaikan jumlah institusi pelaksana ekspor sebanyak tiga unit usaha. Yakni CV. Mitra Karya, PT. QL Hasil Laut, dan H. Bandi, “ ujar Zamroni.
Sehingga jumlah institusi pelaksana ekspor yang sebelumnya di tahun 2012 hanya ada 49 institusi, sambung dia, di tahun 2013 menjadi 52 institusi atau naik sebesar 6,12 persen.
Lebih lanjut disebutkan olehnya, jika dilihat dari nilai ekspor bersih, maka nilai impor kenaikannya mencapai 53,39 persen. Yakni nilai ekspor dikurangi nilai impor. Karena menurut dia, setelah dikurangi nilai impor, nilai ekspor bersih menjadi Rp. 65.002.843.186.
“Kenaikan jumlah institusi tersebut tidak lepas dari peran Pemkab Lamongan yang secara kontinyu melakukan pembinaan terkait dengan prosedur ekspor dan impor. Juga memberikan informasi peluang pasar perdagangan luar di negeri serta promosi dan misi dagang.
Selama ini komoditi yang banyak diekspor dari Kabupaten Lamongan yakni sarung tenun ikat, kerajinan UMKM, hasil ikan laut. Dimana komoditi sarung tenun ikat dan kerajinan UMKM pelaksanaan ekspornya banyak dilakukan oleh pihak ketiga. (hrs)
Kenaikan nilai ekspor tersebut menurut Plt Kepala Diskopindag Setyo Basuki yang disampaikan melalui Kabag Humas dan Infokom Mohammad Zamroni karena selama tahun 2013 terdapat penambahan tiga institusi pelaksana ekspor.
“Peningkatan nilai ekspor di Kabupaten Lamongan ini didukung oleh adanya kenaikan jumlah institusi pelaksana ekspor sebanyak tiga unit usaha. Yakni CV. Mitra Karya, PT. QL Hasil Laut, dan H. Bandi, “ ujar Zamroni.
Sehingga jumlah institusi pelaksana ekspor yang sebelumnya di tahun 2012 hanya ada 49 institusi, sambung dia, di tahun 2013 menjadi 52 institusi atau naik sebesar 6,12 persen.
Lebih lanjut disebutkan olehnya, jika dilihat dari nilai ekspor bersih, maka nilai impor kenaikannya mencapai 53,39 persen. Yakni nilai ekspor dikurangi nilai impor. Karena menurut dia, setelah dikurangi nilai impor, nilai ekspor bersih menjadi Rp. 65.002.843.186.
“Kenaikan jumlah institusi tersebut tidak lepas dari peran Pemkab Lamongan yang secara kontinyu melakukan pembinaan terkait dengan prosedur ekspor dan impor. Juga memberikan informasi peluang pasar perdagangan luar di negeri serta promosi dan misi dagang.
Selama ini komoditi yang banyak diekspor dari Kabupaten Lamongan yakni sarung tenun ikat, kerajinan UMKM, hasil ikan laut. Dimana komoditi sarung tenun ikat dan kerajinan UMKM pelaksanaan ekspornya banyak dilakukan oleh pihak ketiga. (hrs)
Senin, 10 Maret 2014
Read more...
UMKM Lamongan Dibimbing Prosedur Ekspor
Kabarlamongan.com : Lamongan - Sebanyak 42 Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) di Lamongan dilatih prosedur ekspor. Selama tiga hari, mereka dilatih oleh pengajar dari Balai Besar Pendidikan dan Pelatihan Ekspor Indonesia (BBPPEI) dan praktisi di aula pertemuan sebuah koperasi di Lamongan.
Dalam kegiatan yang bekerjasama dengan Kantor Pengolahan Data Elektronik (KPDE) tersebut, melibatkan UMKM dari sektor kerajinan batik, makanan, perikanan, dan pertanian serta perkebunan.
“Kegiatan yang bekerjasama dengan BBPPEI ini dimaksudkan untuk memberikan bekal pengetahuan prosedur ekspor pada UMKM Lamongan. Bukan hanya agar memiliki pengetahuan mengenai prosedur ekspor, namun juga agar UMKM terpacu untuk meningkatkan kualitas produknya, “ ujar Kepala KPDE Erfan.
Ditambahkan Erfan, kegiatan pelatihan itu adalah kelanjutan pelatihan tahun lalu yang memberikan materi cara memulai ekspor. Sedangkan pelatihan kali ini terkait pengetahuan prosedur pengurusan dokumen ekspor.
“Selain prosedur pengurusan dokumen ekspor, peserta juga diberikan tata laksana kepabeanan ekspor. Juga pelatihan prosedur transportasi dan penanganan cargo dan sistem pembayaran ekspor, “ imbuh Erfan.
Dari data Dinas Koperasi Industri dan Perdagangan (Diskopindag) disebutkan, jumlah UMKM Lamongan tahun 2013 lalu tercatat sebanyak 50.112 unit. Dari jumlah tersebut, sebanyak 48.795 unit diantaranya adalah sektor Usaha Mikro Kecil (UMK).
Jumlah tersebut naik dari tahun 2012, yakni UMK sebanyak 47.011 unit dari jumlah keseluruhan UMKM sebanyak 48.183 unit. Di Kota Soto ini, pengurusan Surat Izin Usaha Perdagangan (SIUP) dan Tanda Daftar Perusahaan (TDP) digratiskan.(hrs)
UMKM Lamongan Dibimbing Prosedur Ekspor UMKM Lamongan Dibimbing Prosedur Ekspor UMKM Lamongan Dibimbing Prosedur Ekspor UMKM Lamongan Dibimbing Prosedur Ekspor UMKM Lamongan Dibimbing Prosedur Ekspor UMKM Lamongan Dibimbing Prosedur Ekspor UMKM Lamongan Dibimbing Prosedur Ekspor
Dalam kegiatan yang bekerjasama dengan Kantor Pengolahan Data Elektronik (KPDE) tersebut, melibatkan UMKM dari sektor kerajinan batik, makanan, perikanan, dan pertanian serta perkebunan.
“Kegiatan yang bekerjasama dengan BBPPEI ini dimaksudkan untuk memberikan bekal pengetahuan prosedur ekspor pada UMKM Lamongan. Bukan hanya agar memiliki pengetahuan mengenai prosedur ekspor, namun juga agar UMKM terpacu untuk meningkatkan kualitas produknya, “ ujar Kepala KPDE Erfan.
Ditambahkan Erfan, kegiatan pelatihan itu adalah kelanjutan pelatihan tahun lalu yang memberikan materi cara memulai ekspor. Sedangkan pelatihan kali ini terkait pengetahuan prosedur pengurusan dokumen ekspor.
“Selain prosedur pengurusan dokumen ekspor, peserta juga diberikan tata laksana kepabeanan ekspor. Juga pelatihan prosedur transportasi dan penanganan cargo dan sistem pembayaran ekspor, “ imbuh Erfan.
Dari data Dinas Koperasi Industri dan Perdagangan (Diskopindag) disebutkan, jumlah UMKM Lamongan tahun 2013 lalu tercatat sebanyak 50.112 unit. Dari jumlah tersebut, sebanyak 48.795 unit diantaranya adalah sektor Usaha Mikro Kecil (UMK).
Jumlah tersebut naik dari tahun 2012, yakni UMK sebanyak 47.011 unit dari jumlah keseluruhan UMKM sebanyak 48.183 unit. Di Kota Soto ini, pengurusan Surat Izin Usaha Perdagangan (SIUP) dan Tanda Daftar Perusahaan (TDP) digratiskan.(hrs)
UMKM Lamongan Dibimbing Prosedur Ekspor UMKM Lamongan Dibimbing Prosedur Ekspor UMKM Lamongan Dibimbing Prosedur Ekspor UMKM Lamongan Dibimbing Prosedur Ekspor UMKM Lamongan Dibimbing Prosedur Ekspor UMKM Lamongan Dibimbing Prosedur Ekspor UMKM Lamongan Dibimbing Prosedur Ekspor
Rabu, 05 Maret 2014
Read more...
UMK Terus Berkembang Setelah SIUP TDP Digratiskan
Kabarlamongan.com : Lamongan - Kebijakan penggratisan biaya retribusi untuk pembuatan Surat Izin Usaha Perdagangan (SIUP) dan Tanda Daftar Perusahaan (TDP) gratis di Lamongan berimbas pada naiknya usaha skala kecil. Tahun lalu, prosentase Usaha Mikro dan Kecil (UMK) terhadap Usaha Kecil Mikro dan Menengah (UMKM) mencapai 97,27 persen.
“Tumbuhnya UMK ini diharapkan bisa berdampak langsung pada kesejahteraan masyarakat kecil. Karena industri skala ini sebagian besar adalah industri rumahan dan bersifat padat karya yang menyerap banyak tenaga kerja, “ ungkap Plt Kepala Dinas Koperasi Industi dan Perdagangan (Diskopindag) Lamongan, Setyo Basuki kemarin.
Ditambahkan olehnya, peningkatan jumlah UMK dan UMKM itu juga dipengaruhi oleh peningkatan masyarakat yang melakukan wirausaha. “Tingginya kewirausahaan di Lamongan ini juga didukung oleh Pemkab Lamongan melalui pemberian fasilitas SIUP dan TDP gratis kepada koperasi dan UMK”, ujar dia.
Selain itu, Diskopindag juga secara rutin memberikan pelatihan kewirausahaan dan bantuan modal bagi UKM untuk meningkatkan kualitas produknya.
Hasilnya, Bupati Lamongan Fadeli meraih Satya Lencana Pembangunan dari Presiden RI karena dinilai berhasil mengembangkan koperasi dan UMKM. Sedangkan Koperasi Petani Tebu Rakyat (KPTR) Lamong Jaya dari Kecamatan Sambeng ditetapkan sebagai pemenang II Lomba Koperasi Berprestasi tingkat Jatim.
Dari data Diskopindag disebutkan, bahwa prosentase UMK terhadap UMKM mencapai sebesar 97.27 persen pada tahun 2013. Dengan rincian, pada UMK sebanyak 48.795 unit dan jumlah UMKM sebanyak 50.112 unit. Jumlah tersebut naik dari tahun 2012, yakni UMK sebanyak 47.011 unit dari jumlah keseluruhan UMKM sebanyak 48.183 unit.
Sementara itu, prosentase koperasi aktif di Lamongan dari tahun 2012 ke tahun 2013 juga mengalami kenaikan. Yakni dari 1.010 unit koperasi yang ada, 894 unit diantaranya adalah koperasi aktif, atau sejumlah 88,51 persen.
Prosentasi jumlah koperasi aktif tersebut naik dibandingkan tahun 2012 yang hanya mencapai 81,62 persen. Yakni sebanyak 866 unit koperasi aktif dari 1.061 koperasi yang ada. (hrs)
UMK Terus Berkembang Setelah SIUP TDP Digratiskan UMK Terus Berkembang Setelah SIUP TDP Digratiskan UMK Terus Berkembang Setelah SIUP TDP Digratiskan UMK Terus Berkembang Setelah SIUP TDP Digratiskan UMK Terus Berkembang Setelah SIUP TDP Digratiskan UMK Terus Berkembang Setelah SIUP TDP Digratiskan UMK Terus Berkembang Setelah SIUP TDP Digratiskan
“Tumbuhnya UMK ini diharapkan bisa berdampak langsung pada kesejahteraan masyarakat kecil. Karena industri skala ini sebagian besar adalah industri rumahan dan bersifat padat karya yang menyerap banyak tenaga kerja, “ ungkap Plt Kepala Dinas Koperasi Industi dan Perdagangan (Diskopindag) Lamongan, Setyo Basuki kemarin.
Ditambahkan olehnya, peningkatan jumlah UMK dan UMKM itu juga dipengaruhi oleh peningkatan masyarakat yang melakukan wirausaha. “Tingginya kewirausahaan di Lamongan ini juga didukung oleh Pemkab Lamongan melalui pemberian fasilitas SIUP dan TDP gratis kepada koperasi dan UMK”, ujar dia.
Selain itu, Diskopindag juga secara rutin memberikan pelatihan kewirausahaan dan bantuan modal bagi UKM untuk meningkatkan kualitas produknya.
Hasilnya, Bupati Lamongan Fadeli meraih Satya Lencana Pembangunan dari Presiden RI karena dinilai berhasil mengembangkan koperasi dan UMKM. Sedangkan Koperasi Petani Tebu Rakyat (KPTR) Lamong Jaya dari Kecamatan Sambeng ditetapkan sebagai pemenang II Lomba Koperasi Berprestasi tingkat Jatim.
Dari data Diskopindag disebutkan, bahwa prosentase UMK terhadap UMKM mencapai sebesar 97.27 persen pada tahun 2013. Dengan rincian, pada UMK sebanyak 48.795 unit dan jumlah UMKM sebanyak 50.112 unit. Jumlah tersebut naik dari tahun 2012, yakni UMK sebanyak 47.011 unit dari jumlah keseluruhan UMKM sebanyak 48.183 unit.
Sementara itu, prosentase koperasi aktif di Lamongan dari tahun 2012 ke tahun 2013 juga mengalami kenaikan. Yakni dari 1.010 unit koperasi yang ada, 894 unit diantaranya adalah koperasi aktif, atau sejumlah 88,51 persen.
Prosentasi jumlah koperasi aktif tersebut naik dibandingkan tahun 2012 yang hanya mencapai 81,62 persen. Yakni sebanyak 866 unit koperasi aktif dari 1.061 koperasi yang ada. (hrs)
UMK Terus Berkembang Setelah SIUP TDP Digratiskan UMK Terus Berkembang Setelah SIUP TDP Digratiskan UMK Terus Berkembang Setelah SIUP TDP Digratiskan UMK Terus Berkembang Setelah SIUP TDP Digratiskan UMK Terus Berkembang Setelah SIUP TDP Digratiskan UMK Terus Berkembang Setelah SIUP TDP Digratiskan UMK Terus Berkembang Setelah SIUP TDP Digratiskan
Senin, 03 Maret 2014
Read more...
Terus Diguyur Hujan, Petani Cabai Terancam Gagal Panen
Kabarlamongan.com : Lamongan - Curah hujan yang hingga kini tetap mengguyur sebagian wilayah Lamongan mengakibatkan hektaran tanaman cabai rusak diserang hama. Banyak buah cabai membusuk sebelum bisa dipanen. Alias tanaman dan buah cabai belum cukup umur sudah pada membusuk dan batang pohonnya juga mengering.
Tak ingin menanggung rugi yang jauh lebih besar. Para petani harus memanen dini tanaman cabainyya sebelum semuanya membusuk tidak laku dijual. Cuaca yang tidak menguntungkan bagi petani cabai ini membuat petani resah karena hasil panen turun menjadi drastis.
”Jangan tanya kualitas, panennya saja terpaksa karena rebutan dengan hama,”ungkap Kartijan, pemilik tanaman lombok seluas 1, 5 hektare.
Tanaman cabai itu banyak didapati di wilayah Deket, Madurah dan juga wilayah Solokuro, Payaman, Sugihan, Dadapan, Dagan, Gampang Sejati serta di sebagian di wilayah Brangsi dan Bulubrangsi.
Sementara sebagian cabe yang siap panen terdapat bercak yang kemudian sedikit demi sedikit membusuk hingga menyebabkan buah cabai mengering.
Jauh lebih parah tanaman cabai yang ada di Solokuro dan Dadapan, tanaman cabai di daerah ini selain buahnya membusuk juga banyak batangnya mengering kemudian mati.
Sebenarnya petani sudah melakukan upaya antisipasi dengan menyemprotkan obat insektsida ke tanaman untuk menghalau perkembang biakan populasi hama. Namun kenyataannya, hama itu terus meluas dan merambah ratusan hektare lahan cabai.
Praktis, seperti yang dialami Sumi, salah seorang petani cabai mengaku akibat serangan hama ini ia dan para petani lainnya tidak dapat menikmati mahalnya harga cabai karena tanaman mereka rusak dan gagal panen.
Biasanya, satu petak sawah dapat menghasilkan 3 hingga 4 kwintal cabai sekali tanam, namun akibat serangan hama ini hanya menghasilkan maksimal 1 hingga 1, 5 kwintal. Hasil panen ini tidak sebanding dengan biaya yang dikeluarkan saat tanam dan perawatan.
Sementara itu, saat ini harga cabai di pasaran di wilayah Lamongan mencapai Rp 50 ribu/ kg untuk cabai merah. Sedangkan cabai campuran, merah dan hijau mencapai Rp 45 ribu/ kg.
Meski terus dibayangi dengan harga cabai yang begitu tinggi, petani cabai di Lamongan tidak bisa menikmati lonjakan harga lantaran cabai mereka diserang hama. Petani hanya bisa pasrah, karena berbagai upaya untuk memusnahkan hama tidak berhasil. (Surya/ding)
Petani Cabai Terancam Gagal Panen Petani Cabai Terancam Gagal Panen Petani Cabai Terancam Gagal Panen Petani Cabai Terancam Gagal Panen Petani Cabai Terancam Gagal Panen Petani Cabai Terancam Gagal Panen Petani Cabai Terancam Gagal Panen
Tak ingin menanggung rugi yang jauh lebih besar. Para petani harus memanen dini tanaman cabainyya sebelum semuanya membusuk tidak laku dijual. Cuaca yang tidak menguntungkan bagi petani cabai ini membuat petani resah karena hasil panen turun menjadi drastis.
”Jangan tanya kualitas, panennya saja terpaksa karena rebutan dengan hama,”ungkap Kartijan, pemilik tanaman lombok seluas 1, 5 hektare.
Tanaman cabai itu banyak didapati di wilayah Deket, Madurah dan juga wilayah Solokuro, Payaman, Sugihan, Dadapan, Dagan, Gampang Sejati serta di sebagian di wilayah Brangsi dan Bulubrangsi.
Sementara sebagian cabe yang siap panen terdapat bercak yang kemudian sedikit demi sedikit membusuk hingga menyebabkan buah cabai mengering.
Jauh lebih parah tanaman cabai yang ada di Solokuro dan Dadapan, tanaman cabai di daerah ini selain buahnya membusuk juga banyak batangnya mengering kemudian mati.
Sebenarnya petani sudah melakukan upaya antisipasi dengan menyemprotkan obat insektsida ke tanaman untuk menghalau perkembang biakan populasi hama. Namun kenyataannya, hama itu terus meluas dan merambah ratusan hektare lahan cabai.
Praktis, seperti yang dialami Sumi, salah seorang petani cabai mengaku akibat serangan hama ini ia dan para petani lainnya tidak dapat menikmati mahalnya harga cabai karena tanaman mereka rusak dan gagal panen.
Biasanya, satu petak sawah dapat menghasilkan 3 hingga 4 kwintal cabai sekali tanam, namun akibat serangan hama ini hanya menghasilkan maksimal 1 hingga 1, 5 kwintal. Hasil panen ini tidak sebanding dengan biaya yang dikeluarkan saat tanam dan perawatan.
Sementara itu, saat ini harga cabai di pasaran di wilayah Lamongan mencapai Rp 50 ribu/ kg untuk cabai merah. Sedangkan cabai campuran, merah dan hijau mencapai Rp 45 ribu/ kg.
Meski terus dibayangi dengan harga cabai yang begitu tinggi, petani cabai di Lamongan tidak bisa menikmati lonjakan harga lantaran cabai mereka diserang hama. Petani hanya bisa pasrah, karena berbagai upaya untuk memusnahkan hama tidak berhasil. (Surya/ding)
Petani Cabai Terancam Gagal Panen Petani Cabai Terancam Gagal Panen Petani Cabai Terancam Gagal Panen Petani Cabai Terancam Gagal Panen Petani Cabai Terancam Gagal Panen Petani Cabai Terancam Gagal Panen Petani Cabai Terancam Gagal Panen
Kue Jumbreg, Pesona Kuliner Khas Lamongan
Kabarlamongan.com : Paciran - Selain wingko babat, satu lagi makanan Lamongan yang enak untuk dinikmati dan penampilannya cukup khas, yaitu kue jumbreg. Hanya saja kue ini memang kalah pamor dengan wingko Babat yang sudah sampai di mana-mana.
Wingko Babat memang bisa ditemui di Jombang, Gresik, di Tuban, dan di atas kereta api-kereta api meski kereta api tidak melintasi daerah ini. Bahkan, tidak hanya orang Lamongan yang mempunyai usaha kue ini, orang di luar Babat, Lamongan pun sudah banyak yang bisa membuat kue ini.
Nah, jika kebetulan sedang sedang melintasi jalan utama Pantai Utara, tepatnya di Jalan RayaDaendels, anda bisa mendapatkan kue jumbreg ini. Penjual kue jumbreg semakin banyak jika memasuki wilayah Sekanor, Kecamatan Paciran, Lamongan, Jawa Timur. Para penjual biasanya juga menjual jumbreg bersama legen atau dawet siwalan.
Di daerah Paciran, deretan pohon siwalan yang tumbuh subur di sepanjang jalan memang banyak dijumpai. Dari pohon itulah buahnya dimanfaatkan oleh warga sekitar untuk diolah menjadi berbagai penganan. Diantaranya adalah dawet siwalan dan kue jumbreg seperti yang telah disebutkan tadi.
Dawet siwalan adalah minuman dari santan kelapa yang dimasak dengan gula merah dan dicampur dengan potongan buah siwalan yang kenyal, dawet siwalan ini dapat dinikmati dingin atau tanpa batu es.
Menikmati minuman ini akan lebih lengkap dengan menyantap kudapan yang bernama jumbreg, yaitu kue bertekstur kenyal hampir mirip seperti dodol atau jenang yang terbuat dari tepung beras, santan kelapa, gula merah dan diberi potongan buah nangka.
Untuk memberi aroma, namun yang menjadikannya khas adalah dibungkus dengan wadah dari daun siwalan yang dililit menyerupai terompet kerucut. Aroma daun siwalan itu menambah cita rasa harum yang khas. Di daerah lain, kue jumbreg ini disebut juga kue clorot. Hanya bahan-bahannya saja yang berbeda sehingga rasanya pun berbeda pula dengan kue jumbreg yang di Paciran, Lamongan.
Kue jumbreg dan dawet siwalan adalah penganan yang murah meriah yang banyak dijual di pinggir jalan raya kawasan Paciran, yang berdekatan dengan daerah wisata WBL, Gua Maharani atau Tanjung Kodok. Sekali minum dan makan, untuk seorang diri tidak akan menghabiskan uang sampai lima ribu rupiah. Jika belum puas, makanan ini pun masih bisa dibawa pulang untuk oleh-oleh, yang mempunyai daya tahan tidak basi sampai dua hari lamanya.
Warung-warung yang menjual penganan ini juga mempunyai bentuk yang khas, yakni beratap daun rumbia yang dianyam rapi. Karena itu, sangat mengasyikkan kalau kebetulan melintasi daerah ini berhenti sejenak untuk melepas lelah setelah melakukan perjalanan dan mencicipi segarnya dawet siwalan dan jumbreg sambil menikmati semilir angin dari perkebuan siwalan, serta sepoi-sepoi angin laut Jawa yang terdapat tidak jauh dari jalan Pantai Utara. (agb/gus)
Kue Jumbreg Kue Jumbreg Kue Jumbreg Kue Jumbreg Kue Jumbreg Kue Jumbreg Kue Jumbreg
Wingko Babat memang bisa ditemui di Jombang, Gresik, di Tuban, dan di atas kereta api-kereta api meski kereta api tidak melintasi daerah ini. Bahkan, tidak hanya orang Lamongan yang mempunyai usaha kue ini, orang di luar Babat, Lamongan pun sudah banyak yang bisa membuat kue ini.
Nah, jika kebetulan sedang sedang melintasi jalan utama Pantai Utara, tepatnya di Jalan RayaDaendels, anda bisa mendapatkan kue jumbreg ini. Penjual kue jumbreg semakin banyak jika memasuki wilayah Sekanor, Kecamatan Paciran, Lamongan, Jawa Timur. Para penjual biasanya juga menjual jumbreg bersama legen atau dawet siwalan.
Di daerah Paciran, deretan pohon siwalan yang tumbuh subur di sepanjang jalan memang banyak dijumpai. Dari pohon itulah buahnya dimanfaatkan oleh warga sekitar untuk diolah menjadi berbagai penganan. Diantaranya adalah dawet siwalan dan kue jumbreg seperti yang telah disebutkan tadi.
Dawet siwalan adalah minuman dari santan kelapa yang dimasak dengan gula merah dan dicampur dengan potongan buah siwalan yang kenyal, dawet siwalan ini dapat dinikmati dingin atau tanpa batu es.
Menikmati minuman ini akan lebih lengkap dengan menyantap kudapan yang bernama jumbreg, yaitu kue bertekstur kenyal hampir mirip seperti dodol atau jenang yang terbuat dari tepung beras, santan kelapa, gula merah dan diberi potongan buah nangka.
Untuk memberi aroma, namun yang menjadikannya khas adalah dibungkus dengan wadah dari daun siwalan yang dililit menyerupai terompet kerucut. Aroma daun siwalan itu menambah cita rasa harum yang khas. Di daerah lain, kue jumbreg ini disebut juga kue clorot. Hanya bahan-bahannya saja yang berbeda sehingga rasanya pun berbeda pula dengan kue jumbreg yang di Paciran, Lamongan.
Kue jumbreg dan dawet siwalan adalah penganan yang murah meriah yang banyak dijual di pinggir jalan raya kawasan Paciran, yang berdekatan dengan daerah wisata WBL, Gua Maharani atau Tanjung Kodok. Sekali minum dan makan, untuk seorang diri tidak akan menghabiskan uang sampai lima ribu rupiah. Jika belum puas, makanan ini pun masih bisa dibawa pulang untuk oleh-oleh, yang mempunyai daya tahan tidak basi sampai dua hari lamanya.
Warung-warung yang menjual penganan ini juga mempunyai bentuk yang khas, yakni beratap daun rumbia yang dianyam rapi. Karena itu, sangat mengasyikkan kalau kebetulan melintasi daerah ini berhenti sejenak untuk melepas lelah setelah melakukan perjalanan dan mencicipi segarnya dawet siwalan dan jumbreg sambil menikmati semilir angin dari perkebuan siwalan, serta sepoi-sepoi angin laut Jawa yang terdapat tidak jauh dari jalan Pantai Utara. (agb/gus)
Kue Jumbreg Kue Jumbreg Kue Jumbreg Kue Jumbreg Kue Jumbreg Kue Jumbreg Kue Jumbreg
Rabu, 19 Februari 2014
Read more...
Recently Commented
Recent Entries
Info Persela
Berita Lamongan Jawa Timur Terkini
Diberdayakan oleh Blogger.

