Cerpen : Sepurone, Nab!

Posted on Jumat, 03 Januari 2014 and filed under , , , , . You can follow any responses to this entry through theRSS 2.0 . You can leave a response or trackback to this entry from your site

Kabarlamongan.com : Lamongan - Cerpen : Hujan yang disertai angin kencang tak kunjung reda. Pohon-pohon bertumbangan. Atap-atap rumah beterbangan. Perkakas rumah tangga porak poranda. Binatang piaraan berkeliaran karena kandangnya ambruk. Tak ada satu pun benda yang utuh dan berdiam di tempat dengan benar.

Gumpalan mendung masih bergelayut seperti sarang lebah. Mendung hitam itu berlarian ke sana kemari seperti kebingungan mencari tempat. Percikan cahaya kilat diiringi suara petir menggelagar seperti hari akan kiamat tak henti-henti bersabung di angkasa.

Sementara itu para penduduk mengemasi barang-barangnya yang masih layak digunakan. Mereka juga membawa bahan  makanan serta minuman. Ada pula dari mereka yang membawa binatang ternaknya ke pengungsian.

Dari balai desa terdengar seruan agar warga cepat meninggalkan rumahnya. Mereka diimbau segera ke tempat yang lebih aman karena ketinggian air di Bengawan Solo sudah melebihi ambang batas normal. Seperti tahun-tahun yang lalu, jika kondisi air sudah seperti itu, maka tanggul penahan air Bengawan Solo akan jebol karena tidak kuat menahan gerusan air.

“Ayo, cepat mengungsi!” Suara menggema dari balai desa.

Akhirnya para warga berduyun-duyun menuju ke tempat pengungsian yang telah disediakan oleh para relawan.

Beberapa relawan turun ke kampung. Mereka menyisir rumah-rumah warga untuk memastikan bahwa penghuninya sudah meninggalkan rumahnya. Satu demi satu rumah mereka lihat. Mereka tidak menemukan warga yang masih bertahan di rumahnya.

Setelah  mereka yakin bahwa warga sudah meninggalkan rumahnya dan mereka akan kembali ke posko, tiba-tiba mereka dikejutkan suara orang batuk-batuk dari rumah yang berada di tempat paling ujung. Dua dari lima relawan itu kembali menuju ke rumah tersebut.

Kulonuwun! Permisi!” kata mereka serempak.

Mereka kaget saat melihat seorang kakek yang duduk di atas panggung rumahnya. Kakek itu terlihat santai sambil menikmati rokok kelobot yang membara di mulutnya. Dia tak menghiraukan kedatangan dua orang relawan yang akan mengevakuasinya.

“Kek, monggo ikut kami ke pengungsian!” pinta salah satu relawan.

Mboten! Kulo mboten purun ngusi,” kata kakek dengan bahasa Jawa kromo inggil.

“Mari, Kek. Air Bengawan Solo sudah semakin tinggi. Tanggul penahannya sudah retak-retak. Sebentar lagi tanggul akan jebol,” bujuknya.

Kakek itu hanya menggelang-gelengkan kepala. Dia tidak mau dievakuasi ke tempat pengungsian. Dia bersikukuh untuk tetap bertahan di panggung rumahnya di bawah ancaman banjir yang dasyat.

Salah satu dari relawan itu naik ke panggung rumah kakek itu. Dia ingin membujuknya dari jarak yang lebih dekat. Si kakek bergerak. Ia menjauh dari petugas yang akan mendekatinya.

Mboten! Saestu kulo mboten purun ngusi. Yen, kulo nderek ngusi, sinten ingkang jagi barang-barang niki?” kata Si Kakek sambil menunjukkan barang serta pakaian wanita di belakangnya.

Kakek yang masih mengenakan kopyah dan berkaos oblong warna putih itu tetap tidak mau menuruti permintaan petugas. Dia beralasan menjaga barang serta pakaian istrinya yang masih disimpan di dalam kardus mie.

Seminggu yang lalu, Jaenab, istri kakek tersebut, meninggal dunia. Sebelum meninggal, istrinya berpesan agar dia menjaga barang-barang berharga serta pakaiannya di rumah. Waktu itu, hujan belum turun selebat ini dan debit air di Bengawan Solo masih normal sehingga istrinya berpesan seperti itu. Alasan itulah yang diucapkan Si Kakek setiap relawan membujuknya agar dia turun dari panggung lalu meninggalkan rumahnya ke pengungsian.

“Marilah, Kek! Nanti kami bawakan barang-barang kakek ke pengugsian!”

Yo, mboten saget. Pesene mbahne, kulo dikengken jagi barang-barang niki ten griyo,” sanggahnya.

“Kalau Kakek di suruh menjaga barang-barang ini di rumah, kenapa kakek membawa barang-barang ini ke atas panggung? Berarti Kakek sudah tidak menjaga amanat nenek,” kata relawan yang sejak tadi berdiri di atas tangga panggung rumah.

“Dos pundi maleh, lawong bade banjir!”

“Ketinggian banjir yang akan melanda desa ini diperkirakan lebih tinggi daripada banjir tahun lalu. Rumah kakek akan tenggelam bahkan roboh terseret banjir. Jika seperti itu  maka barang-barang serta pakaian nenek yang dititipkan kepada Kakek akan hanyut lalu hilang.”

“Mboten nopo-nopo. Ical nggeh pun sing penting kulo sampun jagi!”

“Kami tidak mempermasalahkan barang dan pakaian itu hilang. Akan tetapi, kami mempermasalahkan keselamatan Kakek. Kalau kakek tenggelam lalu meninggal bagaimana?” tanya petugas.

Pejah mboten nopo-nopo. Kulo sampun janji sehidup semati kalian estri kulo,” jawab Si Kakek dengan nada kesal.

Petugas itu tertegun. Dia heran terhadap sikap Si Kakek yang memegang teguh janjinya walau bahaya banjir mengancam dirinya. Petugas yang dilengkapi dengan pakaian pelampung itu hanya diam. Dia kehabisan cara untuk membujuk kakek tersebut. Akhirnya, petugas itu turun untuk berdiskusi dengan rekannya yang menunggu di bawah.

Setelah beberapa saat berdiskusi, petugas itu kembali naik ke tangga panggung rumah Si Kakek. Sedangkan, rekannya pergi ke posko untuk meminta bantuan kepada rekan-rekan tim relawan yang lain untuk mengevakuasi kakek ini dengan cara paksa. Hal ini dilakukan karena mereka yakin tidak akan berhasil melunakkan hati kakek dengan kata-kata saja kalau prinsip Si Kakek sudah dilandasi rasa cinta kepada istrinya yang sudah meninggal.

Sepuluh orang relawan datang. Mereka segera masuk ke rumah Si Kakek untuk mengevakuasi paksa kakek itu.

Loh, lah nopo sampeyan iki kok nyekel kulo?” tanya Si Kakek.

Para relawan tidak menghiraukan pertanyaan Si Kakek. Mereka tetap memindah paksa Si Kakek yang keras kepala ini dengan sigap. Si Kakek meronta. Ia ingin lepas dari dekapan para relawan. Kedua tangannya berontak ingin menggapai barang-barangnya yang sudah dipanggul relawan yang lain. Namun, apa daya karena tangan-tangan relawan itu lebih kekar dan lebih kuat daripada tenaganya.

“Nab...,Jaenab...! Supurone aku gak iso njogo pesenmu!” teriak Si kakek walau dia berada di atas panggulan beberapa relawan.

Beberapa saat setelah Si Kakek berhasil di evakuasi ke pengungsian, tanggul Bengawan Solo yang berada di atas kempung tersebut jebol. Air menyapu bersih permukiman yang berada di bantaran tanggul itu. Rumah-rumah serta bangunan lain yang ada di kampung tak ada yang tersisa. Kampung Si Kakek sekarang berubah menjadi lautan tak bertepi. Hamparan gelombang serta arus deras air Bengawan Solo telah melenyapkan semua kenangan masa lalunya bersama Jaenab.

Si Kakek hanya bisa termenung. Ia duduk terdiam di atas buntalan pakaian istrinya yang dibawa ke pengungsian. Air matanya mengalir, mengarungi pipi keriput tuanya. Dia mengenang masa-masa indahnya saat hidup bersama Jaenab.

Hujan turun semakin lebat. Si Kakek berdiri lalu bergeser lebih ke dalam. Ia menyelamatkan dirinya dan barang bawaannya dari air hujan sambil berdesakan dengan pengungsi-pengungsi lain yang berada di dalam tenda penampungan. (*)

Lamongan, Januari 2013


Cerpen karya Ahmad Zaini*


*Cerpenis adalah penulis buku kumpulan cerpen Telaga Lanang


serta sebagai pengajar di SMARaudlatul Muta’allimin Babat


dan SMA Mambaul Ulum Wanar Pucuk.




BIODATA PENULIS




  1. Nama                           : A. Zaini

  2. Tempat, tanggal lahir : Lamongan, 7 Mei 1976

  3. Agama                         : Islam

  4. Alamat                          : Jalan Ronggopati RT 02 RW 02 Wanar Pucuk Lamongan


Jawa Timur kode pos 62257

  1. Nomor Handphone     : 081330099757


 

 

0 Responses for “ Cerpen : Sepurone, Nab!”

Leave a Reply

http://setaprod.blogspot.com

Recently Commented

Recent Entries

Info Persela

setaprod.blogspot.com

Berita Lamongan Jawa Timur Terkini

Diberdayakan oleh Blogger.