Cerpen : Wanita Sejati
Di bilik rumah sebelah kanan, terdengar suara suamiku mengerang-erang kesakitan. Riuh rendah suaranya terbawa oleh hembusan udara yang memenuhi ruang depan. Rintihan-rintihan itu seakan seperti sembilu yang menyayat-nyayat kalbu. Rasa sakit yang berkepanjangan belum juga sampai ke muara kesembuhan. Pedih rasanya mendengar erangan suami yang menahan rasa sakit di luar kemampuannya. Suara itu semakin lama semakin keras hingga aku harus berdiri dan beranjak menghampiri suamiku yang masih tergolek di ranjang kamar.Sarung yang membungkus kepalanya perlahan kusingkap, lantas kuusap keringat yang mengucur deras di keningnya. Terasa di telapak tanganku suhu badan suamiku sangat panas. Lalu aku bergegas mencarikan kain kemudian kucelupkan di sebuah ember yang berisi air di samping suamiku. Kening yang mulai berkerut kukompres dengan kain yang sudah kubasahi air. Dengan rasa kasih sayang kuusap perlahan lelehan air mata yang mengalir dari matanya yang agak memerah karena kondisi kesehatannya yang semakin memburuk.
Rasa iba pada suamiku menggelayut dalam pikiranku. Setiap aku bekerja di pasar berjualan kue basah selalu teringat penderitaan yang ia alami sejak penyakitnya kambuh. Sejak ia dipositifkan terkena liver, hampir setiap hari ia berbaring di ranjang. Badannya yang dulu tegap dan gagah mulai ringkih digerogoti penyakit yang tergolong ganas. Dan akhir-akhir ini perutnya semakin membesar. Jangankan untuk berjalan, bangun untuk duduk atau merebahkan tubuhnya kembali harus dibantu.
Kondisi suamiku yang dibekap penyakit seperti itu membangkitkan semangatku bekerja mencari nafkah. Setiap hari aku harus bangun tengah malam untuk membuat kue basah. Saat orang-orang sedang terpulas dalam dengkur, aku sudah bangun melembutkan beras yang kurendam sejak siang hari. Suara antan bertalu-talu menggilas butiran-butiran beras menjadi tepung dalam lesung. Tanganku yang dulu lembut karena tidak pernah bekerja berat kini tampak kekar seperti kaum pria. Antan setiap tengah malam kuangkat lalu kutumbukkan entah berapa ratus kali hingga beras-beras itu menjadi tepung.
Rasa kantuk tak kuhiraukan. Peluh dingin mengguyur tubuhku yang terbalut kebaya warna kusam kuusir dengan sekedar membuka kancing kebaya bagian atas. Sedikit terasa hembusan angin tengah malam mengusir resa gerah. Kemudian tungku yang menyala merah dengan jilatan-jilatan api membakar panci, kudiamkan saja hingga masakanku benar-benar matang. Satu persatu kue basah yang baru kuangkat dari panci kutiriskan di tampah agar cepat dingin. Hingga pada akhirnya aku sampai pada pagi yang menjanjikan.
“Pak, aku pamit dulu!” Suamiku tergeragap di tempat duduknya. Lantas ia memberikan isyarat izin kepadaku untuk pergi berjualan kue basah di pasar.
Anak-anakku sudah mulai terbiasa kutinggalkan dalam keadaan tidur. Jika mereka bangun, mereka sudah tidak merengek-rengek memanggilku. Mereka akan pergi ke kamar mandi tanpa harus disuruh atau dibentak-bentak seperti anak-anak pada umumnya. Setelah mandi mereka akan memakai seragam sekolah yang sudah kutaruh di dekat tempat belajarnya lalu sarapan pagi. Dua anak yang masih membutuhkan perhatian orang tua terpaksa harus belajar mandiri karena kesibukanku mencarikan nafkah buat mereka.
”Kue, kueeee....! kue, kueee.....!” suaraku beradu dengan suara pedagang-pedang lain yang menawarkan barang dagangan. Di tengah keramian pasar aku relas berdesak-desakkan sambil membawa tampah yang sarat dengan kue basah daganganku. Tangan kekarku selalu mendesak, mendorong orang-orang yang menghimpitku agar daganganku selamat. Sedangkan kedua kakiku selalu berderap seperti kaki-kaki kuda menerjang segala rintangan yang menghadang. Tanah berlumpur di tengah pasar kuterjang walau lumpur-lumpur itu membalut kaki hingga akan mencapai lutut.
Di tempat yang agak kering aku duduk lalu menjajar kue daganganku di tepi jalan yang selalu dilewati orang. Sambil duduk beralas daun jati yang kutaruh dalam keranjangku, aku sedikit bias bersitirahat melemaskan otot-otot kakiku yang kaku. Kulihat lalu-lalang pedagang dan pengunjung pasar tradisoanal saling berhimpitan. Ia beradu otot untuk saling menyingkirkan agar mereka bisa berjalan ke tujuan. Satu dua orang datang menghampiriku menanyakan harga daganganku. Dengan senang hati mereka kulayani.
”Ini, Bu jajannya,” kataku sambil menyodorkan bungkusan tas kresek berisi jajan kepada seorang ibu yang menggendong anaknya di punggung.
Saat matahari sudah nangkring di langit yang cerah, aku bergegas mengemasi barang daganganku yang tersisa. Sambil berjalan pulang, aku menawarkan daganganku pada orang-orang kampung. Dan syukur Alhamdulillah, saat sampai di rumah daganganku habis.
”Lho, kalian kok sudah pulang?” tanyaku pada anak-anakku.
”Ya, Bu. Aku dan adik disuruh minta uang oleh pak guru katanya kami belum membayar iuran sekolah,” kata anak pertamaku dengan lugas.
”Kok, masih membayar sekolah to? Kalian itu sudah dibayari pemerintah. Jadi sekolahnya gratis,” jelasku pada mereka.
”Ini buktinya!” jawab anak pertamaku sambil menyodorkan surat dari sekolah.
”Oooo, biaya Infaq to...! Kalau begitu, ayo, masuk rumah dulu!” ajakku pada mereka.
Jari-jemariku membuka kepingan uang yang kuletakkan di balik daun pisang yang mengalasi tampah. Kuhitung kepingan-kepingan itu lalu kuberikan pada anak-anakku.
”Terima kasih, Mak!” kata mereka sambil berlari kegirangan kembali ke sekolahnya.
”Buuuuu! Kemari, Buuu!” suara suamiku dari dalam kamar.
Aku melihat suamiku semakin melemah. Ia sepertinya tak kuasa menahan rasa sakit dari perutnya yang bertambah besar. Sebagai seorang istri yang lemah aku hanya dapat menatap penderitaan suamiku yang mengenaskan. Perutnya yang semakin membesar dan mengeras selalu ia pegang sambil merintih kesakitan.
”Ambilkan air, Buuu! Panasss!” keluhnya.
”Sabar, Pak, kuambilkan!”
Saat kukembali dari mengambilkan air, tiba-tiba suamiku tergolek lemas. Tangannya yang memegang perutnya kuraih dengan perlahan. Ia tak bereaksi. Waktu kuusap perutnya yang membesar dengan air, juga tak bereaksi. Aku jadi panik. Aku bingung menghadapi kondisi suamiku yang tak berdaya. Saat kutepuk-tepuk pundaknya ia juga diam tak merasakan tepukan tangan kekarku. Aku lantas memanggil Pak Kuslan, tetanggaku. Ia segera datang tergopoh-gopoh untuk memeriksa suamiku.
”Suamimu sudah tiada, Tin!”
”Masya Allah, Bapak........!” teriakku keras hingga para tetangga yang lain datang ke rumahku.
Sesak dadaku karena larut dalam tangis kehilangan suami yang telah sakit hampir enam bulan kutahan. Air mataku yang sempat membanjiri pipiku segera kuusap dengan gendong yang baru saja kuletakkan di ranjang kamar. Aku berusaha tabah menghadapi cobaan yang selama ini membebani hidupku. Aku harus bisa menerima apa yang telah ditentukan oleh Allah dengan mengambil suamiku yang sangat kucinta. Aku tak mau saat anak-anakku pulang sekolah melihat diriku masih berlinangan air mata. Aku tak ingin mereka bersedih dan meratapi kepergian bapaknya yang mengasihi mereka. Aku harus bisa menjadi ibu yang mengasihi dan melindungi mereka. Aku akan membesarkan mereka hingga mencapai apa yang dicita-citakan. Aku akan berusaha mencarikan jalan kehidupan yang terbaik bagi mereka.
”Ibu....Bapak kenapa?” Aku kaget oleh kedatangan anak-anakku. Aku tergagap menjawab pertanyaan anak sulungku. Aku hanya mampu merangkul keduanya sambil membisikkan kata-kata kematian yang bisa diterima oleh mereka. Kepeluk dan kubelai rambut yang beraroma orang aring.
”Ikhlaskan kepergian ayah kalian, biar nanti bisa tenang di sisiNya!” bisikku pada anak-anakku.
Menjelang pemakaman, kedua anakku diberi kesempatan oleh Pak Modin untuk melihat jasad ayahnya yang terbungkus kain kafan. Mereka lantas berdoa dan memberikan ucapan selamat jalan pada ayahanda tercinta.
Seminggu kemudian, suasana duka dalam keluargaku perlahan mencair oleh kesibukanku sebagai ibu rumah tangga. Aku harus kembali berdagang ke pasar demi masa depan anak-anakku yang masih mentah. Mereka membutuhkan bekal yang banyak untuk mengarungi kehidupan yang semakin ganas. Mereka harus bisa bersekolah walau dengan biaya pas-pasan hasil dari kerjaku berjualan kue basah.
Pada pagi hari saat aku berangkat ke pasar dengan membawa tampah penuh dengan kue basah, ada seseorang yang menghentikan perjalananku. Aku pun berhenti. Eh, ternyata kepala sekolah anak-anakku. Dia memberi kabar kepadaku bahwa anak-anakku mendapatkan beasiswa dari sekolah. Aku menyambut kabar tersebut dengan bersyukur kepada Allah. Aku mengucapkan rasa terima kasih kepada kepala sekolah. Hingga pada akhirnya matahari sudah tak sabar lagi memberikan penerangan bagi jalanku untuk mendidik anak-anakku yang masih belia.
Cerpen karya Ahmad Zaini*
Rasa iba pada suamiku menggelayut dalam pikiranku. Setiap aku bekerja di pasar berjualan kue basah selalu teringat penderitaan yang ia alami sejak penyakitnya kambuh. Sejak ia dipositifkan terkena liver, hampir setiap hari ia berbaring di ranjang. Badannya yang dulu tegap dan gagah mulai ringkih digerogoti penyakit yang tergolong ganas. Dan akhir-akhir ini perutnya semakin membesar. Jangankan untuk berjalan, bangun untuk duduk atau merebahkan tubuhnya kembali harus dibantu.
Kondisi suamiku yang dibekap penyakit seperti itu membangkitkan semangatku bekerja mencari nafkah. Setiap hari aku harus bangun tengah malam untuk membuat kue basah. Saat orang-orang sedang terpulas dalam dengkur, aku sudah bangun melembutkan beras yang kurendam sejak siang hari. Suara antan bertalu-talu menggilas butiran-butiran beras menjadi tepung dalam lesung. Tanganku yang dulu lembut karena tidak pernah bekerja berat kini tampak kekar seperti kaum pria. Antan setiap tengah malam kuangkat lalu kutumbukkan entah berapa ratus kali hingga beras-beras itu menjadi tepung.
Rasa kantuk tak kuhiraukan. Peluh dingin mengguyur tubuhku yang terbalut kebaya warna kusam kuusir dengan sekedar membuka kancing kebaya bagian atas. Sedikit terasa hembusan angin tengah malam mengusir resa gerah. Kemudian tungku yang menyala merah dengan jilatan-jilatan api membakar panci, kudiamkan saja hingga masakanku benar-benar matang. Satu persatu kue basah yang baru kuangkat dari panci kutiriskan di tampah agar cepat dingin. Hingga pada akhirnya aku sampai pada pagi yang menjanjikan.
“Pak, aku pamit dulu!” Suamiku tergeragap di tempat duduknya. Lantas ia memberikan isyarat izin kepadaku untuk pergi berjualan kue basah di pasar.
Anak-anakku sudah mulai terbiasa kutinggalkan dalam keadaan tidur. Jika mereka bangun, mereka sudah tidak merengek-rengek memanggilku. Mereka akan pergi ke kamar mandi tanpa harus disuruh atau dibentak-bentak seperti anak-anak pada umumnya. Setelah mandi mereka akan memakai seragam sekolah yang sudah kutaruh di dekat tempat belajarnya lalu sarapan pagi. Dua anak yang masih membutuhkan perhatian orang tua terpaksa harus belajar mandiri karena kesibukanku mencarikan nafkah buat mereka.
***
”Kue, kueeee....! kue, kueee.....!” suaraku beradu dengan suara pedagang-pedang lain yang menawarkan barang dagangan. Di tengah keramian pasar aku relas berdesak-desakkan sambil membawa tampah yang sarat dengan kue basah daganganku. Tangan kekarku selalu mendesak, mendorong orang-orang yang menghimpitku agar daganganku selamat. Sedangkan kedua kakiku selalu berderap seperti kaki-kaki kuda menerjang segala rintangan yang menghadang. Tanah berlumpur di tengah pasar kuterjang walau lumpur-lumpur itu membalut kaki hingga akan mencapai lutut.
Di tempat yang agak kering aku duduk lalu menjajar kue daganganku di tepi jalan yang selalu dilewati orang. Sambil duduk beralas daun jati yang kutaruh dalam keranjangku, aku sedikit bias bersitirahat melemaskan otot-otot kakiku yang kaku. Kulihat lalu-lalang pedagang dan pengunjung pasar tradisoanal saling berhimpitan. Ia beradu otot untuk saling menyingkirkan agar mereka bisa berjalan ke tujuan. Satu dua orang datang menghampiriku menanyakan harga daganganku. Dengan senang hati mereka kulayani.
”Ini, Bu jajannya,” kataku sambil menyodorkan bungkusan tas kresek berisi jajan kepada seorang ibu yang menggendong anaknya di punggung.
Saat matahari sudah nangkring di langit yang cerah, aku bergegas mengemasi barang daganganku yang tersisa. Sambil berjalan pulang, aku menawarkan daganganku pada orang-orang kampung. Dan syukur Alhamdulillah, saat sampai di rumah daganganku habis.
”Lho, kalian kok sudah pulang?” tanyaku pada anak-anakku.
”Ya, Bu. Aku dan adik disuruh minta uang oleh pak guru katanya kami belum membayar iuran sekolah,” kata anak pertamaku dengan lugas.
”Kok, masih membayar sekolah to? Kalian itu sudah dibayari pemerintah. Jadi sekolahnya gratis,” jelasku pada mereka.
”Ini buktinya!” jawab anak pertamaku sambil menyodorkan surat dari sekolah.
”Oooo, biaya Infaq to...! Kalau begitu, ayo, masuk rumah dulu!” ajakku pada mereka.
Jari-jemariku membuka kepingan uang yang kuletakkan di balik daun pisang yang mengalasi tampah. Kuhitung kepingan-kepingan itu lalu kuberikan pada anak-anakku.
”Terima kasih, Mak!” kata mereka sambil berlari kegirangan kembali ke sekolahnya.
”Buuuuu! Kemari, Buuu!” suara suamiku dari dalam kamar.
Aku melihat suamiku semakin melemah. Ia sepertinya tak kuasa menahan rasa sakit dari perutnya yang bertambah besar. Sebagai seorang istri yang lemah aku hanya dapat menatap penderitaan suamiku yang mengenaskan. Perutnya yang semakin membesar dan mengeras selalu ia pegang sambil merintih kesakitan.
”Ambilkan air, Buuu! Panasss!” keluhnya.
”Sabar, Pak, kuambilkan!”
Saat kukembali dari mengambilkan air, tiba-tiba suamiku tergolek lemas. Tangannya yang memegang perutnya kuraih dengan perlahan. Ia tak bereaksi. Waktu kuusap perutnya yang membesar dengan air, juga tak bereaksi. Aku jadi panik. Aku bingung menghadapi kondisi suamiku yang tak berdaya. Saat kutepuk-tepuk pundaknya ia juga diam tak merasakan tepukan tangan kekarku. Aku lantas memanggil Pak Kuslan, tetanggaku. Ia segera datang tergopoh-gopoh untuk memeriksa suamiku.
”Suamimu sudah tiada, Tin!”
”Masya Allah, Bapak........!” teriakku keras hingga para tetangga yang lain datang ke rumahku.
Sesak dadaku karena larut dalam tangis kehilangan suami yang telah sakit hampir enam bulan kutahan. Air mataku yang sempat membanjiri pipiku segera kuusap dengan gendong yang baru saja kuletakkan di ranjang kamar. Aku berusaha tabah menghadapi cobaan yang selama ini membebani hidupku. Aku harus bisa menerima apa yang telah ditentukan oleh Allah dengan mengambil suamiku yang sangat kucinta. Aku tak mau saat anak-anakku pulang sekolah melihat diriku masih berlinangan air mata. Aku tak ingin mereka bersedih dan meratapi kepergian bapaknya yang mengasihi mereka. Aku harus bisa menjadi ibu yang mengasihi dan melindungi mereka. Aku akan membesarkan mereka hingga mencapai apa yang dicita-citakan. Aku akan berusaha mencarikan jalan kehidupan yang terbaik bagi mereka.
”Ibu....Bapak kenapa?” Aku kaget oleh kedatangan anak-anakku. Aku tergagap menjawab pertanyaan anak sulungku. Aku hanya mampu merangkul keduanya sambil membisikkan kata-kata kematian yang bisa diterima oleh mereka. Kepeluk dan kubelai rambut yang beraroma orang aring.
”Ikhlaskan kepergian ayah kalian, biar nanti bisa tenang di sisiNya!” bisikku pada anak-anakku.
Menjelang pemakaman, kedua anakku diberi kesempatan oleh Pak Modin untuk melihat jasad ayahnya yang terbungkus kain kafan. Mereka lantas berdoa dan memberikan ucapan selamat jalan pada ayahanda tercinta.
Seminggu kemudian, suasana duka dalam keluargaku perlahan mencair oleh kesibukanku sebagai ibu rumah tangga. Aku harus kembali berdagang ke pasar demi masa depan anak-anakku yang masih mentah. Mereka membutuhkan bekal yang banyak untuk mengarungi kehidupan yang semakin ganas. Mereka harus bisa bersekolah walau dengan biaya pas-pasan hasil dari kerjaku berjualan kue basah.
Pada pagi hari saat aku berangkat ke pasar dengan membawa tampah penuh dengan kue basah, ada seseorang yang menghentikan perjalananku. Aku pun berhenti. Eh, ternyata kepala sekolah anak-anakku. Dia memberi kabar kepadaku bahwa anak-anakku mendapatkan beasiswa dari sekolah. Aku menyambut kabar tersebut dengan bersyukur kepada Allah. Aku mengucapkan rasa terima kasih kepada kepala sekolah. Hingga pada akhirnya matahari sudah tak sabar lagi memberikan penerangan bagi jalanku untuk mendidik anak-anakku yang masih belia.
Cerpen karya Ahmad Zaini*
* Pembina SMA Raudlatul Muta’allimin Babat
Berdomisili diWanar Pucuk Lamongan
Baca Juga : Cerpen - Sepurone Nab
Cerpen - Ketabahan Hati Zakiyya
Rabu, 07 Mei 2014
Read more...
Cerpen : Dek, Kau Tetap Istriku
Kabarlamongan.com : Sugio - Dalam sujudku di keheningan malam. Aku persimpuh kepada tuhan ilaihi robbi. Dialah tempatku memohon, meminta, dan mengadu di setiap keluh kesah hatiku. Tanganku pun tengadah memohon kemurahan Allah pencipta alam ini. Semoga keluargaku diberi rahmat penuh keberkahan dalam menjalani hidup. Semoga anakku menjadi anak yang solehah. Sehingga kebahagiaan dan rasa syukur selalu menyelimuti keluargaku. Akupun tak lupa mendoakan alharhuma istriku yang paling aku cinta. kesetiaannya sepenuhnya diabdikan untuk bersamaku, menuruti apa yang aku ucapkan hingga akhir hayatnya.
Istriku adalah sosok yang mengerti suami. Hatinya seperti malaikat. Kesabaran dan keikhlasanya menemaniku tak mampu aku ungkapkan dengan kata-kata. Telalu kasar jika aku hakimi kesetiaannya dengan kata-kata. Dialah perempuan yang mengabdikan jiwa raganya demi aku. Lelah dan letihnya tak mampu menghalangi langkah untuk melayaniku. Istriku adalah malaikat yang dilahirkan kedunia menemani hari-hariku tanpa membantah setiap perintahku.
Kerelaannya menjadi istri sangatlah ikhlas. Di kala sedihku tentang kegagalan dalam pekerjaan, istrikulah yang selalu memberi semangat untuk tetap sabar. Di kala aku sakit, istrikulah yang menjadi obat untuk selalu tegar dan kuat. Aku melihat sosok perempuan yang tak kenal lelah dan paling tegar yang sebelumnya tak perah aku temui. Dibalik kelembutan tubuhnya yang sederhana tersimpan kekuatan yang tak mampu aku terka. Dialah obat segala penyakit. Susah, sedih, lelah, terasa nikmat jika bersamanya. Senyumnya dan prilakunya begitu ikhlas, sehingga melihatnya terasa nyaman, tentram, penuh semangat, seperti saat aku mandi di telaga belakang rumahku di saat cuaca panas penuh keringat seketika hilang berganti kesegaran. Ini yang membuatku tetap menduda dan tak sanggup berpaling ke wanita lain. Meski lima belas tahun sudah istriku menghadap tuhan pencipta alam raya ini. Betapa hatiku sangat merindukan belai kasihnya yang lama tak kurasakan.
Tak terasa tubuhku yang bersimpuh di atas sajadah pakaianku telah basah. Dengan tangan masih tengadah, tubuhku yang bersimpuh di atas sajadah aku, melanjutkan doaku. Meski ingatan tentang istriku membuatku mengalirkan air mata sahi pakaianku yang tak sanggup aku bendung di pelupuk mata lagi, ditambah sesak nafas yang mengiringi tangisku. Doa-doa tetap ku panjatkan seperti yang telah diajarkan istriku untuk tetap tabah menghadapi cobaan hidup. Meski tak sekuat istriku dalam menghadapi cobaan, aku harus berusaha tetap semangat meneruskan sisa umurku.
Lelah tak menghalangi untuk tetap melangkah. Ya Allah ya tuhan ku. Kau yang Maha Mengetahui apa yang terbaik untukku dan almarhum istriku. Kau juga yang maha mengampuni segala salahan dan kekhilafan. Apunilah dosa istriku. Tempatkanlah dia di tempat yang terbaik. Jangan sesatkan dia saat menghadapMu. Berikanlah petunjuk ke arah rahmatMu. Pertemukanlah aku dengan istri dan anakku di surgamu nanti. Hanya kepadamu aku meminta dan hanya kepadamu aku kembali.
Ku akhiri doaku di keheningan malam di dalam kamarku. sambil merapikan sajadahku yang kuletakkan di hanger kamar. Aku menghapus air mata di pipi dan kurapikan pakaianku yang basah oleh air mata. Aku menuju ke Dipan dimana anakku telah tertidur. Aku memandangi wajahnya yang polos. Wajahnya sangat mirip dengan almarhuma ibunya.
Karena anakku inilah istri tercinta meninggalkanku. Saat itu istriku melahirkan putriku di rumah bidan yang dinas di kampungku. Karena terlalu besar bayi yang dilahirkan dan keterbatasan alat medis. Bidan yang menangani persalinan istri tercintaku menyuruhku untuk membawa ke rumah sakit terdekat. Saat itu, rumah sakit yang paling dekat sekitar 25 KM. Akupun membawanya ke rumah sakit dengan mobil yang kusewa diri luar kampung. Istriku merintih kesakitan saat aku angkat ke mobil. Baru kali itu perempuan yang kukenal paling tegar, paling kuat, menagis merintih-rintih di depanku dan air matanya mengalir ke pipi yang sebelumnya tak pernah kulihat, kecuali saat memanjatkan doa kepada ilaihi robbi.
Betapa hatiku bingung bercampur sedih tak karuan. Andai sakit itu bisa kupindahkan, aku ingin mengantikan sakit yang dirasakan istriku. Tak tega aku melihat rintihan istriku dan darah yang keluar dari rahimnya yang dengan cepat menutupi betis sampai mata kaki. Aku memeluk istriku mencoba membuatnya tenang. Aku pun mecoba tegar di mata istriku dan kubisik di telinganya “sabar ya dek, semua akan baik-baik saja.” Aku merasa tak berdaya menjadi suami yang tak dapat meringankan sakit yang diderita istriku. Ingin rasanya aku teriak sekencang-kencangnya meluapkan emosi. Rintihan istriku itu mencabit-cabit hatiku. Dia mengadu kepadaku kesakitan dengan jeritan yang tertahan-tahan. Dia tak tahan lagi dengan sakit yang dirasa. Aku menjadi binggu sekali saat itu, tak tega aku melihannya. Aku hanya bisa berdoa “ya Allah apa dosa istriku sehingga kau menghukumnya. Jadikanlah aku sebagai gantinya.”
“Mas, sakit mas” keluh istrku dengan tangis tertahan-tahan.
“tahan sebentar dek, sebentar lagi sanpai rumah sakit
“aku sudah tidak kuat, Mas” rintihnya lagi.
“sabar ya dek, semua akan baik-baik saja” hiburku.
Kurang dari lima belas menit kami sampai di rumah sakit. Istriku langsung aku angkat di kasir aku meminta kepada penjaganya untuk segera menangani istriku. Penanganan pun langsung dilakukan. Istriku di bawa ke ruang operasi. Sementara aku menunggu di luar ruang operasi dengan harap-harap cemas. “Ya Allah semoga baik-baik saja istri dan anakku. Tabahkanlah hati istriku.” Satu jam kemudian dokter keluar dan mengatakan “maaf bapak kami sudah berusaha sebaik mungkin anak bapak selamat tapi istri bapak tidak bisa kami selamatkan akibat terlalu banyak darah yang keluar.” Betapa remuk hatiku mendengarkannya. Rasa sedih, kecewa, marah yang aku simpan dari istriku tak mampu aku bendung. Aku menangis, berteriak sekuat dan semampuku.
Jika aku mengingat kisah ini, air mataku tak mampu terbendung dan mengalir secara otomatis seakan ada putaran kran yang jika diputar maka air keluar dengan derasnya. Aku mengusap-usap rambut anakku dan sesekali menepuk nyamuk di badanya. Begitu nyeyak tidurnya meski nyamuk telah menghisap darahnya.
Beberapa hari ini ia sakit panas yang tadi sore baru turun panasnya. Sehingga maklum jika malam ini tidurnya pulas. Akupun tak tega membangunkan mengajaknya solat malam. Mataku mulai ngantuk dan aku sandarkan tubuhku di samping anakku.
Suara adzan subuh terdengar. Aku bangkit dari tempat putriku tidur untuk mengambil wudlu di belakang rumah. Aku melihat anakku masih tertidur dengan nyenyak. Aku solat sendirian. Terntu saja diakhir witir aku tak lupa berdoa meminta rahmat dan kekuatan menjalankan hidup dijalan Allah. Tak lupa juga memohon agar disembuhkan anakku dari penyakitnya.
Sebenarnya anakku sudah tiga kali aku bawa berobat ke bidan yang dulu pernah membantu persalinan istriku. Namun putriku belum sembuh juga, penyakitnya begitu kerasan sekali singgah ditubuh putriku. Sejak sakit, anakku sesah sekali disuruh makan. Perlu menggujuknya agar dia makan. Makanya kini putriku semakin kurus.
Kini sang surya telah menampakkan wujudnya. Dari langit timur sang surya itu muncul. Aku membangunkan anakku yang tidur begitu nyeyaknya sejak tadi malam. Namun susah sekali aku membangunkanya. Beberapa kali anakku membangunkannya namun tak ada reaksi anakku untuk segera bangun. Akupun menjadi heran, tidak biasanya putriku susah dibangunkan. Dia tidak bergerak sedikit pun. Wajahnya pucat pasi. Aku letakkan tellingaku di dadanya tapi tidak ada detak jantungnya. Aku mulai khawatir aku cek hidungnya apakah masih ada nafasnya apa tidak. Ternyata nafasnyapun telah hilang. Aku menjadi tak binggung, pikiranku tak karuan dengan bertanya-tanya dalam hati. Kenapa dengan anakku?
Akhirnya aku sadar apa yang terjadi dengan anakku. Putriku telah meninggal. Secepat itu aku menangis tersedu-sedudu menangisi kepergian anakku, meratapi nasib yang aku alami. Putriku yang selama ini menjadi kekuatan dan semangat menjalani hari-hariku. Kenapa singkat sekali di menemaniku? Kenapa dia yang lebih dulu meninggal? Kenapa tidak aku saja?
Aku tidak boleh sedih. Ini adalah jalanku yang diberikan Allah. Aku harus menerima dan merelakannya. Harus ikhlas. Semoga anakku diterima disisiNYA. Aku akan selalu mendoakannmu, nak. Tunggu bapak di surga bersama ibumu. Bapak pasti menyusulmu. Kita akan berkumpul kembali. Menjadi keluarga yang selalu bahagia yang setiap saat ada canda dan tawa diantara kita. Tak akan kita kenal yang namanya kesedihan, kehampaan, kekecewaa, kepahitan hidup. Semua berubah menjadi kebahagiaan.
Pengarang: supendi
Bekerja di SMA Darul Ulum Sugio.
Istriku adalah sosok yang mengerti suami. Hatinya seperti malaikat. Kesabaran dan keikhlasanya menemaniku tak mampu aku ungkapkan dengan kata-kata. Telalu kasar jika aku hakimi kesetiaannya dengan kata-kata. Dialah perempuan yang mengabdikan jiwa raganya demi aku. Lelah dan letihnya tak mampu menghalangi langkah untuk melayaniku. Istriku adalah malaikat yang dilahirkan kedunia menemani hari-hariku tanpa membantah setiap perintahku.
Kerelaannya menjadi istri sangatlah ikhlas. Di kala sedihku tentang kegagalan dalam pekerjaan, istrikulah yang selalu memberi semangat untuk tetap sabar. Di kala aku sakit, istrikulah yang menjadi obat untuk selalu tegar dan kuat. Aku melihat sosok perempuan yang tak kenal lelah dan paling tegar yang sebelumnya tak perah aku temui. Dibalik kelembutan tubuhnya yang sederhana tersimpan kekuatan yang tak mampu aku terka. Dialah obat segala penyakit. Susah, sedih, lelah, terasa nikmat jika bersamanya. Senyumnya dan prilakunya begitu ikhlas, sehingga melihatnya terasa nyaman, tentram, penuh semangat, seperti saat aku mandi di telaga belakang rumahku di saat cuaca panas penuh keringat seketika hilang berganti kesegaran. Ini yang membuatku tetap menduda dan tak sanggup berpaling ke wanita lain. Meski lima belas tahun sudah istriku menghadap tuhan pencipta alam raya ini. Betapa hatiku sangat merindukan belai kasihnya yang lama tak kurasakan.
Tak terasa tubuhku yang bersimpuh di atas sajadah pakaianku telah basah. Dengan tangan masih tengadah, tubuhku yang bersimpuh di atas sajadah aku, melanjutkan doaku. Meski ingatan tentang istriku membuatku mengalirkan air mata sahi pakaianku yang tak sanggup aku bendung di pelupuk mata lagi, ditambah sesak nafas yang mengiringi tangisku. Doa-doa tetap ku panjatkan seperti yang telah diajarkan istriku untuk tetap tabah menghadapi cobaan hidup. Meski tak sekuat istriku dalam menghadapi cobaan, aku harus berusaha tetap semangat meneruskan sisa umurku.
Lelah tak menghalangi untuk tetap melangkah. Ya Allah ya tuhan ku. Kau yang Maha Mengetahui apa yang terbaik untukku dan almarhum istriku. Kau juga yang maha mengampuni segala salahan dan kekhilafan. Apunilah dosa istriku. Tempatkanlah dia di tempat yang terbaik. Jangan sesatkan dia saat menghadapMu. Berikanlah petunjuk ke arah rahmatMu. Pertemukanlah aku dengan istri dan anakku di surgamu nanti. Hanya kepadamu aku meminta dan hanya kepadamu aku kembali.
Ku akhiri doaku di keheningan malam di dalam kamarku. sambil merapikan sajadahku yang kuletakkan di hanger kamar. Aku menghapus air mata di pipi dan kurapikan pakaianku yang basah oleh air mata. Aku menuju ke Dipan dimana anakku telah tertidur. Aku memandangi wajahnya yang polos. Wajahnya sangat mirip dengan almarhuma ibunya.
Karena anakku inilah istri tercinta meninggalkanku. Saat itu istriku melahirkan putriku di rumah bidan yang dinas di kampungku. Karena terlalu besar bayi yang dilahirkan dan keterbatasan alat medis. Bidan yang menangani persalinan istri tercintaku menyuruhku untuk membawa ke rumah sakit terdekat. Saat itu, rumah sakit yang paling dekat sekitar 25 KM. Akupun membawanya ke rumah sakit dengan mobil yang kusewa diri luar kampung. Istriku merintih kesakitan saat aku angkat ke mobil. Baru kali itu perempuan yang kukenal paling tegar, paling kuat, menagis merintih-rintih di depanku dan air matanya mengalir ke pipi yang sebelumnya tak pernah kulihat, kecuali saat memanjatkan doa kepada ilaihi robbi.
Betapa hatiku bingung bercampur sedih tak karuan. Andai sakit itu bisa kupindahkan, aku ingin mengantikan sakit yang dirasakan istriku. Tak tega aku melihat rintihan istriku dan darah yang keluar dari rahimnya yang dengan cepat menutupi betis sampai mata kaki. Aku memeluk istriku mencoba membuatnya tenang. Aku pun mecoba tegar di mata istriku dan kubisik di telinganya “sabar ya dek, semua akan baik-baik saja.” Aku merasa tak berdaya menjadi suami yang tak dapat meringankan sakit yang diderita istriku. Ingin rasanya aku teriak sekencang-kencangnya meluapkan emosi. Rintihan istriku itu mencabit-cabit hatiku. Dia mengadu kepadaku kesakitan dengan jeritan yang tertahan-tahan. Dia tak tahan lagi dengan sakit yang dirasa. Aku menjadi binggu sekali saat itu, tak tega aku melihannya. Aku hanya bisa berdoa “ya Allah apa dosa istriku sehingga kau menghukumnya. Jadikanlah aku sebagai gantinya.”
“Mas, sakit mas” keluh istrku dengan tangis tertahan-tahan.
“tahan sebentar dek, sebentar lagi sanpai rumah sakit
“aku sudah tidak kuat, Mas” rintihnya lagi.
“sabar ya dek, semua akan baik-baik saja” hiburku.
Kurang dari lima belas menit kami sampai di rumah sakit. Istriku langsung aku angkat di kasir aku meminta kepada penjaganya untuk segera menangani istriku. Penanganan pun langsung dilakukan. Istriku di bawa ke ruang operasi. Sementara aku menunggu di luar ruang operasi dengan harap-harap cemas. “Ya Allah semoga baik-baik saja istri dan anakku. Tabahkanlah hati istriku.” Satu jam kemudian dokter keluar dan mengatakan “maaf bapak kami sudah berusaha sebaik mungkin anak bapak selamat tapi istri bapak tidak bisa kami selamatkan akibat terlalu banyak darah yang keluar.” Betapa remuk hatiku mendengarkannya. Rasa sedih, kecewa, marah yang aku simpan dari istriku tak mampu aku bendung. Aku menangis, berteriak sekuat dan semampuku.
Jika aku mengingat kisah ini, air mataku tak mampu terbendung dan mengalir secara otomatis seakan ada putaran kran yang jika diputar maka air keluar dengan derasnya. Aku mengusap-usap rambut anakku dan sesekali menepuk nyamuk di badanya. Begitu nyeyak tidurnya meski nyamuk telah menghisap darahnya.
Beberapa hari ini ia sakit panas yang tadi sore baru turun panasnya. Sehingga maklum jika malam ini tidurnya pulas. Akupun tak tega membangunkan mengajaknya solat malam. Mataku mulai ngantuk dan aku sandarkan tubuhku di samping anakku.
Suara adzan subuh terdengar. Aku bangkit dari tempat putriku tidur untuk mengambil wudlu di belakang rumah. Aku melihat anakku masih tertidur dengan nyenyak. Aku solat sendirian. Terntu saja diakhir witir aku tak lupa berdoa meminta rahmat dan kekuatan menjalankan hidup dijalan Allah. Tak lupa juga memohon agar disembuhkan anakku dari penyakitnya.
Sebenarnya anakku sudah tiga kali aku bawa berobat ke bidan yang dulu pernah membantu persalinan istriku. Namun putriku belum sembuh juga, penyakitnya begitu kerasan sekali singgah ditubuh putriku. Sejak sakit, anakku sesah sekali disuruh makan. Perlu menggujuknya agar dia makan. Makanya kini putriku semakin kurus.
Kini sang surya telah menampakkan wujudnya. Dari langit timur sang surya itu muncul. Aku membangunkan anakku yang tidur begitu nyeyaknya sejak tadi malam. Namun susah sekali aku membangunkanya. Beberapa kali anakku membangunkannya namun tak ada reaksi anakku untuk segera bangun. Akupun menjadi heran, tidak biasanya putriku susah dibangunkan. Dia tidak bergerak sedikit pun. Wajahnya pucat pasi. Aku letakkan tellingaku di dadanya tapi tidak ada detak jantungnya. Aku mulai khawatir aku cek hidungnya apakah masih ada nafasnya apa tidak. Ternyata nafasnyapun telah hilang. Aku menjadi tak binggung, pikiranku tak karuan dengan bertanya-tanya dalam hati. Kenapa dengan anakku?
Akhirnya aku sadar apa yang terjadi dengan anakku. Putriku telah meninggal. Secepat itu aku menangis tersedu-sedudu menangisi kepergian anakku, meratapi nasib yang aku alami. Putriku yang selama ini menjadi kekuatan dan semangat menjalani hari-hariku. Kenapa singkat sekali di menemaniku? Kenapa dia yang lebih dulu meninggal? Kenapa tidak aku saja?
Aku tidak boleh sedih. Ini adalah jalanku yang diberikan Allah. Aku harus menerima dan merelakannya. Harus ikhlas. Semoga anakku diterima disisiNYA. Aku akan selalu mendoakannmu, nak. Tunggu bapak di surga bersama ibumu. Bapak pasti menyusulmu. Kita akan berkumpul kembali. Menjadi keluarga yang selalu bahagia yang setiap saat ada canda dan tawa diantara kita. Tak akan kita kenal yang namanya kesedihan, kehampaan, kekecewaa, kepahitan hidup. Semua berubah menjadi kebahagiaan.
Pengarang: supendi
Bekerja di SMA Darul Ulum Sugio.
Rabu, 12 Maret 2014
Read more...
Cerpen : Sepurone, Nab!
Kabarlamongan.com : Lamongan - Cerpen : Hujan yang disertai angin kencang tak kunjung reda. Pohon-pohon bertumbangan. Atap-atap rumah beterbangan. Perkakas rumah tangga porak poranda. Binatang piaraan berkeliaran karena kandangnya ambruk. Tak ada satu pun benda yang utuh dan berdiam di tempat dengan benar.
Gumpalan mendung masih bergelayut seperti sarang lebah. Mendung hitam itu berlarian ke sana kemari seperti kebingungan mencari tempat. Percikan cahaya kilat diiringi suara petir menggelagar seperti hari akan kiamat tak henti-henti bersabung di angkasa.
Sementara itu para penduduk mengemasi barang-barangnya yang masih layak digunakan. Mereka juga membawa bahan makanan serta minuman. Ada pula dari mereka yang membawa binatang ternaknya ke pengungsian.
Dari balai desa terdengar seruan agar warga cepat meninggalkan rumahnya. Mereka diimbau segera ke tempat yang lebih aman karena ketinggian air di Bengawan Solo sudah melebihi ambang batas normal. Seperti tahun-tahun yang lalu, jika kondisi air sudah seperti itu, maka tanggul penahan air Bengawan Solo akan jebol karena tidak kuat menahan gerusan air.
“Ayo, cepat mengungsi!” Suara menggema dari balai desa.
Akhirnya para warga berduyun-duyun menuju ke tempat pengungsian yang telah disediakan oleh para relawan.
Beberapa relawan turun ke kampung. Mereka menyisir rumah-rumah warga untuk memastikan bahwa penghuninya sudah meninggalkan rumahnya. Satu demi satu rumah mereka lihat. Mereka tidak menemukan warga yang masih bertahan di rumahnya.
Setelah mereka yakin bahwa warga sudah meninggalkan rumahnya dan mereka akan kembali ke posko, tiba-tiba mereka dikejutkan suara orang batuk-batuk dari rumah yang berada di tempat paling ujung. Dua dari lima relawan itu kembali menuju ke rumah tersebut.
“Kulonuwun! Permisi!” kata mereka serempak.
Mereka kaget saat melihat seorang kakek yang duduk di atas panggung rumahnya. Kakek itu terlihat santai sambil menikmati rokok kelobot yang membara di mulutnya. Dia tak menghiraukan kedatangan dua orang relawan yang akan mengevakuasinya.
“Kek, monggo ikut kami ke pengungsian!” pinta salah satu relawan.
“Mboten! Kulo mboten purun ngusi,” kata kakek dengan bahasa Jawa kromo inggil.
“Mari, Kek. Air Bengawan Solo sudah semakin tinggi. Tanggul penahannya sudah retak-retak. Sebentar lagi tanggul akan jebol,” bujuknya.
Kakek itu hanya menggelang-gelengkan kepala. Dia tidak mau dievakuasi ke tempat pengungsian. Dia bersikukuh untuk tetap bertahan di panggung rumahnya di bawah ancaman banjir yang dasyat.
Salah satu dari relawan itu naik ke panggung rumah kakek itu. Dia ingin membujuknya dari jarak yang lebih dekat. Si kakek bergerak. Ia menjauh dari petugas yang akan mendekatinya.
“Mboten! Saestu kulo mboten purun ngusi. Yen, kulo nderek ngusi, sinten ingkang jagi barang-barang niki?” kata Si Kakek sambil menunjukkan barang serta pakaian wanita di belakangnya.
Kakek yang masih mengenakan kopyah dan berkaos oblong warna putih itu tetap tidak mau menuruti permintaan petugas. Dia beralasan menjaga barang serta pakaian istrinya yang masih disimpan di dalam kardus mie.
Seminggu yang lalu, Jaenab, istri kakek tersebut, meninggal dunia. Sebelum meninggal, istrinya berpesan agar dia menjaga barang-barang berharga serta pakaiannya di rumah. Waktu itu, hujan belum turun selebat ini dan debit air di Bengawan Solo masih normal sehingga istrinya berpesan seperti itu. Alasan itulah yang diucapkan Si Kakek setiap relawan membujuknya agar dia turun dari panggung lalu meninggalkan rumahnya ke pengungsian.
“Marilah, Kek! Nanti kami bawakan barang-barang kakek ke pengugsian!”
“Yo, mboten saget. Pesene mbahne, kulo dikengken jagi barang-barang niki ten griyo,” sanggahnya.
“Kalau Kakek di suruh menjaga barang-barang ini di rumah, kenapa kakek membawa barang-barang ini ke atas panggung? Berarti Kakek sudah tidak menjaga amanat nenek,” kata relawan yang sejak tadi berdiri di atas tangga panggung rumah.
“Dos pundi maleh, lawong bade banjir!”
“Ketinggian banjir yang akan melanda desa ini diperkirakan lebih tinggi daripada banjir tahun lalu. Rumah kakek akan tenggelam bahkan roboh terseret banjir. Jika seperti itu maka barang-barang serta pakaian nenek yang dititipkan kepada Kakek akan hanyut lalu hilang.”
“Mboten nopo-nopo. Ical nggeh pun sing penting kulo sampun jagi!”
“Kami tidak mempermasalahkan barang dan pakaian itu hilang. Akan tetapi, kami mempermasalahkan keselamatan Kakek. Kalau kakek tenggelam lalu meninggal bagaimana?” tanya petugas.
“Pejah mboten nopo-nopo. Kulo sampun janji sehidup semati kalian estri kulo,” jawab Si Kakek dengan nada kesal.
Petugas itu tertegun. Dia heran terhadap sikap Si Kakek yang memegang teguh janjinya walau bahaya banjir mengancam dirinya. Petugas yang dilengkapi dengan pakaian pelampung itu hanya diam. Dia kehabisan cara untuk membujuk kakek tersebut. Akhirnya, petugas itu turun untuk berdiskusi dengan rekannya yang menunggu di bawah.
Setelah beberapa saat berdiskusi, petugas itu kembali naik ke tangga panggung rumah Si Kakek. Sedangkan, rekannya pergi ke posko untuk meminta bantuan kepada rekan-rekan tim relawan yang lain untuk mengevakuasi kakek ini dengan cara paksa. Hal ini dilakukan karena mereka yakin tidak akan berhasil melunakkan hati kakek dengan kata-kata saja kalau prinsip Si Kakek sudah dilandasi rasa cinta kepada istrinya yang sudah meninggal.
Sepuluh orang relawan datang. Mereka segera masuk ke rumah Si Kakek untuk mengevakuasi paksa kakek itu.
“Loh, lah nopo sampeyan iki kok nyekel kulo?” tanya Si Kakek.
Para relawan tidak menghiraukan pertanyaan Si Kakek. Mereka tetap memindah paksa Si Kakek yang keras kepala ini dengan sigap. Si Kakek meronta. Ia ingin lepas dari dekapan para relawan. Kedua tangannya berontak ingin menggapai barang-barangnya yang sudah dipanggul relawan yang lain. Namun, apa daya karena tangan-tangan relawan itu lebih kekar dan lebih kuat daripada tenaganya.
“Nab...,Jaenab...! Supurone aku gak iso njogo pesenmu!” teriak Si kakek walau dia berada di atas panggulan beberapa relawan.
Beberapa saat setelah Si Kakek berhasil di evakuasi ke pengungsian, tanggul Bengawan Solo yang berada di atas kempung tersebut jebol. Air menyapu bersih permukiman yang berada di bantaran tanggul itu. Rumah-rumah serta bangunan lain yang ada di kampung tak ada yang tersisa. Kampung Si Kakek sekarang berubah menjadi lautan tak bertepi. Hamparan gelombang serta arus deras air Bengawan Solo telah melenyapkan semua kenangan masa lalunya bersama Jaenab.
Si Kakek hanya bisa termenung. Ia duduk terdiam di atas buntalan pakaian istrinya yang dibawa ke pengungsian. Air matanya mengalir, mengarungi pipi keriput tuanya. Dia mengenang masa-masa indahnya saat hidup bersama Jaenab.
Hujan turun semakin lebat. Si Kakek berdiri lalu bergeser lebih ke dalam. Ia menyelamatkan dirinya dan barang bawaannya dari air hujan sambil berdesakan dengan pengungsi-pengungsi lain yang berada di dalam tenda penampungan. (*)
Jawa Timur kode pos 62257
Gumpalan mendung masih bergelayut seperti sarang lebah. Mendung hitam itu berlarian ke sana kemari seperti kebingungan mencari tempat. Percikan cahaya kilat diiringi suara petir menggelagar seperti hari akan kiamat tak henti-henti bersabung di angkasa.
Sementara itu para penduduk mengemasi barang-barangnya yang masih layak digunakan. Mereka juga membawa bahan makanan serta minuman. Ada pula dari mereka yang membawa binatang ternaknya ke pengungsian.
Dari balai desa terdengar seruan agar warga cepat meninggalkan rumahnya. Mereka diimbau segera ke tempat yang lebih aman karena ketinggian air di Bengawan Solo sudah melebihi ambang batas normal. Seperti tahun-tahun yang lalu, jika kondisi air sudah seperti itu, maka tanggul penahan air Bengawan Solo akan jebol karena tidak kuat menahan gerusan air.
“Ayo, cepat mengungsi!” Suara menggema dari balai desa.
Akhirnya para warga berduyun-duyun menuju ke tempat pengungsian yang telah disediakan oleh para relawan.
Beberapa relawan turun ke kampung. Mereka menyisir rumah-rumah warga untuk memastikan bahwa penghuninya sudah meninggalkan rumahnya. Satu demi satu rumah mereka lihat. Mereka tidak menemukan warga yang masih bertahan di rumahnya.
Setelah mereka yakin bahwa warga sudah meninggalkan rumahnya dan mereka akan kembali ke posko, tiba-tiba mereka dikejutkan suara orang batuk-batuk dari rumah yang berada di tempat paling ujung. Dua dari lima relawan itu kembali menuju ke rumah tersebut.
“Kulonuwun! Permisi!” kata mereka serempak.
Mereka kaget saat melihat seorang kakek yang duduk di atas panggung rumahnya. Kakek itu terlihat santai sambil menikmati rokok kelobot yang membara di mulutnya. Dia tak menghiraukan kedatangan dua orang relawan yang akan mengevakuasinya.
“Kek, monggo ikut kami ke pengungsian!” pinta salah satu relawan.
“Mboten! Kulo mboten purun ngusi,” kata kakek dengan bahasa Jawa kromo inggil.
“Mari, Kek. Air Bengawan Solo sudah semakin tinggi. Tanggul penahannya sudah retak-retak. Sebentar lagi tanggul akan jebol,” bujuknya.
Kakek itu hanya menggelang-gelengkan kepala. Dia tidak mau dievakuasi ke tempat pengungsian. Dia bersikukuh untuk tetap bertahan di panggung rumahnya di bawah ancaman banjir yang dasyat.
Salah satu dari relawan itu naik ke panggung rumah kakek itu. Dia ingin membujuknya dari jarak yang lebih dekat. Si kakek bergerak. Ia menjauh dari petugas yang akan mendekatinya.
“Mboten! Saestu kulo mboten purun ngusi. Yen, kulo nderek ngusi, sinten ingkang jagi barang-barang niki?” kata Si Kakek sambil menunjukkan barang serta pakaian wanita di belakangnya.
Kakek yang masih mengenakan kopyah dan berkaos oblong warna putih itu tetap tidak mau menuruti permintaan petugas. Dia beralasan menjaga barang serta pakaian istrinya yang masih disimpan di dalam kardus mie.
Seminggu yang lalu, Jaenab, istri kakek tersebut, meninggal dunia. Sebelum meninggal, istrinya berpesan agar dia menjaga barang-barang berharga serta pakaiannya di rumah. Waktu itu, hujan belum turun selebat ini dan debit air di Bengawan Solo masih normal sehingga istrinya berpesan seperti itu. Alasan itulah yang diucapkan Si Kakek setiap relawan membujuknya agar dia turun dari panggung lalu meninggalkan rumahnya ke pengungsian.
“Marilah, Kek! Nanti kami bawakan barang-barang kakek ke pengugsian!”
“Yo, mboten saget. Pesene mbahne, kulo dikengken jagi barang-barang niki ten griyo,” sanggahnya.
“Kalau Kakek di suruh menjaga barang-barang ini di rumah, kenapa kakek membawa barang-barang ini ke atas panggung? Berarti Kakek sudah tidak menjaga amanat nenek,” kata relawan yang sejak tadi berdiri di atas tangga panggung rumah.
“Dos pundi maleh, lawong bade banjir!”
“Ketinggian banjir yang akan melanda desa ini diperkirakan lebih tinggi daripada banjir tahun lalu. Rumah kakek akan tenggelam bahkan roboh terseret banjir. Jika seperti itu maka barang-barang serta pakaian nenek yang dititipkan kepada Kakek akan hanyut lalu hilang.”
“Mboten nopo-nopo. Ical nggeh pun sing penting kulo sampun jagi!”
“Kami tidak mempermasalahkan barang dan pakaian itu hilang. Akan tetapi, kami mempermasalahkan keselamatan Kakek. Kalau kakek tenggelam lalu meninggal bagaimana?” tanya petugas.
“Pejah mboten nopo-nopo. Kulo sampun janji sehidup semati kalian estri kulo,” jawab Si Kakek dengan nada kesal.
Petugas itu tertegun. Dia heran terhadap sikap Si Kakek yang memegang teguh janjinya walau bahaya banjir mengancam dirinya. Petugas yang dilengkapi dengan pakaian pelampung itu hanya diam. Dia kehabisan cara untuk membujuk kakek tersebut. Akhirnya, petugas itu turun untuk berdiskusi dengan rekannya yang menunggu di bawah.
Setelah beberapa saat berdiskusi, petugas itu kembali naik ke tangga panggung rumah Si Kakek. Sedangkan, rekannya pergi ke posko untuk meminta bantuan kepada rekan-rekan tim relawan yang lain untuk mengevakuasi kakek ini dengan cara paksa. Hal ini dilakukan karena mereka yakin tidak akan berhasil melunakkan hati kakek dengan kata-kata saja kalau prinsip Si Kakek sudah dilandasi rasa cinta kepada istrinya yang sudah meninggal.
Sepuluh orang relawan datang. Mereka segera masuk ke rumah Si Kakek untuk mengevakuasi paksa kakek itu.
“Loh, lah nopo sampeyan iki kok nyekel kulo?” tanya Si Kakek.
Para relawan tidak menghiraukan pertanyaan Si Kakek. Mereka tetap memindah paksa Si Kakek yang keras kepala ini dengan sigap. Si Kakek meronta. Ia ingin lepas dari dekapan para relawan. Kedua tangannya berontak ingin menggapai barang-barangnya yang sudah dipanggul relawan yang lain. Namun, apa daya karena tangan-tangan relawan itu lebih kekar dan lebih kuat daripada tenaganya.
“Nab...,Jaenab...! Supurone aku gak iso njogo pesenmu!” teriak Si kakek walau dia berada di atas panggulan beberapa relawan.
Beberapa saat setelah Si Kakek berhasil di evakuasi ke pengungsian, tanggul Bengawan Solo yang berada di atas kempung tersebut jebol. Air menyapu bersih permukiman yang berada di bantaran tanggul itu. Rumah-rumah serta bangunan lain yang ada di kampung tak ada yang tersisa. Kampung Si Kakek sekarang berubah menjadi lautan tak bertepi. Hamparan gelombang serta arus deras air Bengawan Solo telah melenyapkan semua kenangan masa lalunya bersama Jaenab.
Si Kakek hanya bisa termenung. Ia duduk terdiam di atas buntalan pakaian istrinya yang dibawa ke pengungsian. Air matanya mengalir, mengarungi pipi keriput tuanya. Dia mengenang masa-masa indahnya saat hidup bersama Jaenab.
Hujan turun semakin lebat. Si Kakek berdiri lalu bergeser lebih ke dalam. Ia menyelamatkan dirinya dan barang bawaannya dari air hujan sambil berdesakan dengan pengungsi-pengungsi lain yang berada di dalam tenda penampungan. (*)
Lamongan, Januari 2013
Cerpen karya Ahmad Zaini*
*Cerpenis adalah penulis buku kumpulan cerpen Telaga Lanang
serta sebagai pengajar di SMARaudlatul Muta’allimin Babat
dan SMA Mambaul Ulum Wanar Pucuk.
BIODATA PENULIS
- Nama : A. Zaini
- Tempat, tanggal lahir : Lamongan, 7 Mei 1976
- Agama : Islam
- Alamat : Jalan Ronggopati RT 02 RW 02 Wanar Pucuk Lamongan
Jawa Timur kode pos 62257
- Nomor Handphone : 081330099757
Jumat, 03 Januari 2014
Read more...
CERPEN : KETABAHAN HATI ZAKIYA
Kabarlamongan.com : Lamongan - Tut tut tut... suara telfon yang usai. Tiba-tiba hanphone pink Zakiya lepas dari genggamannya. Dia terduduk tak berdaya, dan butiran bening itu mengalir membasahi pipi lembutnya yang merah merona. “kamu kenapa zakiya? Kenapa kamu menangis?” zakiya tidak menghiraukan pertanya’an fara dia tetap menangis dan terlihat sangat sedih. “Zakiya... ada apa?” zakiya tetap tidak menghiraukan fara, dia berlalu pergi. Terlihat handphone zakiya tergeletak di lantai, fara mengambilnya dan melihat, barangkali ada hal yang berhubungan dengan menangisnya zakiya. Di handphone itu terlihat ada panggilan masuk atas nama Arsyil. “Arsyil? Kenapa zakiya menangis setelah menerima telephone dari Arsyil?” lalu fara mencoba membuka pesan masuk di handphone zakiya, ternyata isi kotak masuk dipenuhi nama Arsyil. Fara semakin heran, ada hubungan apa antara Arsyil dengan Zakiya. Di sms itu terlihat Arsyil dan Zakiya sedang bertengkar, dan mereka saling mengungkit cinta.
Zakiya yang berlari keluar dari tempat kos-nya, dia berhenti disebuah taman. Dia duduk diatas kursi taman yang kebetulan kosong. Sore itu taman dalam keadaan sepi. “Kamu memang pemain cinta Arsyil...” teriak zakiya kesal.”sejak dulu aku menyayangimu, bahkan sampai sekarang. Tapi aku tidak berani mengatakannya, dan aku tidak menghiraukan rasa ini. Aku mencoba lupakanmu dengan menjalin hubungan bersama Andi, sampai aku mulai menyayangi andi, kamu datang dan membawa cinta. Tak pernah sedikitpun aku berfikir kamu akan mencintaiku. Karena selama kita SMA , kamu tidak pernah bersikap manis denganku, kamu selalu mengejekku, mengkritik bahkan tak jarang kamu mengajakku berdebat. Tapi anehnya, aku tak pernah benci atau dendam padamu. Aku tetap memperhatikanmu, aku tetap menghawatirkanmu bahkan aku tetap menganggapmu sahabatku. Aku sadar, dibalik sikap burukmu itu, kamu temanku yang baik. Sikapmu yang kasar itu tidak pernah melukaiku, tapi malah selalu memotifasiku. Aku selalu tersenyum dengan ejekan-ejekanmu. Aku selalu rindu hina’anmu. Tak kusangka, selama ini kau juga punya rasa padaku, kau menyuruhku menganggap semua ejekan,kritikan dan perdebatan kita itu bukti perhatianmu. Tapi kamu datang terlambat Arsyil.. Andi sangat menyayangiku, aku tak mampu mengecewakannya.. dia terlanjur menganggapku juga menyayanginya. Dan nisa.. nisa juga menyayangimu, dia merasa kalau kamu juga menyayanginya.. kenapa kita harus terjebak dalam cinta segi empat ini Arsyil??” Tak lama, Fara datang menghampiri zakiya, fara bersanding dengan zakiya. Zakiya memalingkan wajahnya, dia tak mau sahabatnya itu melihat linangan deras air matanya yang membasahi pipinya. Fara meraih wajah zakiya tepat didepan wajahnya, mata mereka saling menatap, akan tetapi zakiya mencoba berpaling. “Zakiya... ceritakan semuanya padaku, sahabatmu ini akan selalu siap mendengarkan ceritamu, bagilah dukamu itu padaku, agar kamu merasa lebih baik” “tidak fara, aku tak mau membebanimu, biarlah luka ini aku sendiri yang menanggungnya” “jangan kamu bersikap seperti itu sahabatku, aku sakit melihatmu seperti ini”
“aku harus bagaimana fara.. ternyata arsyil juga mencintaiku, tapi aku sudah terlanjur memberi harapanku pada Andi, aku tak bisa jika harus mengecewakan orang yang mencintaiku. Begitu juga dengan Arsyil, dia juga sudah terlanjur memberi harapannya pada nisa.. hatiku sakit, saat aku melihat nisa bersama Arsyil. Dan tadi, Arsyil dengan mudahnya menyuruhku melupakannya”. “zakiya, aku mengerti dengan perasaanmu saat ini, aku tahu kamu kecewa.. tapi cobalah kamu berfikir. Ini cobaan dari Allah, kamu harus sabar dan tabah. Ini cobaan untuk cinta kalian, pasrahkan segalanya kepada Allah. Percayalah, Allah tidak pernah memberi ujian kepada hambanya melebihi batas kemampuannya. Semuanya itu akan indah pada waktunya” Fara mengusap air mata zakiya, mereka saling berbalas senyuman. “trimakasih fara, kata-katamu telah menyejukkan hatiku. Benar katamu tadi, aku pasrahkan segalanya kepada-Mu Ya Allah.. J” “kalau begitu, hari sudah semakin larut.. sebaiknya kita kembali ke kamar kost kita” “baiklah fara”
“Ya Rabbi.... dalam sujudku aku bersimpuh, dalam do’aku aku memohon. Berikanlah hamba kekuatan untuk menghadapi semua ini, berikanlah hamba kesabaran untuk melalui coba’anMu. Jika memang Arsyil tercipta untuk hamba, hamba yakin cepat atau lambat kita akan bertemu. Dan jika ternyata Andi adalah jodohku, aku ikhlash Ya Rabb.. aku percaya, Andi memang yang terbaik untukku. Hamba Pasrahkan segalanya Kepada-Mu. Amin ya Robbal alamin” dalam do’a zakiya, dia melelehkan butiran air matanya. dia membaca ayat-ayat indah Allah. Semua itu lebih membuat hati zakiya semakin tenang.
Tok tok tok.. “Assalamu’alaikum” Fara membukakan pintu. “Wa’alaikum salam.. Andi? Oh ya silahkan masuk, kamu mencari zakiya ya..”. “iya fara, dapatkah aku bertemu dengannya?” “tentu Andi, tunggulah sebentar, aku akan memangilnya untukmu” “trimaksih banyak fara”.
“zakiya, Andi ingin bertemu denganmu”. “tapi fara, aku dalam keadaan seperti ini, tidak mungkin aku menemuinya. Pasti dia akan banyak bertanya padaku” “sudahlah zakiya, sudah cukup kamu menyembunyikan lukamu ini, sudah saatnya Andi tahu, katakan padanya tentang kebenaran ini. Katakan zakiya, walaupun itu menyakitkan” “tapi fara, bagaimana kalau andi kecewa?” “zakiya, lebih baik andi kecewa sekarang daripada kamu terus-terusan menyembunyikan kebenaran darinya”. “baiklah sahabatku, aku akan berkata jujur padanya. Terimaksih, karena kamu selalu menjadi sahabat terbaikku”. “sudah sepantasnya aku seperti itu padamu sahabatku”.
Zakiya, keluar menemui Andi. Dia mencoba menampakkan senyumannya, menutupi luka hatinya. “Andi, maaf jika lama menunggu” “tidak apa zakiya, aku bisa memakluminya” “oh ya, ada perlu apa kamu ingin bertemu denganku?” “begini, kurasa jangan terlalu lama kita bersama tanpa ikatan yang tak pasti seperti ini, sangat tidak baik zakiya.. hanya akan menambah dosa kita. Saya bemaksud melamarmu” Pyarrrr......... bagai hancur luluh lantang hati zakiya, air matanya turun dengan tiba-tiba, dia tak bisa menahannya lagi. “kamu akan melamarku andi,,Benarkah?” dia mencoba tersenyum, dia berpura-pura menangis bahagia. “benar zakiya, apa kau bersedia?”. “Ya Allah... kenapa bukan Arsyil yang dihadapanku sa’at ini? Aku harus bagaimana Ya Rabb” rintih zakiya dalam hatinya. “zakiya? Kau baik-baik saja?” “tentu Andi, aku baik-baik saja. emm... bisakah kamu memberiku waktu?”. “tentu saja zakiya, aku akan menunggumu. Berapa lama waktu yang kamu butuhkan?. “3 hari, bolehkah?” “baiklah zakiya. Kalau begitu aku rasa cukup itu yang aku sampaikan kepadamu. Aku rasa sebaiknya aku pulang sekarang”. “baiklah Andi, trimakasih atas pengertianmu”. “sama-sama zakiya. Sampaikan salamku pada fara. Assalamualaikum”. “Waalaikumsalam”.
Dan akhirnya hari itu datang juga, zakiya memutuskan untuk bersedia menikah dengan Andi, dia berharap dia akan bahagia bersama andi. Hari ini, banyak tamu yang di undang, apalagi dari kalangan dokter, itu tidak menutup kemungkinan, karena Andi memang seorang dokter. 1 minggu dari prosesi lamaran, pernikahan mereka dilangsungkan.
“apa kamu bahagia zakiya?” tanya fara sahabatnya. “aku akan bahagia jika memang ini takdir Allah sahabatku....”.”tapi, bagaimana dengan Arsyil.. bukankah kamu mencintainya?”. “aku memang mencintai Arsyil, akan tetapi Andi adalah orang yang menyayangiku, aku tidak mau andi merasakan apa yang telah aku rasakan. Dan aku rasa, Arsyil akan bahagia bersama nisa.. nisa sangat menyayanginya. Cinta itu tak harus selalu memiliki sahabatku”. “baiklah zakiya, jika memang ini keputusanmu. Semoga kamu bahagia”. “Aminn,, trimakasih atas doanya fara”.”sekarang, waktunya kamu keluar zakiya, akad nikah akan segera dimulai, jangan membuat banyak orang lama menuggumu. Kamu siap??”.”baiklah, BISMILLAH.. aku siap sahabatku”. Mereka keluar menemui para undangan, tidak terkecualikan Arsyil.. meski dia bukan seorang dokter, Arsyil adalah teman SMA Andi dan Zakiya. Arsyil tersenyum melihat zakiya, dan zakiya yang hanya terdiam seakan tak percaya atas kehadiran Arsyil dalam acara pernikahannya. Dia hendak menangis, tapi dia berhasil menenangkan suasana hatinya. “Bismillah Ya Allah....... “ ucap zakiya. Lalu zakiya duduk disamping Andi, dan akad itu akan segera dimulai. Saat penghulu meminta tangan Andi, andi hanya terdiam. “bukan saya yang berhak meraih tangan bapak. Percuma saja, saya menikahi wanita disamping saya ini. Kalau saya tak mampu memiliki hatinya. Hanya lelaki pujaannya yang berhak menikahinya.”.”Andi, apa maksudmu?” tanya zakiya keheranan. “zakiya, maafkan aku.. aku telah membuatmu hampir mengorbankan cintamu. Kamu memang wanita yang luar biasa, sungguh beruntung lelaki yang akan menikahimu nanti”. “ada apa Andi.. mari langsungkan akadnya”. “tidak zakiya, aku tidak berhak menikahimu, Arsyil.. kemarilah sahabatku.. zakiya sangat mencintaimu. Dan maafkan aku, karena selama ini, aku menghalangi cinta kalian”. “Tapi Andi.. bagaimana dengan dirimu?” tanya zakiya semakin bingung.“jangan hawatirkan aku zakiya, aku tidak mau menjadi orang yang egois. Kemarilah Arsyil.. menikahlah dengan wanita yang kamu cintai, aku akan bahagia melihat kalian bahagia”.
Dan akhirnya, zakiya menikah dengan Arsyil.. lelaki yang dicintainya. “Sungguh ini kebesaranMu Ya Allah..... aku bersyukur kepadaMu. Lelaki yang kucintai akan menjadi imam dalam hidupku. Semoga dia mampu membawaku dalam surgaMu”.(*)
Zakiya yang berlari keluar dari tempat kos-nya, dia berhenti disebuah taman. Dia duduk diatas kursi taman yang kebetulan kosong. Sore itu taman dalam keadaan sepi. “Kamu memang pemain cinta Arsyil...” teriak zakiya kesal.”sejak dulu aku menyayangimu, bahkan sampai sekarang. Tapi aku tidak berani mengatakannya, dan aku tidak menghiraukan rasa ini. Aku mencoba lupakanmu dengan menjalin hubungan bersama Andi, sampai aku mulai menyayangi andi, kamu datang dan membawa cinta. Tak pernah sedikitpun aku berfikir kamu akan mencintaiku. Karena selama kita SMA , kamu tidak pernah bersikap manis denganku, kamu selalu mengejekku, mengkritik bahkan tak jarang kamu mengajakku berdebat. Tapi anehnya, aku tak pernah benci atau dendam padamu. Aku tetap memperhatikanmu, aku tetap menghawatirkanmu bahkan aku tetap menganggapmu sahabatku. Aku sadar, dibalik sikap burukmu itu, kamu temanku yang baik. Sikapmu yang kasar itu tidak pernah melukaiku, tapi malah selalu memotifasiku. Aku selalu tersenyum dengan ejekan-ejekanmu. Aku selalu rindu hina’anmu. Tak kusangka, selama ini kau juga punya rasa padaku, kau menyuruhku menganggap semua ejekan,kritikan dan perdebatan kita itu bukti perhatianmu. Tapi kamu datang terlambat Arsyil.. Andi sangat menyayangiku, aku tak mampu mengecewakannya.. dia terlanjur menganggapku juga menyayanginya. Dan nisa.. nisa juga menyayangimu, dia merasa kalau kamu juga menyayanginya.. kenapa kita harus terjebak dalam cinta segi empat ini Arsyil??” Tak lama, Fara datang menghampiri zakiya, fara bersanding dengan zakiya. Zakiya memalingkan wajahnya, dia tak mau sahabatnya itu melihat linangan deras air matanya yang membasahi pipinya. Fara meraih wajah zakiya tepat didepan wajahnya, mata mereka saling menatap, akan tetapi zakiya mencoba berpaling. “Zakiya... ceritakan semuanya padaku, sahabatmu ini akan selalu siap mendengarkan ceritamu, bagilah dukamu itu padaku, agar kamu merasa lebih baik” “tidak fara, aku tak mau membebanimu, biarlah luka ini aku sendiri yang menanggungnya” “jangan kamu bersikap seperti itu sahabatku, aku sakit melihatmu seperti ini”
“aku harus bagaimana fara.. ternyata arsyil juga mencintaiku, tapi aku sudah terlanjur memberi harapanku pada Andi, aku tak bisa jika harus mengecewakan orang yang mencintaiku. Begitu juga dengan Arsyil, dia juga sudah terlanjur memberi harapannya pada nisa.. hatiku sakit, saat aku melihat nisa bersama Arsyil. Dan tadi, Arsyil dengan mudahnya menyuruhku melupakannya”. “zakiya, aku mengerti dengan perasaanmu saat ini, aku tahu kamu kecewa.. tapi cobalah kamu berfikir. Ini cobaan dari Allah, kamu harus sabar dan tabah. Ini cobaan untuk cinta kalian, pasrahkan segalanya kepada Allah. Percayalah, Allah tidak pernah memberi ujian kepada hambanya melebihi batas kemampuannya. Semuanya itu akan indah pada waktunya” Fara mengusap air mata zakiya, mereka saling berbalas senyuman. “trimakasih fara, kata-katamu telah menyejukkan hatiku. Benar katamu tadi, aku pasrahkan segalanya kepada-Mu Ya Allah.. J” “kalau begitu, hari sudah semakin larut.. sebaiknya kita kembali ke kamar kost kita” “baiklah fara”
“Ya Rabbi.... dalam sujudku aku bersimpuh, dalam do’aku aku memohon. Berikanlah hamba kekuatan untuk menghadapi semua ini, berikanlah hamba kesabaran untuk melalui coba’anMu. Jika memang Arsyil tercipta untuk hamba, hamba yakin cepat atau lambat kita akan bertemu. Dan jika ternyata Andi adalah jodohku, aku ikhlash Ya Rabb.. aku percaya, Andi memang yang terbaik untukku. Hamba Pasrahkan segalanya Kepada-Mu. Amin ya Robbal alamin” dalam do’a zakiya, dia melelehkan butiran air matanya. dia membaca ayat-ayat indah Allah. Semua itu lebih membuat hati zakiya semakin tenang.
Tok tok tok.. “Assalamu’alaikum” Fara membukakan pintu. “Wa’alaikum salam.. Andi? Oh ya silahkan masuk, kamu mencari zakiya ya..”. “iya fara, dapatkah aku bertemu dengannya?” “tentu Andi, tunggulah sebentar, aku akan memangilnya untukmu” “trimaksih banyak fara”.
“zakiya, Andi ingin bertemu denganmu”. “tapi fara, aku dalam keadaan seperti ini, tidak mungkin aku menemuinya. Pasti dia akan banyak bertanya padaku” “sudahlah zakiya, sudah cukup kamu menyembunyikan lukamu ini, sudah saatnya Andi tahu, katakan padanya tentang kebenaran ini. Katakan zakiya, walaupun itu menyakitkan” “tapi fara, bagaimana kalau andi kecewa?” “zakiya, lebih baik andi kecewa sekarang daripada kamu terus-terusan menyembunyikan kebenaran darinya”. “baiklah sahabatku, aku akan berkata jujur padanya. Terimaksih, karena kamu selalu menjadi sahabat terbaikku”. “sudah sepantasnya aku seperti itu padamu sahabatku”.
Zakiya, keluar menemui Andi. Dia mencoba menampakkan senyumannya, menutupi luka hatinya. “Andi, maaf jika lama menunggu” “tidak apa zakiya, aku bisa memakluminya” “oh ya, ada perlu apa kamu ingin bertemu denganku?” “begini, kurasa jangan terlalu lama kita bersama tanpa ikatan yang tak pasti seperti ini, sangat tidak baik zakiya.. hanya akan menambah dosa kita. Saya bemaksud melamarmu” Pyarrrr......... bagai hancur luluh lantang hati zakiya, air matanya turun dengan tiba-tiba, dia tak bisa menahannya lagi. “kamu akan melamarku andi,,Benarkah?” dia mencoba tersenyum, dia berpura-pura menangis bahagia. “benar zakiya, apa kau bersedia?”. “Ya Allah... kenapa bukan Arsyil yang dihadapanku sa’at ini? Aku harus bagaimana Ya Rabb” rintih zakiya dalam hatinya. “zakiya? Kau baik-baik saja?” “tentu Andi, aku baik-baik saja. emm... bisakah kamu memberiku waktu?”. “tentu saja zakiya, aku akan menunggumu. Berapa lama waktu yang kamu butuhkan?. “3 hari, bolehkah?” “baiklah zakiya. Kalau begitu aku rasa cukup itu yang aku sampaikan kepadamu. Aku rasa sebaiknya aku pulang sekarang”. “baiklah Andi, trimakasih atas pengertianmu”. “sama-sama zakiya. Sampaikan salamku pada fara. Assalamualaikum”. “Waalaikumsalam”.
Dan akhirnya hari itu datang juga, zakiya memutuskan untuk bersedia menikah dengan Andi, dia berharap dia akan bahagia bersama andi. Hari ini, banyak tamu yang di undang, apalagi dari kalangan dokter, itu tidak menutup kemungkinan, karena Andi memang seorang dokter. 1 minggu dari prosesi lamaran, pernikahan mereka dilangsungkan.
“apa kamu bahagia zakiya?” tanya fara sahabatnya. “aku akan bahagia jika memang ini takdir Allah sahabatku....”.”tapi, bagaimana dengan Arsyil.. bukankah kamu mencintainya?”. “aku memang mencintai Arsyil, akan tetapi Andi adalah orang yang menyayangiku, aku tidak mau andi merasakan apa yang telah aku rasakan. Dan aku rasa, Arsyil akan bahagia bersama nisa.. nisa sangat menyayanginya. Cinta itu tak harus selalu memiliki sahabatku”. “baiklah zakiya, jika memang ini keputusanmu. Semoga kamu bahagia”. “Aminn,, trimakasih atas doanya fara”.”sekarang, waktunya kamu keluar zakiya, akad nikah akan segera dimulai, jangan membuat banyak orang lama menuggumu. Kamu siap??”.”baiklah, BISMILLAH.. aku siap sahabatku”. Mereka keluar menemui para undangan, tidak terkecualikan Arsyil.. meski dia bukan seorang dokter, Arsyil adalah teman SMA Andi dan Zakiya. Arsyil tersenyum melihat zakiya, dan zakiya yang hanya terdiam seakan tak percaya atas kehadiran Arsyil dalam acara pernikahannya. Dia hendak menangis, tapi dia berhasil menenangkan suasana hatinya. “Bismillah Ya Allah....... “ ucap zakiya. Lalu zakiya duduk disamping Andi, dan akad itu akan segera dimulai. Saat penghulu meminta tangan Andi, andi hanya terdiam. “bukan saya yang berhak meraih tangan bapak. Percuma saja, saya menikahi wanita disamping saya ini. Kalau saya tak mampu memiliki hatinya. Hanya lelaki pujaannya yang berhak menikahinya.”.”Andi, apa maksudmu?” tanya zakiya keheranan. “zakiya, maafkan aku.. aku telah membuatmu hampir mengorbankan cintamu. Kamu memang wanita yang luar biasa, sungguh beruntung lelaki yang akan menikahimu nanti”. “ada apa Andi.. mari langsungkan akadnya”. “tidak zakiya, aku tidak berhak menikahimu, Arsyil.. kemarilah sahabatku.. zakiya sangat mencintaimu. Dan maafkan aku, karena selama ini, aku menghalangi cinta kalian”. “Tapi Andi.. bagaimana dengan dirimu?” tanya zakiya semakin bingung.“jangan hawatirkan aku zakiya, aku tidak mau menjadi orang yang egois. Kemarilah Arsyil.. menikahlah dengan wanita yang kamu cintai, aku akan bahagia melihat kalian bahagia”.
Dan akhirnya, zakiya menikah dengan Arsyil.. lelaki yang dicintainya. “Sungguh ini kebesaranMu Ya Allah..... aku bersyukur kepadaMu. Lelaki yang kucintai akan menjadi imam dalam hidupku. Semoga dia mampu membawaku dalam surgaMu”.(*)
Cerpen karya Maratul Mahmudah*
*Siswi kelas XI Bahasa
SMA Raudlatul Muta’allimin Tegalrejo Babat Lamongan
Kamis, 02 Januari 2014
Read more...
Cerpen : Mataku Juga Matanya
Kabarlamongan.com : Lamongan - Cerpen; Bagai hujan deras yang membasahi pipi dan dengan di iringi petir yang menusuk hati ,saat dunia berkata Hamid menutup mata dalam koma karena kecelakaan tai malam. Aisyah tidak tega melihatnya terbaring di ranjang dengan melewati masa-masa sumyi yang belum sadarkan duru
Hari demi hari Aisyah lalui sendiri, tanpa Hamid yang tak seperti biasa, Hamid yang selali ceria. memberi kata-kata motivasi dan membuat semua orang tertawa dengan tingkah konyolnya serta Hamid juga yang pertama kali mengajari Aisyah tentang apa itu cinta. Namun dalam setiap sujud Aisyah tak luput do’a kesembuhan untuknya.
Bagai hujan deras yang membasahi pipi dan dengan di iringi petir yang menusuk hati ,saat dunia berkata Hamid menutup mata dalam koma karena kecelakaan tadi malam. Aisyah tidak tega melihatnya terbaring di ranjang dengan melewati masa-masa sunyi yang belum sadarkan diri Hari demi hari Aisyah lalui sendiri, tanpa Hamid yang tak seperti biasa, Hamid yang selalu ceria. memberi kata-kata motivasi dan membuat semua orang tertawa dengan tingkah konyolnya serta Hamid juga yang pertama kali mengajari Aisyah tentang apa itu cinta. Namun dalam setiap sujud Aisyah tak luput do’a kesembuhan untuknya.
Titit…titit” suara Hp membuyarkan lamuan Aisyah dan betapa terkejutnya ia membaca inbox yang berisi bahwa Hamid menang melawan masa komanya, lalu Aisyah segera bergegas menuju Rumah Sakit dimana Hamid dirawat. Setelah sampai di depan kamar, Aisyah melihat banyak sekali sahabat-sahabat akrab Hamid disana.
“ Assalamu’alaikum…”
“ Wa’alaikum salam ” serempak sahabat-sahabt Hamid menjawab salam Aisyah, lalu satu persatu sahabatnya pulang dam kini hanya ada Aisyah, Hamid dan Ridwan sahabat karib Hamid sejak kecil.
“ Bagaimana kondisi kakak “ Tanya Aisyah kepada Hamid yang dari tadi diam dengan pandangan kosong.
“ Buruk “ jawab Hamid singkat
“ Kenapa “
“ Aku bukanlah Hamid yang dulu, kini semua berbeda, tak ada harapan untuk masa depan “
“ Maksudnya “ Tanya Aisyah dengan kebingungan.
“ Sekarang aku tidak bisa melihat indahnya dunia, walau hanya secercah cahaya dan kakiku juga tidak bisa menginjak tanah untuk melangkah.” Jawab Hamid dengan penuh kesedihan di wajahnya.
“ Jadi…” Belum selesai Aisyah menjawab. Hamid sudah memotong pembicaraanya seakan-akan tahu apa yang akan Aisyah katakan.
“ Ya, aku buta dan lumpuh Sekarang aku melangkah dengan perasaan dan berjalan sambil menggunakan empat roda.”jawab Hamid dengan sedikit senyum yang mencerminkan kepedihan sedangkan Ridwan yang dari tadi menjaga diamnya lalu membiarkan perlahan-lahan air matanya brelomba-lomba menetes begitu saja.
Seusai Hamid keluar dari Rumah Sakit. Dia ingin bertemu dengan Aisyah di taman, katanya ada yang ingin Hamid sampaikan. Entah apa, Aisyah juga tidak tau tapi Aisyah berharap kabar baik yang ingin ia dengar. Setelah sampai di taman Aisyah melihat Hamid yang duduk di kursi roda dengan di temani Ridwan disampingnya. Aisyah tidak tega melihat kondisi Hamid yang sekarang ini. Namun semua itu tidak mengubah sedikitpun rasa dihatinya, setelah itu Aisyah mendekati mereka lalu mengawali pembicaraan.
“ Maaf, membuat kakak menunggu. “ kata Aisyah kepada Hamid dan Ridwan
“ Tidak Aisyah, kami juga baru datang.”jawab Ridwan dengan nada santai.
“ Aisyah.”
“ Ya kak ada apa, apa yang ingin kakak sampaikan kepadaku. “ Tanya Aisyah kepada Hamid
“ Ku rasa mungkin hubungan kita (Ta’arufan) sudah cukup sampai disini, Aisyah kamu kan tau sendiri dengan kondisi ku yang sekarang ini tidak ada yang bisa di harapkan.Aku cacat. “ panjang lebar Hamid menjawab pertanyaan Aisyah.
“ Tapi bagiku fisik bukanlah sgalanya dan dimataku kak Hamid tetap sempurna. Aku menyukai kaka apa adanya, kakak yang pertama di hidupku dan aku ingin kakak yang jadi calon imamku kak. “jawab Aisyah dengan linangan air mata.
“ Aku juga menyukaimu Aisyah, tapi maaf carilah penggantiku yang pantas untukmu. “ jawab Hamid walau berat mengungkapkannya.
Lalu Hamid dan Ridwan berlalu meninggalkan Aisyah sendiri dengan air matanya. Semenjak kejadian itu keduanya tidak pernah berkomunikasi apalagi memberi kabar satu sama lain. Walaupun keduanya saling menyukainya, suatu hari ada seseorang yang mau mendonorkan matanya untuk Hamid. Ketika Hamid sudah bias melihat kembali. Ia ingin menemui Aisyah karena Hamid merindukanya dan masih sangat menyukainya.
“ Hamiddd.” Teriak Ridwan memanggil Hamid yang akan pergi menemui Aisyah.
“ ( Sambil menyodorkan sebuah surat ) Dari Aisyah sebelum dia meninggal. “
“ Apa, Aisyah meninggal, tidak mungkin kau pasti bercandakan Ridwan.”jawab Hamid yang seolah-olah takpercaya.
“ Baca saja suratnya. “ suruh Ridwan kepada Hamid. Lalu perlahan-lahan Hamid membuka surat itu dan membacanya.
“Assalamu’alaikum…Mungkin setelah kak Hamid membaca surat ini. Aku sudah tidak ada, karena penyakit kanker hati yang ku derita ini tidak bisa disembuhkan lagi. Tapi aku senang bias mengenal kakak, terima kasih atas kata-kata motivasinya dan sgala tingkah konyol kakak yang selalu membuat ku tertawa. Tak lupa juga terima kasih telah mengajariku tentang apa itu cinta. Aku menyukai kakak apa adanya dan itu semua karma ALLAH dan hari ini adalah hari terakhirku menghirup udara di bumi karena aku sudah tidak kuat menahan kanker hati ini. Walaupun aku tlah tiada namun aku masih bisa melihat dunia, karena MATAKU JUGA MATA kakak. Jaga baik-baik ya kak, karena mataku akan menemani kakak untuk melihat dunia ini kembali,,,Dariku Aisyah.”
Setelah Hamid membaca surat dari Aisyah, air matanya deras mengalir beitu saja dan sekarang dia mengerti siapa pendonor mata untuknya.Yaitu tak lain adalah Aisyah. Mata yang memancarkan keindahan itu sekarang tema baginya saat melihat dunia ketika suka dan duka.
By ; Ita ayu ningsih ( Siswi XI-Bahasa SMA RAUDLATULMUTA’ALIMIN )
Senin, 25 November 2013
Read more...
Cerpen : Bulan Tak Lagi Sempurna
Kabarlamongan.com : Lamongan - Langit menjadi tempat kuberpijak saat ini. Tak ada kata sesak, panas, gerah atau kebisingan yang menjadi problematika setiap orang kota. Aku berdiri sendiri, sebagai makhluk tunggal yang penuh dengan daya pesona bagi manusia. Tak heran banyak orang memujiku dan melambangkanku pada setiap keindahan. Lihat saja, orang Jawa mengumpamakan alis gadis cantik sepertiku kala masih sabit. Belum lagi, sang Pujangga yang seringkali mengagungkanku di setiap larik sajak-sajaknya . Bahkan aku menjadi peluru lelaki saat ia menembakkan panah asmara pada sang pujaan hati. Sungguh sempurna kebahagiaanku.
Berdiri di sini, di langit yang gelap ini, sudah menjadi aktivitas rutinku sehari-hari. Meneranginya. Tersenyum memancarkan cahaya lembut pada penghuni bumi. Sekali lagi, aku memuji, oh, betapa sempurnanya aku. Tak lepas setiap hiruk pikuk dan lalu-lalang manusia dari pandanganku. Anak-anak yang bernyanyi Jawa mendendangkan namaku, sebuah sekolah malam yang gurunya sibuk menjelaskan pada anak didiknya tentang seluk-belukku, sampai suatu ketika ku lihat seorang lelaki di sudut kota itu yang berteriak memanggil-manggil namaku. “ Bulan, Bulan !! Lihatlah ke sini. Lihatlah aku !!” teriak lelaki itu sambil melompat dan melambai-lambaikan kedua tangannya ke atas. “ Kau bisa lihat aku bukan?! Bias dengar??”. Ia masih berteriak keras padaku. Ku coba melihat dengan jelas wajahnya. Masih tampak samar. Mungkin karena tak ada lampu yang menyorot wajahnya. Hanya cahayaku yang terpantul dari air laut yang menerangi. Ya… Ia berdiri di tepi laut dan berdiri di atas bendungan yang terbuat dari tumpukan batu-batu hitam besar. Aku masih berusaha keras menerangi wajahnya. Berharap awan tipis yang berada di bawahku ini segera pergi.
Beberapa menit tak kudengar suara lelaki itu lagi. Aku menunggu. Sampai beberapa detik awan itu mulai hilang. Sedikit demi sedikit wajah lelaki yang mendongak ke atas itu tampak jelas oleh cahayaku. Menawan, sungguh tampan. Wajah yang berseri-seri dengan tubuh gagah itu cukup indah bagiku. Seketika sempat ku terpaku. “ Bulaaan!!” dia berteriak dengan cerianya. “Maukah kau menjadi saksi Janjiku?” ia berlari dan menggandeng tangan seorang gadis dari balik bayang-bayang pohon trembesi yang ada didekatnya. Ku lihat gadis itu berparas cantik dan manis. Ia menggenggam tangan dan meletakkan di dadanya.“Bulan. Aku mau kau menjadi saksi Janjiku. Aku berjanji akan mencintainya. “ ungkapnya lagi. Ia terus memancarkan wajah bahagia dan penuh dengan semangat. “ Aku berjanji akan melindungi dan setia padanya sampai mati”. Dua pasang bola mata itu kemudian saling beradu dan menyunggingkan senyum bersama. Entah apa yang mereka rundingkan berdua tapi tak lama kulihat mereka kembali menatapku, melambaikan tangan padaku. Sungguh manis.
Beberapa kal jadi purnama yang sempurna mereka selalu datang ke tempat itu untuk sekadar menyapaku. Tak ada hal lain, kecuali aku ikut bahagia. Sampai suatu purnama berikutnya, Tepatnya purnama ke sembilan semenjak janji itu, aku melihat tepi pantai itu sepi. Sepi tak ada sapaan untukku lagi. Beberapa tempat di bawah sana ku telusuri dengan pandanganku berharap melihat sosok mereka. Tapi tak ada. “ Ah…untuk apa aku mencari. Toh ya tak kurang manusia yang mengagumiku dan memujiku” ungkapku pada diri sendiri. Berusaha tak peduli dengan keadaan ini.
Aktivitas purnama kujalani seperti biasa. Bersinar dan terus tersenyum untuk penghuni bumi. Menelusuri dan memantau segala hiruk pikuk manusia di Bumi. Kulihat anak-anak masih berdendang menyebut namaku, orang Jawa masih memuji alis wanita cantik dengan bulan sabitku, dan pujanggapun masih menyebutku dalam setiap sajak-sajaknya. Sempurna. Hingga ku terpaku pada satu sudut bayangan hitam di kuburan yang menangis merintih menyebut namaku.
Seumur-umur tak pernah namaku ini membawa duka. Bulan adalah penenang bagi semua orang. Bulan adalah sumber cahaya damai bagi mereka yang ada dalam gelap. Namun bayangan semu itu masih terus menyebutku dalam sujudnya di makam itu. “Bulan. Musnah sudah. Tak ada yang bisa ku lakukan lagi Bulan. Aku harus bagaimana?” rintihnya sambil memegang nisan kuburan.
Parasnya tak asing. Rambut dan bentuk tubuh kekar itu. Ya Tuhan, dia adalah lelaki yang selalu menyapaku saat purnama bersama kekasihnya. Apa yang terjadi? Kenapa wajah tampan bahagia yang dulu ku lihat itu kini berubah menjadi seperti mumi hidup?
Ia tak henti mengelus nisan dan menggenggam keras tanah kuburan seperti menahan sambil menahan sakit di dadanya. Astaga. Dia sendirian. Mungkinkah nisan yang dipeluk dan ditangisi itu adalah…
Tidak. Tidak mungkin. Tapi mungkinkah?
“Bulan. Janji itu tak bisa ku tepati. Hiks… Bulan, begitu lemahnya jiwa dalam tubuh kekar ini. Untuk apa raga kekar ini bulan jika tak bis melindunginya.” Apa yang terjadi? Ia terus menangis di kesunyian pemakaman itu. Tak peduli malam tengah larut ia terus-menerus menyalahkan dirinya dan terus memanggilku.
Tuhan, aku harus berbuat apa? Aku hanya bisa berdiri dilangitmu tanpa bisa menghibur manusia ini. Tuhan, beri dia kekuatan. Aku hanyalah makhluk sempurna yang bisa jadi saksi bisu atas cinta yang tiada. Sepertinya kata “sempurna” tidaklah pantas lagi bagiku.
Kiriman Dari : Ria Ana Safitri (Lulusan FKIP Bahasa dan Sastra Indonesia Unesa)
Berdiri di sini, di langit yang gelap ini, sudah menjadi aktivitas rutinku sehari-hari. Meneranginya. Tersenyum memancarkan cahaya lembut pada penghuni bumi. Sekali lagi, aku memuji, oh, betapa sempurnanya aku. Tak lepas setiap hiruk pikuk dan lalu-lalang manusia dari pandanganku. Anak-anak yang bernyanyi Jawa mendendangkan namaku, sebuah sekolah malam yang gurunya sibuk menjelaskan pada anak didiknya tentang seluk-belukku, sampai suatu ketika ku lihat seorang lelaki di sudut kota itu yang berteriak memanggil-manggil namaku. “ Bulan, Bulan !! Lihatlah ke sini. Lihatlah aku !!” teriak lelaki itu sambil melompat dan melambai-lambaikan kedua tangannya ke atas. “ Kau bisa lihat aku bukan?! Bias dengar??”. Ia masih berteriak keras padaku. Ku coba melihat dengan jelas wajahnya. Masih tampak samar. Mungkin karena tak ada lampu yang menyorot wajahnya. Hanya cahayaku yang terpantul dari air laut yang menerangi. Ya… Ia berdiri di tepi laut dan berdiri di atas bendungan yang terbuat dari tumpukan batu-batu hitam besar. Aku masih berusaha keras menerangi wajahnya. Berharap awan tipis yang berada di bawahku ini segera pergi.
Beberapa menit tak kudengar suara lelaki itu lagi. Aku menunggu. Sampai beberapa detik awan itu mulai hilang. Sedikit demi sedikit wajah lelaki yang mendongak ke atas itu tampak jelas oleh cahayaku. Menawan, sungguh tampan. Wajah yang berseri-seri dengan tubuh gagah itu cukup indah bagiku. Seketika sempat ku terpaku. “ Bulaaan!!” dia berteriak dengan cerianya. “Maukah kau menjadi saksi Janjiku?” ia berlari dan menggandeng tangan seorang gadis dari balik bayang-bayang pohon trembesi yang ada didekatnya. Ku lihat gadis itu berparas cantik dan manis. Ia menggenggam tangan dan meletakkan di dadanya.“Bulan. Aku mau kau menjadi saksi Janjiku. Aku berjanji akan mencintainya. “ ungkapnya lagi. Ia terus memancarkan wajah bahagia dan penuh dengan semangat. “ Aku berjanji akan melindungi dan setia padanya sampai mati”. Dua pasang bola mata itu kemudian saling beradu dan menyunggingkan senyum bersama. Entah apa yang mereka rundingkan berdua tapi tak lama kulihat mereka kembali menatapku, melambaikan tangan padaku. Sungguh manis.
Beberapa kal jadi purnama yang sempurna mereka selalu datang ke tempat itu untuk sekadar menyapaku. Tak ada hal lain, kecuali aku ikut bahagia. Sampai suatu purnama berikutnya, Tepatnya purnama ke sembilan semenjak janji itu, aku melihat tepi pantai itu sepi. Sepi tak ada sapaan untukku lagi. Beberapa tempat di bawah sana ku telusuri dengan pandanganku berharap melihat sosok mereka. Tapi tak ada. “ Ah…untuk apa aku mencari. Toh ya tak kurang manusia yang mengagumiku dan memujiku” ungkapku pada diri sendiri. Berusaha tak peduli dengan keadaan ini.
Aktivitas purnama kujalani seperti biasa. Bersinar dan terus tersenyum untuk penghuni bumi. Menelusuri dan memantau segala hiruk pikuk manusia di Bumi. Kulihat anak-anak masih berdendang menyebut namaku, orang Jawa masih memuji alis wanita cantik dengan bulan sabitku, dan pujanggapun masih menyebutku dalam setiap sajak-sajaknya. Sempurna. Hingga ku terpaku pada satu sudut bayangan hitam di kuburan yang menangis merintih menyebut namaku.
Seumur-umur tak pernah namaku ini membawa duka. Bulan adalah penenang bagi semua orang. Bulan adalah sumber cahaya damai bagi mereka yang ada dalam gelap. Namun bayangan semu itu masih terus menyebutku dalam sujudnya di makam itu. “Bulan. Musnah sudah. Tak ada yang bisa ku lakukan lagi Bulan. Aku harus bagaimana?” rintihnya sambil memegang nisan kuburan.
Parasnya tak asing. Rambut dan bentuk tubuh kekar itu. Ya Tuhan, dia adalah lelaki yang selalu menyapaku saat purnama bersama kekasihnya. Apa yang terjadi? Kenapa wajah tampan bahagia yang dulu ku lihat itu kini berubah menjadi seperti mumi hidup?
Ia tak henti mengelus nisan dan menggenggam keras tanah kuburan seperti menahan sambil menahan sakit di dadanya. Astaga. Dia sendirian. Mungkinkah nisan yang dipeluk dan ditangisi itu adalah…
Tidak. Tidak mungkin. Tapi mungkinkah?
“Bulan. Janji itu tak bisa ku tepati. Hiks… Bulan, begitu lemahnya jiwa dalam tubuh kekar ini. Untuk apa raga kekar ini bulan jika tak bis melindunginya.” Apa yang terjadi? Ia terus menangis di kesunyian pemakaman itu. Tak peduli malam tengah larut ia terus-menerus menyalahkan dirinya dan terus memanggilku.
Tuhan, aku harus berbuat apa? Aku hanya bisa berdiri dilangitmu tanpa bisa menghibur manusia ini. Tuhan, beri dia kekuatan. Aku hanyalah makhluk sempurna yang bisa jadi saksi bisu atas cinta yang tiada. Sepertinya kata “sempurna” tidaklah pantas lagi bagiku.
Kiriman Dari : Ria Ana Safitri (Lulusan FKIP Bahasa dan Sastra Indonesia Unesa)
Kamis, 21 November 2013
Read more...
Dik Narti (Cerpen Ahmad Zaini*)
“Kang, pokoknya saya ingin menjadi caleg lagi,” kata Narti dengan nada merayu.
“Jangan, Dik Narti! Jangan mencalon mendaftar sebagai caleg lagi. Kita sudah tidak punya apa-apa,” ungkap Parlan melarang istrinya yang masih bersikukuh ingin mencalonkan diri sebagai calon anggota legislatif.
Suami istri ini setiap hari selalu beradu sikap. Narti yang tahun lalu sudah gagal menjadi anggota legislatif tetap ngotot ingin mencalonkan diri lagi. Sedangkan suaminya sudah tidak menghendaki lagi istrinya maju sebagai calon anggota legislatif.
“Kita sudah tidak mempunyai modal lagi. Sawah, kebun, bahkan mobil yang baru lunas kreditannya sudah lenyap untuk modal pencalegan kamu lima tahun yang lalu. Kalau kamu ngotot ingin maju lagi, saya tidak mampu,” kata Parlan memberikan penjelasan kepada Narti yang duduk murung di sampingnya.
Narti diam. Ia masih tetap berusaha mencari cara meluluhkan hati suaminya agar merestuinya mendaftar menjadi caleg lagi. Wanita setengah baya namun penampilannya masih seperti gadis remaja ini menggeser tempat duduknya. Ia lebih mendekat kepada suaminya. Tangannya yang lembut mencoba membelai rambut suaminya yang sebagian menutupi dahinya. Namun dengan cepat tangan suaminya menolak belaian tangan istrinya. Rupanya Parlan sudah mengetahui akal bulus istrinya yang ingin meluluhkan hatinya.
“Kenapa, Kang?” tanya Narti.
“Aku tahu maksudmu membelai rambutku. Engkau pasti ingin meluluhkan hatiku agar aku bersedia merestui pencaleganmu. Tidak Dik Narti. Sekali tidak tetap tidak. Aku sudah kapok dengan pencalganmu pada pemilu yang lalu.”
“Jangan putus asa, Kang! Memang tahun lalu saya kurang beruntung. Pemilu tahun ini saya yakin pasti menang.”
“Heh, menang? Jangan bermimpi, Dik Narti! Yang menyebabkan seseorang akan memenangkan pemilihan calon legislatif itu bukan kecantikan atau kepintaran. Uang yang akan berbicara. Semakin banyak uang yang dikeluarkan, semakin besar peluang seseorang menjadi anggota legislatif.”
Sesaat suasana hening. Kedua orang yang berbeda sikap ini mencari dasar untuk memenangkan debat. Narti yang keranjingan menjadi anggota legislatif terus melancarkan jurus-jurunya untuk menaklukkan hati Parlan, suaminya. Parlan sendiri tidak tinggal diam. Ia mencari jurus jitu untuk menyadarkan istrinya agar tidak nekat mendaftar sebagai caleg lagi.
Bagi seorang suami seperti Parlan, memang sangat keberatan merestui istrinya menjadi calon anggota legislatif. Selain masalah dana, juga menyangkut masalah harga diri sebagai suami. Seorang suami merasa tidak mempunyai harga diri jika istrinya sering keluar dengan rekan satu partai yang kebanyakan laki-laki. Dan ini sudah terbukti pada pemilu sebelumnya. Narti sering mengadakan pertemuan dengan sesama caleg dari satu partai kemudian mereka berkunjung ke daerah-daerah yang menjadi basis pemilihnya. Tengah malam atau bahkan dini hari Narti baru pulang dengan diantar rekan-rekannya yang mayoritas laki-laki itu. Hal seperti ini masih sangat tabu bagi masyarakat awam yang tinggal di perdesaan yang mayoritas nilai religinya masih sangat kental.
“Sudahlah, Dik Narti, jangan berpikir lagi tentang caleg! Lebih baik kita memikirkan bagaimana membiayai dua anak kita yang kini masih duduk di bangku perkuliahan. Mereka butuh dana banyak untuk menyelesaikan studinya.”
“Urusan biaya kuliah mereka kita pikirkan nanti saja. Yang terpenting bagaimana kita mempunyai dana untuk pencaleganku ini.”
“Lagi-lagi caleg, lagi-lagi caleg! Aku tidak mau mendengar kata-kata itu lagi. Kamu ini wanita, tidak baik terlalu disibukkan urusan-urusan begitu!”
“Lha, kenapa tahun lalu Kakang merestuiku menjadi caleg?”
“Waktu itu aku terpaksa menurutimu hingga kurela menjual semua yang kita miliki. Tapi apa hasilnya? Kau kalah dan hampir saja kau putus asa dengan mencoba bunuh diri.”
“Ya. Itu dulu karena aku ditipu oleh tim suksesku. Mereka yang kupercaya dan kuserahi dana untuk dibagikan kepada calon pemilih, malah diembat sendiri. Tetapi, Kang percayalah! Saya sekarang sudah menemukan trik untuk memenangkan pencaleganku. Saya sudah memasang calon tim sukses di tiap-tiap desa.”
“Punya tim sukses sekecamatan sekalipun, aku tetap tidak mengizinkanmu maju lagi. Titik!”
Parlan tetap bersikukuh mempertahankan sikapnya yang tidak merestui istrinya menjadi caleg. Dia sudah kapok meuruti kemauan istrinya seperti pemilu lalu sehingga tidak mau terjerumus pada kesalahan yang serupa.
Semenjak Parlan tidak mengizikan Narti maju dalam pemilu, Narti sering duduk menyendiri di bawah teras rumahnya. Wanita setengah baya yang biasanya berpenampilan seperti gadis remaja ini sudah mulai dimakan kekecewaan. Kulit wajahnya sudah tidak terawat lagi. Guratan-guratan usia di wajahnya terlihat jelas bahwa dia bukan lagi seorang gadis remaja. Dia kini tampak seperti aslinya, wanita setengah baya yang sudah mempunyai dua anak remaja yang kini masih duduk di bangku perkuliahan.
Pada selembar kertas dia menulis sajak. Sajak tentang harapan yang terhalang sang suami. Dia menulis, “Matahari tidak akan berhenti menyinari alam. Dia tidak akan putus asa oleh gumpalan mendung yang menutupi wajahnya. Demikian halnya diriku, yang akan tetap memancarkan sinar di panggung kampanye nanti. Hai, rakyatku! Akulah ratu keadilan yang akan membawa kalian mentas dari kesengsaraan. Akulah ratu kebenaran yang akan selalu menyinari kegelapan dalam kehidupan. Akulah angin yang selalu siap memberikan hembusan nafas segar demi terwujudnya cita-cita kalian menjadi warga yang hidup dalam keadilan, adil dalam kesejahteraan. Coblos aku, Narti!”
“Min, tolong kemari!” Narti memanggil pesuruhnya.
“Ada apa Bu Narti?” tanya Satimin.
“Ini fotokopikan menjadi dua ratus lembar. Pasang di pohon-pohon pinggir jalan dan tiang-tiang listrik atau di tempat keramaian,” perintah Narti sambil menyodorkan kertas yang bertuliskan sajak kampanye.
“Inggih Bu Narti!” Satimin menimpali perintah Narti sambil manggut-manggut.
Sajak Narti yang ditulis sekenanya sudah beredar ke mana-mana. Di setiap desa terpasang selebaran yang berisi ambis Narti menjadi caleg pada pemilu tahun ini. Di sana sini terlihat warga bererumun. Mereka membicarakan ulah Narti yang dinilai ganjil.
Parlan, suami Narti, terkejut saat melihat ada selebaran istrinya yang tertempel di tiang listri di tikungan jalan dekat pasar. Dia lantas bertanya kepada warga yang kebetulan rumahnya dekat dengan tempelan selebaran siapa yang telah menempelkannya.
Parlan lantas mencari Satimin. Ia melihat lelaki kepercayaannya ini sudah berada di rumah bersama Narti. Parlan tertegun melihat sikap istrinya yang berlaga seperti orang yang sedang berkampanye.
Wanita setengah umur itu berdiri tegak sambil mengepalkan tangan kanannya ke atas. Tangan kirinya memegang selembar kertas yang berisi sajak kampanye.
“Dik Narti, apa yang Kau lakukan?” tanya Parlan sambil menangis.
“Hai, rakyatku! Akulah ratu keadilan yang akan membawa kalian mentas dari kesengsaraan. Akulah ratu kebenaran yang akan selalu menyinari kegelapan dalam kehidupan. Akulah angin yang selalu memberikan hembusan nafas segar demi terwujudnya cita-cita kalian menjadi warga yang hidup dalam keadilan, adil dalam kesejahteraan. Coblos aku, Narti” seru Narti.
Narti tetap bersemangat membacakan sajaknya. Dia tidak menggubris pertanyaan suaminya yang menangis di sampingnya. Parlan pun merangkul tubuh Narti lalu menuntunnya masuk ke rumah.
Saat di papah suaminya, Narti tetap bersemangat membacakan sajak itu. Dia hilang kesadaran karena keinginannya maju dalam pemilu legislatif tahun ini terhalang oleh sikap suaminya yang sudah trauma pada pemilu sebelumnya.
“Jangan, Dik Narti! Jangan mencalon mendaftar sebagai caleg lagi. Kita sudah tidak punya apa-apa,” ungkap Parlan melarang istrinya yang masih bersikukuh ingin mencalonkan diri sebagai calon anggota legislatif.
Suami istri ini setiap hari selalu beradu sikap. Narti yang tahun lalu sudah gagal menjadi anggota legislatif tetap ngotot ingin mencalonkan diri lagi. Sedangkan suaminya sudah tidak menghendaki lagi istrinya maju sebagai calon anggota legislatif.
“Kita sudah tidak mempunyai modal lagi. Sawah, kebun, bahkan mobil yang baru lunas kreditannya sudah lenyap untuk modal pencalegan kamu lima tahun yang lalu. Kalau kamu ngotot ingin maju lagi, saya tidak mampu,” kata Parlan memberikan penjelasan kepada Narti yang duduk murung di sampingnya.
Narti diam. Ia masih tetap berusaha mencari cara meluluhkan hati suaminya agar merestuinya mendaftar menjadi caleg lagi. Wanita setengah baya namun penampilannya masih seperti gadis remaja ini menggeser tempat duduknya. Ia lebih mendekat kepada suaminya. Tangannya yang lembut mencoba membelai rambut suaminya yang sebagian menutupi dahinya. Namun dengan cepat tangan suaminya menolak belaian tangan istrinya. Rupanya Parlan sudah mengetahui akal bulus istrinya yang ingin meluluhkan hatinya.
“Kenapa, Kang?” tanya Narti.
“Aku tahu maksudmu membelai rambutku. Engkau pasti ingin meluluhkan hatiku agar aku bersedia merestui pencaleganmu. Tidak Dik Narti. Sekali tidak tetap tidak. Aku sudah kapok dengan pencalganmu pada pemilu yang lalu.”
“Jangan putus asa, Kang! Memang tahun lalu saya kurang beruntung. Pemilu tahun ini saya yakin pasti menang.”
“Heh, menang? Jangan bermimpi, Dik Narti! Yang menyebabkan seseorang akan memenangkan pemilihan calon legislatif itu bukan kecantikan atau kepintaran. Uang yang akan berbicara. Semakin banyak uang yang dikeluarkan, semakin besar peluang seseorang menjadi anggota legislatif.”
Sesaat suasana hening. Kedua orang yang berbeda sikap ini mencari dasar untuk memenangkan debat. Narti yang keranjingan menjadi anggota legislatif terus melancarkan jurus-jurunya untuk menaklukkan hati Parlan, suaminya. Parlan sendiri tidak tinggal diam. Ia mencari jurus jitu untuk menyadarkan istrinya agar tidak nekat mendaftar sebagai caleg lagi.
Bagi seorang suami seperti Parlan, memang sangat keberatan merestui istrinya menjadi calon anggota legislatif. Selain masalah dana, juga menyangkut masalah harga diri sebagai suami. Seorang suami merasa tidak mempunyai harga diri jika istrinya sering keluar dengan rekan satu partai yang kebanyakan laki-laki. Dan ini sudah terbukti pada pemilu sebelumnya. Narti sering mengadakan pertemuan dengan sesama caleg dari satu partai kemudian mereka berkunjung ke daerah-daerah yang menjadi basis pemilihnya. Tengah malam atau bahkan dini hari Narti baru pulang dengan diantar rekan-rekannya yang mayoritas laki-laki itu. Hal seperti ini masih sangat tabu bagi masyarakat awam yang tinggal di perdesaan yang mayoritas nilai religinya masih sangat kental.
“Sudahlah, Dik Narti, jangan berpikir lagi tentang caleg! Lebih baik kita memikirkan bagaimana membiayai dua anak kita yang kini masih duduk di bangku perkuliahan. Mereka butuh dana banyak untuk menyelesaikan studinya.”
“Urusan biaya kuliah mereka kita pikirkan nanti saja. Yang terpenting bagaimana kita mempunyai dana untuk pencaleganku ini.”
“Lagi-lagi caleg, lagi-lagi caleg! Aku tidak mau mendengar kata-kata itu lagi. Kamu ini wanita, tidak baik terlalu disibukkan urusan-urusan begitu!”
“Lha, kenapa tahun lalu Kakang merestuiku menjadi caleg?”
“Waktu itu aku terpaksa menurutimu hingga kurela menjual semua yang kita miliki. Tapi apa hasilnya? Kau kalah dan hampir saja kau putus asa dengan mencoba bunuh diri.”
“Ya. Itu dulu karena aku ditipu oleh tim suksesku. Mereka yang kupercaya dan kuserahi dana untuk dibagikan kepada calon pemilih, malah diembat sendiri. Tetapi, Kang percayalah! Saya sekarang sudah menemukan trik untuk memenangkan pencaleganku. Saya sudah memasang calon tim sukses di tiap-tiap desa.”
“Punya tim sukses sekecamatan sekalipun, aku tetap tidak mengizinkanmu maju lagi. Titik!”
Parlan tetap bersikukuh mempertahankan sikapnya yang tidak merestui istrinya menjadi caleg. Dia sudah kapok meuruti kemauan istrinya seperti pemilu lalu sehingga tidak mau terjerumus pada kesalahan yang serupa.
***
Semenjak Parlan tidak mengizikan Narti maju dalam pemilu, Narti sering duduk menyendiri di bawah teras rumahnya. Wanita setengah baya yang biasanya berpenampilan seperti gadis remaja ini sudah mulai dimakan kekecewaan. Kulit wajahnya sudah tidak terawat lagi. Guratan-guratan usia di wajahnya terlihat jelas bahwa dia bukan lagi seorang gadis remaja. Dia kini tampak seperti aslinya, wanita setengah baya yang sudah mempunyai dua anak remaja yang kini masih duduk di bangku perkuliahan.
Pada selembar kertas dia menulis sajak. Sajak tentang harapan yang terhalang sang suami. Dia menulis, “Matahari tidak akan berhenti menyinari alam. Dia tidak akan putus asa oleh gumpalan mendung yang menutupi wajahnya. Demikian halnya diriku, yang akan tetap memancarkan sinar di panggung kampanye nanti. Hai, rakyatku! Akulah ratu keadilan yang akan membawa kalian mentas dari kesengsaraan. Akulah ratu kebenaran yang akan selalu menyinari kegelapan dalam kehidupan. Akulah angin yang selalu siap memberikan hembusan nafas segar demi terwujudnya cita-cita kalian menjadi warga yang hidup dalam keadilan, adil dalam kesejahteraan. Coblos aku, Narti!”
“Min, tolong kemari!” Narti memanggil pesuruhnya.
“Ada apa Bu Narti?” tanya Satimin.
“Ini fotokopikan menjadi dua ratus lembar. Pasang di pohon-pohon pinggir jalan dan tiang-tiang listrik atau di tempat keramaian,” perintah Narti sambil menyodorkan kertas yang bertuliskan sajak kampanye.
“Inggih Bu Narti!” Satimin menimpali perintah Narti sambil manggut-manggut.
Sajak Narti yang ditulis sekenanya sudah beredar ke mana-mana. Di setiap desa terpasang selebaran yang berisi ambis Narti menjadi caleg pada pemilu tahun ini. Di sana sini terlihat warga bererumun. Mereka membicarakan ulah Narti yang dinilai ganjil.
Parlan, suami Narti, terkejut saat melihat ada selebaran istrinya yang tertempel di tiang listri di tikungan jalan dekat pasar. Dia lantas bertanya kepada warga yang kebetulan rumahnya dekat dengan tempelan selebaran siapa yang telah menempelkannya.
Parlan lantas mencari Satimin. Ia melihat lelaki kepercayaannya ini sudah berada di rumah bersama Narti. Parlan tertegun melihat sikap istrinya yang berlaga seperti orang yang sedang berkampanye.
Wanita setengah umur itu berdiri tegak sambil mengepalkan tangan kanannya ke atas. Tangan kirinya memegang selembar kertas yang berisi sajak kampanye.
“Dik Narti, apa yang Kau lakukan?” tanya Parlan sambil menangis.
“Hai, rakyatku! Akulah ratu keadilan yang akan membawa kalian mentas dari kesengsaraan. Akulah ratu kebenaran yang akan selalu menyinari kegelapan dalam kehidupan. Akulah angin yang selalu memberikan hembusan nafas segar demi terwujudnya cita-cita kalian menjadi warga yang hidup dalam keadilan, adil dalam kesejahteraan. Coblos aku, Narti” seru Narti.
Narti tetap bersemangat membacakan sajaknya. Dia tidak menggubris pertanyaan suaminya yang menangis di sampingnya. Parlan pun merangkul tubuh Narti lalu menuntunnya masuk ke rumah.
Saat di papah suaminya, Narti tetap bersemangat membacakan sajak itu. Dia hilang kesadaran karena keinginannya maju dalam pemilu legislatif tahun ini terhalang oleh sikap suaminya yang sudah trauma pada pemilu sebelumnya.
Wanar, 29 Oktober 2013
*Cerpenis adalah guru SMA Raudlatul Muta’allimin Babat
yang sedang menempuh S-2 di Unisda Lamongan
tinggal di Wanar, Pucuk, Lamongan
Jumat, 15 November 2013
Read more...
Cerpen : E M P U T
Karya : Ahmad Fanani Mosah
DESING kendaraan bermobil disertai asap menyeruak, menambah panasnya kota metropolitan. Suasana semacam ini aku rasakan setiap hari. Lantas terlintas di benakku : kapan bisa kutemui udara segar seperti tatkala aku masih di dusun udik dulu, di perkampungan di lereng gunung Sumengko itu aku dibesarkan.
Dengan mengantongi ijazah SMA aku mencoba memperbaiki nasib di ibukota. Entah berapa sudah pabrik dan perusahaan yang aku tawari tenagaku. Tak satupun yang membutuhkan-ku. Aku menyadari, memang namaku tidak terkenal. Berhari-hari sudah aku menyusuri jalan-jalan dan trotoar kota besar. Dalam kepayahan dan kehausan itu aku terlelap dalam lamunan di bawah jembatan penyeberangan.
Tak kutemui para tetua memanggul cangkul, mengempit sabit. Kangen aku pada si mbok-mbok bersanggul menjinjing wakul. Rasanya aku ingin ngobrol lagi dengan kerbao-kerbao milik-ku yang asyik merumput di tepi danao. Begitu waktu surup tiba, bocah-bocah dan pak tani itu membersihkan diri di sendang pancuran. Gemericik air adalah musik yang asik. Kemerosak dedaunan adalah orkestra yang tertata. Lenguh sapi adalah vokal yang tak pernah sepi. Sapu lidi yang meraung-raung kuanggap blender melodi. Suara Jangkrik ngerik kuanggap siter yang dipetik. Biola gesek di tempat asalku adalah kodok ngorek. Ayunan cangkul pak tani bagaikan penari yang sedang beraksi. Bunyi kemelotak tukang kayu ibarat garputala mendayu-dayu. Suara lesung adalah ketukan langsung. Gagahnya gunung bermakna back-ground panggung. Itulah konser alam yang tak terlupakan.
Tapi kini aktivitas pedesaan dan suara alam itu tak lagi kudapati. Konon berita yang kuterima dari kampung halaman, banyak para pemborong yang sedang mengadakan penggurukan jublang. Hutan jati banyak yang ditebangi. Hamparan sawah ladang sudah menjadi permukiman. Rawa dan waduk telah menjadi pertokoan. Persis, pemandangan yang kutemui saban hari adalah hiruk-pikuknya manusia di tengah-tengah bisingnya kota. Manusia itu adalah termasuk diriku, yang mengais rejeki dengan bermodal vokal, sambil menggoyang-goyang tamborin. Ngamen garingan.
Entah nasib apa yang menyelimuti kami sehingga tanpa sengaja kami bertemu dengan komunitas pengamen jalanan. Diantara teman-teman KPJ itu, aku dianggap yang paling intelek. Ya, intelek menurut pandangan mereka. Padahal toh sama-sama bego’nya. Secara spontanitas aku mencoba memandunya. Sepak terjang KPJ (Komunitas Pengamen Jalanan) yang kupimpin tak selancar yang kuimpikan. Ada saja kendala menghadang. Akan tetapi kami berupaya bagaimana agar kendala itu bisa terkendali. Dan yang paling penting bagaimana agar teman-teman satu group itu bisa merokok dan ngopi setiap hari. Terobosan demi terobosan kami lalui. Masuk dapur rekaman adalah idaman kami. Namun apa boleh buat, nama kami tidak terkenal. Baru menyodorkan lamaran saja sudah banyak yang menjegal. Ada yang pura-pura menawarkan jasa. Ujung-ujungnya, ia minta harta. Bila kami dapat job dan order, ia sanggup menjadi menejer. Tak jarang, sesama artispun saling jegal, agar pesaingnya gagal.
Apatah begini, jalan menuju sukses. Ternyata janji tinggal janji. Dan rata-rata di ruang lobi pada setiap kantor TV ada saja orang yang berlaku begini. Tawar menawar harga untuk bisa antri. Antri disorot kamera harus punya banyak koneksi. Jika William Shakespere berujar : “What is the name” (apalah arti sebuah nama), itu adalah dalam rangka memberi motivasi (semangat) bagi orang-orang yang namanya tidak terkenal, semacam diriku. Ya, sebab saat ini yang menjadi tolok ukur orang adalah nama besar. Dan betapa sulitnya mengukir nama itu. Guruku, orangtuaku tak pernah menyematkan namaku di keramaian orang. Bahkan ketika aku bersama-sama dengan teman sekolahku, guruku melupakan-ku begitu saja. Guru-guru itu tidak hafal 100 persen nama-nama anak didiknya. Yang beliau hafal adalah anak-anak tertentu. Yang paling pinter, yang paling goblok, yang paling nakal, yang paling ganteng, yang paling cantik, yang paling kaya orangtuanya, yang paling melarat, dsb.
Sementara aku adalah sekelompok murid yang tidak termasuk komunitas di atas. Guruku tidak pernah memanggilku untuk urusan tertentu. Yang sering dipanggil adalah teman-temanku yang punya kriteria tertentu. Adapun aku hanyalah sebagai pendamping dan penggembira bagi para teman-temanku, bila mereka diutus guru. Meski demikian, aku tetap senang masih bisa menyatu dengan teman-temanku saat itu. Sampai sekarangpun mereka (guru & murid) saling mengabarkan. Kecuali aku yang tak punya media komunikasi. Juga tak punya kepiawaian untuk berkorelasi dengan para kolega dan relasi. Aku menyadari bahwa aku memang tak punya prestasi. Sebab memang yang menjadi penilaian adalah gemleger yang tampak jasmani. Sedangkan yang tersembunyi dalam hati, rohani dan sanubari sama sekali tidak dinilai. Di mata guru-guru sekolah dasar itu aku diabaikan. Sampai di tingkat menengah pertama, dan ataspun, namaku tidak terkenal.
Apalagi baru duduk di bangku kuliah seumur jagung, aku sudah tidak betah dan tidak krasan. Terpaksa aku harus hengkang dari kampus perkuliahan. Persaingan prestasi dan non-prestasi lebih ketat tampaknya. Biarlah, tidak mengapa guru-guruku tidak mengenalku. Ada hikmahnya : bila ketemu (berpapasan) di luar jam sekolah, tidak sungkan. Tidak menyapa, tidak apa-apa. Toh beliau tidak kenal, siapa aku. Aku faham, untuk menjadi terkenal tidak semudah membalikkan telapak tangan. Atau hanya bilang “Bim salabim aba kadabra, tolong ya, Pak Tarno dibantu ya,… mau jadi apa,…bra…bra…bra…!!”.
Iwan Fals yang suaranya tidak fals itu bermula dari pengamen jalanan. Rhoma Irama yang sudah banyak irama itu harus bernyepi-nyepi dan bersusah-susah dulu, baru tenar kemudian. Nama Ahmad Dani dan Maya yang selalu meroket itu memang harus didandani, baru masuk ke dunia maya. Aktor Elmanik hidupnya penuh pernak-pernik. Termasuk WD Mochtar dan Machicha Mochtar, tak berhenti berichtiar. Sukses dari artis menjadi bupati, Rano Karno tidak boleh sembrono. Aktris cantik Ayu Azhari, harus selalu merawat tubuhnya agar tetap ayu setiap hari. Host presenter Arie Untung, sebelumnya tidak langsung beruntung. Bintang film Ria Irawan, sebelum bergembira-ria, terlebih dahulu mendapat kesedihan.
Untuk itu sampai saat ini, walaupun namaku tidak terkenal. Aku akan tetap tabah dan tenang. Untuk apa terkenalnya nama, jika menyangkut pada hal-hal yang negatif, semacam Gayus Tambunan, yang hartanya tetap tambun saja, meski orangnya dipenjara; wong penjaranya mewah. Ngalah-ngalahi hotel berbintang. Ada lagi orang yang dananya terus bertambah, yaitu Dhana Widyatmoko. Atau para teroris yang bikin hati miris. Percuma tak berguna bila tenarnya itu banyak kecaman.
Justru dengan ketidak terkenalnya namaku, aku menjadi terkenal. Ya, terkenalnya namaku, gara-gara aku tidak terkenal. Sehingga suatu saat aku boleh menyampaikan sumpah serapahku : “Wahai Ummat Manusia, Ketahuilah Bahwa Aku Adalah Orang Yang Paling Tidak Terkenal Di Dunia”.
Dalam angan-anganku yang kosong itu, aku berencana akan balik mudik ke dusun kelahiran. Daripada di kota yang tak membuahkan hasil. Aku yakin bahwa yang senasib denganku ini masih banyak. Cuma mereka malu jika kegagalan itu terbaca orang. Mereka gengsi, dari kota kok masih melarat. Khawatir dicemooh orang : sama-sama melarat enakan di desa. Nggak tekor. Okelah kawan, kita seragam. Saat ini kita boleh gagal. Tapi aku nggak mau bikin jama’ah kegagalan. Efeknya bisa membuat anggotanya nelongso. Bila nggak kuat imannya, bisa-bisa bunuh diri atau minimal menambah nafsu lawwamah dan serakah. Karenanya aku tetap berikhtiar. Jika sudah mendapat pangupo jiwo, aku akan selalu nerimo ing pandum. Untuk itu siapa tahu esok hari lain waktu kita berhasil, kawan. Andai suksespun aku nggak bakalan bikin komunitas orang-orang sukses. Efeknya adalah akan membuat orang itu ongkang-ongkang, gumede dan sombong.
Dengan tegar aku menyusuri kampung halamanku. Kulihat meski banyak perubahan fisik dan bangunan, namun etika orang-orang di sekitarku masih tetap seperti yang dulu. Terbukti dua, tiga orang yang berpapasan denganku ketika aku berjalan kaki dari stasiun menuju rumah di dusun, mereka menyapaku. Tentu aku membalasnya. Dalam pikiranku, berarti wajahku nggak berubah. Terbukti mereka masih mengenalku. Ya, mereka mengenalku sebatas ketidak-tenaranku. Lain tidak !.
Selama aku di kampung yang nun jauh di udik, alam pikiranku terus berproses. Bukankah di pedesaan banyak komoditi non migas ?. Hasil sawah ladang orangtuaku yang berupa jagung, kedelai, beras, ketan yang selama ini tidak berubah wujud, dijual begitu saja sebagian. Sementara sebagian yang lain untuk makan sehari-hari oleh para seisi padepokan keluarga. Inspirasi dan ilham spontan bernalar dari butiran-butiran jagung yang menggelundung dari karung, jatuh ke ubin lempung. Bersamaan dengan itu terbayang kegiatan kakek-nenek yang sudah almarhum, menggoreng jagung di atas wajan nang-nangan. Kini orang bilang sangrai. Menggoreng tanpa minyak. Alias goreng garingan. Sementara si kakek mendeplok jagung itu, dengan trengginasnya. Kemudian hasil deplokan itu diayak. Jadilah serbuk jagung yang super lembut. Orang dulu menyebutnya EMPUT. Rasanya gurih-gurih sedap mengandung manis. Gurih sedap itu adalah aroma asli jagung, manisnya adalah serbuk gula pasir yang sudah ditumbuk bersamaan dengan si jagung tadi di dalam lumpang besi. Lebih orisinil dan nikmat lagi, semua bahan alami. Tanpa bahan pengawet dan zat kimiawi.
Tanpa ba – bi – bu , aku dengan lincahnya meniru gaya kakek-nenekku. Kutumbuk sendiri, kuayak sendiri. Kukemas sendiri, kuedarkan sendiri. Uang hasil karya yang unik, langka tapi ada itu untuk seluruh keluarga. Lambat laun, hari demi hari hingga pergantian tahun “kreatifitas”ku yang tiada taranya itu mencuat ke permukaan. Sudah mulai terkenal, nih….ye…?. Aku tidak mau merasa besar hati begitu saja. Tidak sedikit tamu yang datang berkunjung ke pesanggrahan kami. Ada-ada saja maksud dan tujuan tamu yang bertandang menemui diriku, sebagai pengganda ulang jajanan EMPUT peninggalan nenek moyang, sebuah snack tempo doeloe.
Baru-baru ini ada sekelompok tamu dari sebuah perusahaan bank yang menawarkan permodalan. Untuk tamu yang ini, jujur aku belum bisa menjawabnya dengan lantang. Apa iya, apa tidak. Bisakah aku mengembalikan modal berikut bunganya dengan lancar ?. Ada juga orang-orang yang sanggup menjadi menejer usaha kami. Bahkan ada yang sudi sebagai bapak angkat perusahaan kami. Padahal sesungguhnya usahaku itu tak layak disebut perusahaan.
Suatu ketika ada orang yang datang mertamu ke rumah kami dengan wajah sangat penasaran. Menanyakan tentang perusahaan yang aku geluti, katanya. Saya jawab, bahwa saya tidak punya perusahaan. Si tamu itu masih tetap ngeyel : “Home industri…., gitu lho…!” kata tamu mendunungkan.
“Kok besar amat istilahnya” sergahku. “Aku nggak punya industri, Pak !” lanjutku juga dalam rangka mendunungkan persoalan pada si tamu aneh itu.
Sudah merupakan adat di rumah kami, setiap ada tamu, siapapun orangnya pasti kami suguhi makanan/camilan kebanggaan kami, EMPUT JAGUNG. Biarlah orang bilang ora umum. Itulah cara kami menghormati tetamu, dengan sesuatu yang kami bisa dan punya.
“Lha… ini yang saya cari !” ujar tamu itu spontan.
“Terus tujuan Bapak kesini mau apa” tanyaku
“Ya, mau kulakan EMPUT !” jawabnya tegas meyakinkan. Katanya pula : “Lha ya ini, yang namanya home industri itu”.
“Ah, Bapak terlalu menyanjung kami. Wong ini EMPUT saya deplok sendiri, saya jual sendiri, kok !” balasku. “Monggo,…monggo… disambi, Pak. Lha ini unjukannya, biar nggak sereden”. Serta merta tamu itu menikmatinya dengan penuh penghayatan. Suasana hening beberapa saat. Sebab orang makan EMPUT itu tidak boleh ngobrol. Dan harus tersedia air minum. Demi tamu, aku juga ikut-ikutan ngemil EMPUT bikinanku sendiri. Walaupun toh sebenarnya aku sudah mblenger. Dengan lincahnya tamu itu makan, minum, makan, minum. Aku juga mengimbanginya. Tak apalah, toh masih enak juga.
“Ya sudah, pokoknya saya kulak dalam jumlah besar” lanjut tamu itu beberapa saat usai ngemu EMPUT. Setelah itu sang tamu pamit pulang.
Garapan ini aku syukuri. Betapapun ribet bila dilakoni. Sebab rintisan awal-awal kemarin aku masih menggunakan tenaga manual. Bila dapat order besar, apa nggak sempal bahuku hanya untuk menumbuk jagung, belum lagi mengayaknya. Kini prinsip efisien dan efektifitas akan aku terapkan. Dalam dua, tiga hari aku harus mendapatkan mesin giling, untuk melembutkan jagung-jagung yang akan kami ‘perkosa’. Toh di lumbung belakang masih ada beberapa glangsing gabah, yang bisa aku uangkan untuk beli mesin selep kecil-kecilan.
Lama-lama usahaku membesar. Penikmatnyapun dari tetangga sekitar, hingga kota-kota besar. Tidak jarang orang-orang sekampung sendiri juga banyak yang beli di rumah kami. Rata-rata mereka malas mendeploknya. Apalagi musim penghujan begini, sambil memandang hujan ngriceh lebih nikmat makan EMPUT minum teh.
Dalam waktu beberapa kejap setelah pengadaan mesin giling, EMPUT bikinanku lebih merambah pasar. Di rumah sudah kupasang orang. Sementara aku bagian mengirim ke kota-besar dan metropolitan. Sembari bernostalgia dengan teman-teman di terminalan, kubawakan oleh-oleh EMPUT nyamikan tinggalan nenek moyang. Kini tak jemu-jemunya aku bersyukur kepada Tuhan. Walaupun namaku tidak terkenal, tapi EMPUT panganan alternatif itu cukup menjanjikan. Sebagian kujual di sana. Produksiku semakin terkenal. Laris manis diserbu banyak orang. Biarlah namaku tidak tenar, asalkan EMPUT-ku terkenal. ( = = = = 2012, Dari Padepokan Sanggar Seni Arsega, Babat-Lamongan)= = =
Biodata Penulis : AHMAD FANANI MOSAH, Pembina Jusnalistik SMP Negeri 3 Babat-Lamongan ini karya jurnalistiknya sudah sering nongol di berbagai media cetak, semisal : Surya, Jawapos, Tabloid Istiqlal, Suara Banten, MPA, Memorandum, dll. Penulis produktif ini kerjabareng dengan para jurnalis ibukota untuk membuat ENSTAIN, Ensiklopedia Tanah Air Indonesia)
(E-mail : bung_fanmosah@yahoo.co.id) (Kontak HP : 0857 309 248 76)
Rabu, 06 November 2013
Read more...
Recently Commented
Recent Entries
Info Persela
Berita Lamongan Jawa Timur Terkini
Diberdayakan oleh Blogger.