Cerpen : E M P U T

Posted on Rabu, 06 November 2013 and filed under , . You can follow any responses to this entry through theRSS 2.0 . You can leave a response or trackback to this entry from your site

Karya : Ahmad Fanani Mosah


                DESING kendaraan bermobil disertai asap menyeruak, menambah panasnya kota metropolitan. Suasana semacam ini aku rasakan setiap hari.  Lantas terlintas di benakku : kapan  bisa kutemui udara segar seperti tatkala aku masih di dusun udik dulu, di perkampungan di lereng gunung Sumengko itu aku dibesarkan.

Dengan mengantongi ijazah SMA aku mencoba memperbaiki nasib di ibukota. Entah berapa sudah pabrik dan perusahaan yang aku tawari tenagaku. Tak satupun yang membutuhkan-ku.  Aku menyadari, memang namaku tidak terkenal. Berhari-hari sudah aku menyusuri jalan-jalan dan trotoar kota besar. Dalam kepayahan dan kehausan itu aku terlelap dalam lamunan di bawah jembatan penyeberangan.

Tak kutemui para tetua memanggul cangkul, mengempit sabit. Kangen aku pada si mbok-mbok bersanggul menjinjing wakul.  Rasanya aku ingin ngobrol lagi dengan kerbao-kerbao milik-ku yang asyik merumput di tepi danao. Begitu waktu surup tiba, bocah-bocah dan pak tani itu membersihkan diri di sendang pancuran. Gemericik air adalah musik yang asik. Kemerosak dedaunan adalah orkestra yang tertata. Lenguh sapi adalah vokal yang tak pernah sepi. Sapu lidi yang meraung-raung kuanggap blender melodi. Suara Jangkrik ngerik kuanggap siter yang dipetik. Biola gesek di tempat asalku adalah kodok ngorek. Ayunan cangkul pak tani bagaikan penari yang sedang beraksi. Bunyi kemelotak tukang kayu ibarat garputala mendayu-dayu. Suara lesung adalah ketukan langsung. Gagahnya gunung bermakna back-ground panggung. Itulah konser alam yang tak terlupakan.

Tapi kini aktivitas pedesaan dan suara alam itu tak lagi kudapati. Konon berita yang kuterima dari kampung halaman, banyak para pemborong yang sedang  mengadakan penggurukan jublang. Hutan jati banyak yang ditebangi. Hamparan sawah ladang sudah menjadi permukiman. Rawa dan waduk telah menjadi pertokoan. Persis, pemandangan yang kutemui saban hari adalah hiruk-pikuknya  manusia di tengah-tengah bisingnya kota. Manusia itu adalah termasuk diriku, yang mengais rejeki dengan bermodal vokal, sambil menggoyang-goyang tamborin. Ngamen garingan.

Entah nasib apa yang menyelimuti kami sehingga tanpa sengaja  kami bertemu dengan komunitas pengamen jalanan. Diantara teman-teman KPJ itu, aku dianggap yang paling intelek.  Ya, intelek menurut pandangan mereka. Padahal toh sama-sama bego’nya. Secara spontanitas aku mencoba memandunya. Sepak terjang KPJ (Komunitas Pengamen Jalanan) yang kupimpin tak selancar yang kuimpikan. Ada saja kendala menghadang. Akan tetapi kami berupaya bagaimana agar kendala itu bisa terkendali. Dan yang paling penting bagaimana agar teman-teman satu group itu bisa merokok dan ngopi setiap hari. Terobosan demi terobosan kami lalui. Masuk dapur rekaman adalah idaman kami. Namun apa boleh buat, nama kami tidak terkenal. Baru menyodorkan lamaran saja sudah banyak yang menjegal. Ada yang pura-pura menawarkan jasa. Ujung-ujungnya, ia minta harta. Bila kami dapat job dan order, ia sanggup menjadi menejer. Tak jarang, sesama artispun saling jegal, agar pesaingnya gagal.

Apatah begini, jalan menuju sukses. Ternyata janji tinggal janji. Dan rata-rata di ruang lobi pada setiap kantor TV ada saja orang yang berlaku begini. Tawar menawar harga  untuk bisa antri. Antri disorot kamera harus punya banyak koneksi. Jika William Shakespere berujar : “What is the name” (apalah arti sebuah nama), itu adalah dalam rangka memberi motivasi (semangat) bagi orang-orang yang namanya tidak terkenal, semacam diriku. Ya, sebab saat ini yang menjadi tolok ukur orang adalah nama besar. Dan betapa sulitnya mengukir nama itu. Guruku, orangtuaku tak pernah menyematkan namaku di keramaian orang. Bahkan ketika aku bersama-sama dengan teman sekolahku, guruku melupakan-ku begitu saja. Guru-guru itu tidak hafal 100 persen nama-nama anak didiknya. Yang beliau hafal adalah anak-anak tertentu. Yang paling pinter, yang paling goblok, yang paling  nakal, yang paling ganteng, yang paling cantik, yang paling kaya orangtuanya, yang paling melarat, dsb.

Sementara aku adalah sekelompok murid yang tidak termasuk komunitas di atas. Guruku tidak pernah memanggilku untuk urusan tertentu. Yang sering dipanggil adalah teman-temanku yang punya kriteria tertentu. Adapun aku hanyalah sebagai pendamping dan penggembira bagi para teman-temanku, bila mereka diutus guru. Meski demikian, aku tetap senang masih bisa menyatu dengan teman-temanku saat itu. Sampai sekarangpun mereka (guru & murid) saling mengabarkan. Kecuali aku yang tak punya media komunikasi. Juga tak punya kepiawaian untuk berkorelasi dengan para kolega dan relasi. Aku menyadari bahwa aku memang tak punya prestasi. Sebab memang yang menjadi penilaian adalah gemleger yang tampak jasmani. Sedangkan yang tersembunyi dalam hati, rohani dan sanubari sama sekali tidak dinilai.  Di mata guru-guru sekolah dasar itu aku diabaikan. Sampai di tingkat menengah pertama, dan ataspun, namaku tidak terkenal.

Apalagi baru duduk di bangku kuliah seumur jagung, aku sudah tidak betah dan tidak krasan. Terpaksa aku harus hengkang dari kampus perkuliahan. Persaingan prestasi dan non-prestasi lebih ketat tampaknya. Biarlah, tidak mengapa guru-guruku tidak mengenalku. Ada hikmahnya : bila ketemu (berpapasan) di luar jam sekolah, tidak sungkan. Tidak menyapa, tidak apa-apa. Toh beliau tidak kenal, siapa aku. Aku faham, untuk menjadi terkenal tidak semudah membalikkan telapak tangan. Atau hanya bilang “Bim salabim aba kadabra, tolong ya, Pak Tarno dibantu ya,… mau jadi apa,…bra…bra…bra…!!”.

Iwan Fals yang suaranya tidak fals itu bermula dari pengamen jalanan. Rhoma Irama yang sudah banyak irama itu harus bernyepi-nyepi dan bersusah-susah dulu, baru tenar kemudian. Nama Ahmad Dani dan Maya yang selalu meroket itu memang harus didandani, baru masuk ke dunia maya. Aktor Elmanik hidupnya penuh pernak-pernik. Termasuk WD Mochtar dan Machicha Mochtar, tak berhenti berichtiar. Sukses dari artis menjadi bupati, Rano Karno tidak boleh sembrono. Aktris cantik Ayu Azhari, harus selalu merawat tubuhnya agar tetap ayu setiap hari. Host presenter Arie Untung, sebelumnya tidak langsung beruntung. Bintang film Ria Irawan, sebelum bergembira-ria, terlebih dahulu mendapat kesedihan.

Untuk itu sampai saat ini, walaupun namaku tidak terkenal. Aku akan tetap tabah dan tenang. Untuk apa terkenalnya nama, jika menyangkut  pada hal-hal yang negatif, semacam Gayus Tambunan, yang hartanya tetap tambun saja, meski orangnya dipenjara; wong penjaranya mewah. Ngalah-ngalahi hotel berbintang. Ada lagi orang yang dananya terus bertambah, yaitu Dhana Widyatmoko. Atau para teroris yang bikin hati miris. Percuma tak berguna bila tenarnya itu banyak kecaman.

Justru dengan ketidak terkenalnya namaku, aku menjadi terkenal. Ya, terkenalnya namaku, gara-gara aku tidak terkenal. Sehingga suatu saat aku boleh menyampaikan sumpah serapahku : “Wahai Ummat Manusia, Ketahuilah Bahwa Aku Adalah Orang Yang Paling Tidak Terkenal Di Dunia”.

Dalam angan-anganku yang kosong itu, aku berencana akan balik mudik ke dusun kelahiran. Daripada di kota yang tak membuahkan hasil. Aku yakin bahwa yang senasib denganku ini masih banyak. Cuma mereka malu jika kegagalan itu terbaca orang. Mereka gengsi, dari kota kok masih melarat. Khawatir dicemooh orang : sama-sama melarat enakan di desa. Nggak tekor. Okelah kawan, kita seragam. Saat ini kita boleh gagal. Tapi aku nggak mau bikin jama’ah kegagalan. Efeknya bisa membuat anggotanya nelongso. Bila nggak kuat imannya, bisa-bisa bunuh diri atau minimal menambah nafsu lawwamah dan serakah. Karenanya aku tetap berikhtiar. Jika sudah mendapat pangupo jiwo, aku akan selalu nerimo ing pandum.  Untuk itu siapa tahu esok hari lain waktu kita berhasil, kawan. Andai suksespun aku nggak bakalan bikin komunitas orang-orang sukses. Efeknya adalah akan membuat orang itu ongkang-ongkang, gumede dan sombong.

Dengan tegar aku menyusuri kampung halamanku. Kulihat meski banyak perubahan fisik dan bangunan,  namun etika orang-orang di sekitarku masih tetap seperti yang dulu. Terbukti dua, tiga orang yang berpapasan denganku ketika aku berjalan kaki dari stasiun menuju rumah di dusun,  mereka menyapaku. Tentu aku membalasnya. Dalam pikiranku, berarti wajahku nggak berubah. Terbukti mereka masih mengenalku. Ya, mereka mengenalku sebatas ketidak-tenaranku. Lain tidak !.

Selama aku di kampung yang nun jauh di udik, alam pikiranku terus berproses. Bukankah di pedesaan banyak komoditi non migas ?. Hasil sawah ladang orangtuaku  yang berupa jagung, kedelai, beras, ketan yang selama ini tidak berubah wujud, dijual begitu saja sebagian. Sementara sebagian yang lain untuk makan sehari-hari oleh para seisi padepokan keluarga. Inspirasi dan ilham spontan bernalar dari butiran-butiran jagung yang menggelundung dari karung, jatuh ke ubin lempung. Bersamaan dengan itu terbayang kegiatan kakek-nenek yang sudah almarhum, menggoreng jagung di atas wajan nang-nangan. Kini orang bilang sangrai. Menggoreng tanpa minyak. Alias goreng garingan. Sementara si kakek mendeplok jagung itu, dengan trengginasnya. Kemudian hasil deplokan itu diayak. Jadilah serbuk jagung yang super lembut. Orang dulu menyebutnya EMPUT. Rasanya gurih-gurih sedap mengandung manis. Gurih sedap itu adalah aroma asli jagung, manisnya adalah serbuk gula pasir yang sudah ditumbuk bersamaan dengan si jagung tadi di dalam lumpang besi. Lebih orisinil dan nikmat lagi,  semua bahan alami. Tanpa bahan pengawet dan zat kimiawi.

Tanpa   ba – bi – bu ,  aku dengan lincahnya meniru gaya kakek-nenekku. Kutumbuk sendiri, kuayak sendiri. Kukemas sendiri, kuedarkan sendiri. Uang hasil karya yang unik, langka tapi ada itu untuk seluruh keluarga. Lambat laun, hari demi hari hingga pergantian tahun “kreatifitas”ku yang tiada taranya itu mencuat ke permukaan. Sudah mulai terkenal, nih….ye…?. Aku tidak mau merasa besar hati begitu saja. Tidak sedikit tamu yang datang berkunjung ke pesanggrahan kami. Ada-ada saja maksud dan tujuan tamu yang bertandang menemui diriku, sebagai pengganda ulang jajanan EMPUT peninggalan nenek moyang, sebuah snack tempo doeloe.

Baru-baru ini ada sekelompok tamu dari sebuah perusahaan bank yang menawarkan permodalan. Untuk tamu yang ini, jujur aku belum bisa menjawabnya dengan lantang.  Apa iya, apa tidak. Bisakah aku mengembalikan modal berikut bunganya dengan lancar ?. Ada juga orang-orang yang sanggup menjadi menejer usaha kami. Bahkan ada yang sudi sebagai bapak angkat perusahaan kami.  Padahal sesungguhnya usahaku itu tak layak disebut perusahaan.

Suatu ketika ada orang yang datang mertamu ke rumah kami dengan wajah sangat penasaran. Menanyakan tentang perusahaan yang aku geluti, katanya. Saya jawab, bahwa saya tidak punya perusahaan. Si tamu itu masih tetap ngeyel : “Home industri…., gitu lho…!” kata tamu mendunungkan.

“Kok besar amat istilahnya” sergahku. “Aku nggak punya industri, Pak !” lanjutku juga dalam rangka mendunungkan persoalan pada si tamu aneh itu.

Sudah merupakan adat di rumah kami, setiap ada tamu, siapapun orangnya pasti kami suguhi makanan/camilan kebanggaan kami, EMPUT JAGUNG. Biarlah orang bilang ora umum.  Itulah cara kami menghormati tetamu, dengan sesuatu yang kami bisa dan punya.

“Lha… ini yang saya cari !” ujar tamu itu spontan.

“Terus tujuan Bapak kesini mau apa” tanyaku

“Ya, mau kulakan EMPUT !” jawabnya tegas meyakinkan. Katanya pula : “Lha ya ini, yang namanya home industri itu”.

“Ah, Bapak terlalu menyanjung kami. Wong ini EMPUT saya deplok sendiri, saya jual sendiri, kok !” balasku. “Monggo,…monggo… disambi, Pak. Lha ini unjukannya, biar nggak sereden”. Serta merta tamu itu menikmatinya dengan penuh penghayatan. Suasana hening beberapa saat. Sebab orang makan EMPUT itu tidak boleh ngobrol. Dan harus tersedia air minum. Demi tamu, aku juga ikut-ikutan ngemil EMPUT bikinanku sendiri. Walaupun toh sebenarnya aku sudah mblenger. Dengan lincahnya  tamu itu makan, minum, makan, minum. Aku juga mengimbanginya. Tak apalah, toh masih enak juga.

“Ya sudah, pokoknya saya kulak dalam jumlah besar” lanjut tamu itu beberapa saat usai ngemu EMPUT. Setelah itu sang tamu pamit pulang.

Garapan ini aku syukuri. Betapapun ribet bila dilakoni. Sebab rintisan awal-awal  kemarin aku masih menggunakan tenaga manual. Bila dapat order besar, apa nggak sempal bahuku hanya untuk menumbuk jagung, belum lagi mengayaknya. Kini prinsip efisien dan efektifitas akan aku terapkan. Dalam dua, tiga hari aku harus mendapatkan mesin giling, untuk melembutkan jagung-jagung yang akan kami ‘perkosa’. Toh di lumbung belakang masih ada  beberapa glangsing gabah, yang bisa aku uangkan untuk beli mesin selep kecil-kecilan.

Lama-lama usahaku membesar. Penikmatnyapun dari tetangga sekitar, hingga kota-kota besar. Tidak jarang orang-orang sekampung sendiri juga banyak yang beli di rumah kami. Rata-rata mereka malas mendeploknya. Apalagi musim penghujan begini, sambil memandang hujan ngriceh lebih nikmat makan EMPUT minum teh.

Dalam waktu beberapa kejap setelah pengadaan mesin giling, EMPUT bikinanku lebih merambah pasar. Di rumah sudah kupasang orang. Sementara aku bagian mengirim ke kota-besar dan metropolitan. Sembari bernostalgia dengan teman-teman di terminalan, kubawakan oleh-oleh EMPUT nyamikan tinggalan nenek moyang. Kini tak jemu-jemunya aku bersyukur kepada Tuhan. Walaupun namaku tidak terkenal, tapi EMPUT panganan alternatif itu cukup menjanjikan. Sebagian kujual di sana.  Produksiku semakin terkenal. Laris manis diserbu banyak orang. Biarlah namaku tidak tenar, asalkan EMPUT-ku terkenal. ( = = = = 2012, Dari Padepokan Sanggar Seni Arsega, Babat-Lamongan)= = =

 

 

 

Biodata Penulis : AHMAD FANANI MOSAH, Pembina Jusnalistik SMP Negeri 3 Babat-Lamongan ini karya jurnalistiknya sudah sering nongol di berbagai media cetak, semisal : Surya, Jawapos, Tabloid Istiqlal, Suara Banten, MPA, Memorandum, dll. Penulis produktif ini kerjabareng dengan para jurnalis ibukota untuk membuat ENSTAIN, Ensiklopedia Tanah Air Indonesia)  

 (E-mail : bung_fanmosah@yahoo.co.id) (Kontak HP : 0857 309 248 76)

0 Responses for “ Cerpen : E M P U T”

Leave a Reply

http://setaprod.blogspot.com

Recently Commented

Recent Entries

Info Persela

setaprod.blogspot.com

Berita Lamongan Jawa Timur Terkini

Diberdayakan oleh Blogger.